Wawancara Bersama Kesayangan Mika; Mikana, oleh Matt

15.4K 1.6K 665
                                    

#2: Wawancara Bersama Kesayangan Mika; Mikana, oleh Matt (dengan Meminjam Kamera Seth)

Gue gak mau banyak prolog, jadi, begini ceritanya. Seminggu yang lalu, saat gue lagi cuti tahunan jadi pilot, Seth dateng ke rumah gue, membawa kamera digitalnya yang katanya sih, berharga, lalu meminta gue satu hal. Tiba-tiba, Seth ingin gue mewawancarai anaknya Mika, Mikana, tanya-tanyanya ya seputar kita berenam di mata anak itu. Sebenernya, gue gak tau kenapa dia dapet ide kayak gitu. Oh, iya, yang belum tahu Mikana, dia adalah anak dari perkawinan silang antara Mika dan Luna. Anaknya sih baik dan genuinely pintar seperti ibunya (enggak mungkin seperti Mika, tentunya), tapi, gue gak suka karena Mikana hampir sama seperti Mika—kalau enggak nyaman dikit, merengeknya sampai tujuh turunan gak selesai-selesai. Seth tetap memaksa gue untuk melakukan tugas suci ini, karena sejauh ini yang dekat dengan Mikana adalah gue (Karena Juna, Julian, dan Alvaro takut pada Mikana sejak perempuan itu menunjuk-nunjuk ruangan kosong di rumah Alvaro). Maka, hari ini, setelah gue mempersiapkan mental sekuat baja, gue pun pergi ke rumah Mika dan menculik—eh, membawa, Mikana menuju salah satu mall dekat rumahnya.

Gue menyalakan kamera digital dan langsung menyorot Mikana. Perempuan kecil berambut ikal cokelat itu melihat kamera sambil tersenyum lebar, sehingga garis matanya ikut tersenyum. Sisa es krim yang sedang ia santap—bentuk dari 'penyuapan' ala Matt—ada di giginya, dan gue berusaha untuk menahan ketawa karena hal itu.

"Oke, Om mulai, ya," ucap gue tetap mempertahankan kamera menyorot Mikana, karena astaga, bocah itu lebih cepat bergerak dibanding Bary Allen. "Menurut Mikana, temen-temen Ayah Mika gimana?"

Mikana sibuk menjilat es krimnya.

"Mikana?"

Mikana menoleh. "Om, beliin lagi dong, es klimnya yang lasa stobeli."

Sabar, Matt. Sabar. Tenangkan jiwa lo.

"Oh, iya, nanti ya. Jawab pertanyaan Om dulu," gue berusaha tersenyum semanis mungkin seraya memikirkan bahwa ini adalah Tasya, tapi tetep aja, dibanding Tasya, Mikana lebih parah rengekannya. "Jadi, Ayah Mika dan temen-temennya itu gimana? Om Juna, Om Matt, Om Julian, Om Seth, dan Uncle Alvaro?"

Mikana menaikkan alis, kemudian menurunkannya, sambil menatap ke arah gue. "Mereka berisik kayak anak kecil," tanpa kita sadari ngomongnya udah gak cadel lagi. "Mereka suka gangguin Mikana kalo lagi bobok. Mikana pernah nangis gara-gara Om Seth deketin kaki baunya ke mulut Mikana. Om Julian pernah bentak Mikana pas robekin bukunya. Terus, Uncle Alvaro bikin Mikana kesel karena cuma Mikana yang gak dikasih kado. Dan yang paling ngeselin, Om Juna pernah ngelempar bola basket ke kepala Mikana, katanya gak sengaja, tapi kan, Mikana pusing jadinya. Kalo Om Matt," Mikana berpikir sebentar, lalu nyengir. "Om Matt baik, tapi irit ngomongnya, Mikana jadi capek."

Dibanding kebejatan mereka berempat, yah, gue lebih baik. Bayangkan Juna, seorang bapak-bapak kepala empat melempar bola basket ke arah anak kecil tidak berdosa. Setidaknya gue gak sebejat itu.

"Om Matt! Liat itu ada bulung antu!! Fotoin Mikana ama bulung antuuu," ucapnya bersemangat ketika melihat burung hantu yang dipamerkan pada festival di mall ini.

Burung hantu itu ditaro di atas lengan pawangnya. Satu kakinya digembok ke tangan si pawang, biar gak kabur, kayaknya. Sebenernya, yang bikin gue takut adalah mata si burung hantu bener-bener mengintimidasi. Jangan-jangan, dia adalah burung hantu hantu yang bisa membahayakan nyawa Mikana—oke, Matt, sebenernya lo cuma takut, akuin itu, deh.

"Em...," gue melihat sekitar lebih jelas lagi. Semoga ada yang menarik daripada burung hantu, semoga ada—nah! "Mikana mau naik jungkat-jungkit, gak? Itu ada taman bermain di sana."

TRS Universe (0) - Before and After EverythingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang