11

13.5K 54 0
                                    

Setelah seminggu aku mendapat kesempatan libur oleh guruku, hari ini aku kembali harus masuk sekolah.

"dek, udah siap-siapnya?" tanya Pakde.
"udah mas." jawabku pada Pakde Yono yang menungguku di meja makan.

"Ayo makan dulu, nanti mas anterin kamu ke sekolah." ucap Pakde padaku.

Aku lanjut sarapan, saat makan aku sedikit malu sebab Pakde terus memandangiku.

"Kenapa mas, ada yang aneh dengan wajahku?" tanyaku.
"Ndak, kamu makin cantik. dan berisi." jawab Pakde.

Aku lalu menghabiskan sarapanku, setelah itu Pakde Yono bergegas mengantarkanku. Di luar rumah, kami bersikap selayaknya paman dan keponakan,

Aku harus berjuang mengikuti ketertinggalan ku dengan banyak tugas, untunglah guru dan beberapa temanku membantuku untuk mendapatkan itu semua.

Seharian di sekolah membuatku bekerja keras, sebab terlalu menikmati dan serius di sekolah. Bunyi bel pulang sekolah membuatku terkejut, aku pun segera bersiap-siap memasukan kembali semua barang-barang ku ke dalam tas.

Di depan gerbang sekolah, ku lihat dari kejauhan. Aku melihat Pakde dengan baju kaos serta celana jeans sedang duduk di atas motor, Pakde melambai dari kejauhan padaku.

Aku berjalan mendekat, aku melihat di tangan Pakde sedang ia pegangi cerutu.

"Sejak kapan pakde merokok?" tanyaku sambil melihat tangan Pakde.
"Naiklah, nanti diceritain." jawab Pakde.

Pakde lalu menyalakan motornya, aku memegangi pundak Pakde Yono lalu segera duduk. Perjalanan dari sekolah cukup jauh, aku harus melewati hutan dengan Pakde sebelum sampai di rumah.

Lokasi tempat tinggal kami benar-benar di kampung, biasanya aku akan pergi dengan teman-temanku melewati sawah jalan pintas kami.

"Pegangan dek." ucap Pakde yang memintaku memegangi pinggulnya.

Saat aku ingin memegangi pinggul Pakde, tanpa sengaja Pakde mengambil posisi jalan yang sedang berlubang namun tidak terlalu dalam. Membuatku yang terkejut menjadi salah memegang, yang aku pegangi adalah bagian depan Pakde.

"aduhh, maaf mas." ucapku yang panik.
"ndak masalah dek, mau pegang disitu juga boleh." goda Pakde.

Aku mencubit pinggul Pakde, lalu kembali mengeratkan pelukanku dan menyandarkan tubuhku di punggung Pakde.

Rasa capek yang semula kurasakan menjadi hilang, saat mencium aroma tubuh Pakde Yono. Pakde melambat laju kecepatan motor, agar kami berdua bisa mengobrol.

"Gimana di sekolahnya aman?" tanya Pakde
"Aman mas." jawabku

Aku mendekatkan sedikit kepalaku, agar dapat bercerita.

"Sejak kapan mas merokok?" tanyaku yang penasaran.

"Dulu mas perokok, tapi bukan yang aktif. cuman sesekali aja kalo lagi pengen." jawab Pakde dengan santai.

"Tapi aku dulu jarang lihat mas merokok." sahutku.
"Omongin tentang rokok, dek kamu pengen coba ndak rokoknya mas." ucap Pakde dengan senyuman.

"Ih, aku ndak suka rokok mas." tolak ku secara tegas.

"Bukan rokok itu, tapi rokok ini." Pakde meraih tangan kiri ku yang memeluk pinggul nya lalu meletakkan tepat diatas gundukannya.

"Ihh mas ini." aku langsung meremas saja gundukan Pakde karena kesal.

Pakde Yono tertawa, dia sedang mengerjaiku. Melihatku yang cermberut sesaat Pakde lalu menepikan motornya.

"loh kenapa berhenti mas?" tanyaku yang penasaran.

PAKDEWhere stories live. Discover now