Part 2

1.3K 135 148
                                    


Tiga minggu kemudian....

Krist segera menjatuhkan test pack di tangannya yang menampilkan dua garis merah, yang memberitahunya bahwa ia hamil. Ia sudah mencurigai hal tersebut sejak beberapa hari yang lalu, saat merasakan mual dan jadwal menstruasinya yang terlambat seminggu dari bulan lalu.

Krist kembali teringat kejadian terkutuk yang dilakukan Kang padanya di hotel, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu menindih tubuhnya, menyentuh bagian privasinya dan mengisi rahimnya dengan madu beracun. Bayangan, aroma sabun, nafas, dan kulit Kang masih menempel di pikirannya, ia tidak akan pernah bisa menghapus atau melupakan semua aib itu sampai kapanpun.

Sejak kejadian itu, Krist menjadi semakin bernafsu dan memaksa Singto untuk bercinta dengannya setiap malam, ia berharap bisa menghapus jejak yang ditinggalkan oleh Kang. Namun bagaimanapun ia mencoba menutupinya, perasaan jijik dan kotor itu selalu merayap keluar dari memorinya dan menggerogoti tubuh dan perasaannya.

Jadi Krist akan selalu menangis seorang diri setiap kali sesi bercintanya dengan Singto berakhir, setelah melihat Singto telah terlelap. Ia akan selalu berbisik pelan di samping Singto, dengan berderai air mata, mengucapkan kata. "Maaf..."

Tubuh Krist gemetaran saat hendak memungut kembali bukti dari perbuatan aibnya dari lantai, namun ia masih menyisakan sebuah harapan bahwa mungkin janin yang ia kandung adalah milik Singto dan bukan Kang.

Kristpun segera menghubungi dokter Kamiya dan membuat janji konsultasi untuk memerikasakan DNA janinnya, ia diam-diam mengambil sperma Singto, memasukkannya dalam tabung untuk mengkonfirmasi apakah janin yang ia kandung adalah milik suaminya dan bukan orang lain.

Dokter Kamiya menatap curiga padanya, ia pun menduga bahwa Krist tidak setia. Namun sebagai dokter ia tidak punya hak bertanya tentang urusan pribadi pasiennya. Dokter Kamiya pun hanya melakukan apa yang di pintakan Krist padanya.

Seminggu kemudian, hasil tes kehamilan dan diagnosa DNA keluar, namun Krist tidak berani membuka dan membaca laporannya di depan dokter Kamiya. Namun sebuah kalimat yang diucapkan dokter Kamiya padanya memberitahunya segalanya, dan menyatakan bahwa ia telah berselingkuh.

"Kupikir kalian adalah pasangan yang sempurna..."

Krist menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, menangisi dunia yang sedang runtuh di sekitarnya, menangisi jam pasir pernikahannya bersama Singto yang sedang dibalik dan tinggal menunggu waktunya berakhir, dan ia menangisi kenyataan yang sedang terjadi padanya.

Krist pun menyetir seorang diri ke sebuah Pub di tengah kota dan memutuskan untuk mabuk dan melupakan masalahnya untuk sejenak. Ia bahkan lupa kalau ia sedang hamil, ia tidak peduli lagi, dan ia akan sangat bersyukur jika pada akhirnya ia mengalami keguguran karena meneguk alcohol.

Namun saat ia akan memasuki Pub, tiba-tiba saja ia melihat seorang anak perempuan yang berusia sekitar 9-10 tahun bersama adik laki-lakinya yang kira-kira berumur 3-4 tahun, berpenampilan lusuh sedang meminta-minta di jalan.

Tiba-tiba saja Krist teringat pada putrinya yang diberi nama Rung yang berarti pelangi, ya Rung adalah keajaiban yang muncul di antara ia dan Singto, pelangi yang muncul setelah hujan.

Krist akhirnya membatalkan niatnya masuk ke dalam pub dan menghampiri anak gadis dan adiknya tersebut.

"Dimana orang tua kalian?" tanyanya pada anak perempuan yang lebih besar tersebut.

"Tidak tahu." Jawabnya singkat, adiknya segera bersembunyi di belakang kakaknya.

"Kenapa kalian meminta-minta di jalan?"

(Bahasa Indonesia) Dark Story of The Dreams (The End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang