Part 3

94.2K 4.4K 33
                                    

Happy reading...

***

Giren sudah berada di rumah sakit 2 hari dan hari ini ia memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ia ingin pulang kemarin namun Fana terus menolak permintaan Giren.

Tapi hari ini Giren bersikeras ingin pulang, mau tak mau Fana harus menurutinya. Lagipula kondisi Giren saat ini sudah membaik, tinggal luka di kepalanya saja yang masih harus tetap menggunakan perban.

"Semuanya udah siap" Tanya Fana.

"Udah bund" Giren tersenyum manis kearah Fana.

Ceklek

Pintu terbuka dan menampakkan pemuda tampan yang memakai stelan jas kerja. Tampaknya pemuda itu baru saja pulang dari kantor.

"Assalamualaikum" Devan menyalimi tangan Fana.

"Waalaikumsalam" Jawab Fana Giren bersamaan.

"Yaudah kita langsung pulang aja, yuk sayang" Giren hanya mengangguk kecil. Fana merangkul Giren dan tas bawaan Giren di ambil alih oleh Devan.

***

"Lo seriusan si cabe itu amnesia" Tanya Ovan heboh.

LOVANDER GAZAN HERLAS adalah anggota inti dari geng FEGOZY. Ovan juga salah satu most wanted di sekolah. Ia memiliki sifat yang ceria, dan heboh. Walau sifatnya yang selalu membuat semua orang terhibur, namun terkadang juga kata kata yang di lontarkannya seperti omongan tetangga, pedas dan menyakitkan.

"Hm" Yezran hanya menjawab dengan acuh.

"Paling juga pura pura, dia kan emang suka caper" Sahut Reno.

ALYORENO FAZRAN JAYLEN juga anggota inti geng FEGOZY. Dia biasa di juluki dengan sebutan 'RaPaWan' atau lebih tepatnya Raja Pawang Wanita. Ia di juluki seperti itu karena statusnya yang memiliki banyak pacar.

"Kita juga mikirnya gitu dari awal." Ucap Yezril membenarkan.

"Menurut lo gimana Jer" Pertanyaan Ovan membuat semuanya kini menatap Jerome, menunggu jawaban dari sang empuh.

Namun Jerome hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Seakan tak perduli dengan apa yang mereka bicarakan.

JEROME SABASTIN ABRAH adalah salah satu cowo most wanted, ia juga merupakan ketua dari geng motor FEGOZY. Sifatnya yang cuek dan kejam yang membuat para cewe cewe sangat takut. Namun tak bisa di pungkiri, banyak juga yang berani menyatakan cintanya secara terang terangan. Padahal semua orang tau, jika ada yang berani mengusik Jerome itu akan berakibat fatal.

Seorang gadis baru saja datang bersama temannya, ia tampak tersenyum bahagia. "Hai kak Jer" Sapa gadis itu.

Jerome membalikkan arah pandangannya pada gadis itu. "Duduk" Gadis itu dengan senang hati duduk di samping Jerome dengan senyum yang terus mengembang.

Gadis itu adalah MIRANDA HAFZA ZAID dan temannya AZAREL ANASTASYA HAZAR. Miranda adalah salah satu siswi yang selalu menjadi target bully Giren dkk. Motif Giren membully Miranda karena ia tidak suka Miranda selalu menempel pada Jerome. Perlu di ketahui, sejauh ini hanya Miranda lah yang berhasil mendekati Jerome. Dan Aza notabennya teman dekat Miranda juga ikut terkena bully karena selalu membela Miranda.

"Mau makan apa neng Mira nanti bang Ovan pesenin" Sahut Ovan menaik turunkan alisnya pada Miranda.

"Gausah kak, Mira bisa beli sendiri"

"Gapapa, cepet mau pesen apa" Ucap Ovan memaksa.

"Umm yaudah Mira mau nasi goreng sama jus melon aja"

"Lo Za mau pesen apa, biar sekalian gue pesenin" Ovan beralih bertanya pada Azarel yang duduk di samping Miranda.

"Samain aja kak" Ovan mengangguk lalu segera pergi dari sana untuk memesan.

***

Giren telah sampai di mansion keluarga Caksara. Sedari tadi Giren sudah berkali kali mengucapkan kata 'Waw' selama di perjalanan sampai di depan pintu mension. Anggap saja ini wajar karena dulu saat Mezya di tubuh aslinya ia tidak pernah melihat hal hal yang ada di kota seperti ini. Apalagi mobil, dan mansion yang sangat mewah seperti di hadapannya sekarang.

"Waww ini rumah atau istana, besar banget. Ini kalau aku ngajak satu kampung nginep muat kali ya" Batin Giren takjub

"Giren kok masih di situ, ayo masuk" Panggil Fana yang menyadari anaknya masih saja berdiri tegak di tempatnya.

"Ah iya bund"

Bukannya langsung masuk, Giren malah ingin melepas sepatunya di depan pintu. Fana yang melihat itu pun menegur Giren.

"Giren kok sepatunya di lepas"

"Umm kalau gak di lepas nanti lantainya kotor karna sepatu aku" Mimik wajah polos Giren membuat Fana gemes melihatnya.

"Yaampun sayang, di mension ini banyak maid yang bisa bersihin lantainya kalau kotor. Jadi sekarang sepatunya di pake lagi"

Giren mengangguk bodoh. Bisa bisanya Giren lupa kalau sekarang ia adalah anak orang kaya.

Giren melangkahkan kakinya memasuki mension. Giren sedari tadi sudah menengok ke sepenjuru rumah, menatap semua sudut rumah tanpa terkecuali. Ia semakin takjub melihat isi mansion yang sekarang ia tempati.

"Benar benar istana" gumam Giren.

Fana meletakkan tasnya di sofa ruang tamu lalu berbalik ke arah Giren. "Ayo sayang bunda anterin ke kamar kamu" Giren tersenyum lalu mengangguk.

Kini mereka sudah sampai di lantai 2, tepatnya di depan pintu kamar Giren. "Nah ini kamar kamu, sekarang kamu masuk, istirahat" Ucap Fana lalu meninggalkan Giren.

Giren membuka pintu kamar itu perlahan. Tampaklah ruangan yang cukup luas dengan desain minimalis. Giren melangkahkan kakinya memasuki kamarnya. Giren merasa takjub melihat kamar itu.

"Waww besar banget, rumah aku aja gak sebesar kamar ini"

Giren kini beralih menatap kasur queen size-nya. "Wahh luas banget kasurnya"

"Ihh empuk" Serunya ketika menduduki kasur itu. Dengan sadar ia berdiri di tengah tengah kasur dan melompat kegirangan.

Kini ia membanting tubuhnya ke kasur akibat kelelahan melompat lompat. "Mimpi apa aku sampai bisa hidup semewah ini" Perlahan-lahan Giren menurut matanya.

Bersambung...

My Twilight Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang