Part 18

70.2K 3.5K 11
                                    

Happy reading...

***

Giren berdiri membersihkan bajunya yang sedikit kotor akibat terbaring di tanah tadi "Bukannya tadi aku di kamar ya"

Giren menatap setiap tempat yang ada di hutan itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi dan suara jangkrik.

Tiba tiba Giren teringat sesuatu. "Liontinnya" Giren melihat tangannya, beralih merogoh saku celananya dan leher.

"Huhh untung gak ilang" Giren merasa sedikit lega karna liontin itu masih di lehernya. Yang sekarang ia fikirkan adalah mengapa ia bisa sampai di hutan.

Ia kembali mencoba mengingat sesuatu. "Tunggu, tadi kan aku di kamar terus ada cahaya muncul dari liontin ini-" Giren memegang liontin itu menatapnya lekat.

Giren membulatkan matanya. "Jangan jangan liontin ini yang bawa aku sampai sini"

Karna takut Giren buru buru mencopot liontin itu dari lehernya. Namun kalung itu tak bisa ia lepaskan. Segala cara sudah Giren lakukan tapi sepertinya liontin itu memang tak mau di lepas.

Giren sudah lelah, ia menjatuhkan dirinya di bawah pohon beringin besar. Ia sekarang sangat bingung bagaimana caranya kembali. Giren menyandarkan kepalanya ke batang pohon beringin itu berniat mengistirahatkan badannya. Namun ia malah di kejutkan oleh pohon beringin itu tiba tiba bergetar. Giren berdiri takut tertimpa, tapi bukannya roboh semak semak dan pohon pohon lainnya di sekitar pohon beringin itu bergeser tergantikan oleh sebuah bangunan besar dan mewah.

Giren mundur beberapa langkah menatap tak percaya kejadian yang di depan matanya sekarang.

"I-ini" Giren menutup mulutnya tak percaya.

Seorang pria tinggi dengan badan kekar keluar dari gerbang bangunan itu menuju padanya.

Giren semakin memundurkan langkahnya takut. Pria itu semakin dekat, Giren membalikkan dan lari sekuat yang ia bisa.

***

Suara panggilan seseorang terdengar.

"Giren"

"Pergi, jangan mendekat" Ujar Giren.

"Giren" Suara itu kembali muncul.

Giren membuka matanya bangun dari tidur dan langsung terduduk. Deru nafasnya begitu cepat membuatnya kesulitan bernafas normal. Keningnya penuh dengan keringat, bibirnya berubah menjadi pucat.

"Cuman mimpi" Gumamnya, tak ada siapa pun yang mendengarnya karna saking kecilnya

"Hei anak ayah kenapa hm" Riberto mendekat menyingkirkan rambut di kening Giren yang menghalangi.

Giren memeluk Riberto menangis di pelukannya. Riberto dengan senang hati membalas pelukannya. Riberto mengeluh surai rambut Giren mencoba menenangkannya.

"Princess ayah kenapa tadi kok bisa pingsan" Giren hanya menggeleng kecil di dalam pelukan Riberto.

Fana yang duduk di samping Riberto ikut mengelus punggung Giren. "Iren kenapa sayang ngomong sama bunda sama ayah"

Giren melepas pelukannya dari Riberto, memperbaiki duduknya menghadap Riberto dan Fana.

"Iren gapapa kok, mungkin tadi cuman kecapean aja"

Riberto menghela nafas mengambil tangan Giren dan menaruhnya di tangannya. "Iren kalau cape istirahat. Ayah sama bunda gak mau kamu sakit lagi"

Giren tersenyum hangat, ia merentangkan tangan lalu memeluk Riberto dan Fana. "Iren sayang ayah sama bunda" Ucap Giren dalam pelukan.

Riberto dan Fana saling pandang dan tersenyum bersama. "Ayah sama bunda juga sayang Iren" Balas Riberto dan Fana serempak.

Seseorang dari luar pintu mengintip. Orang itu adalah Devan, ia tersenyum tipis melihat adegan mengharukan itu. Merasa cukup melihat, Devan melangkah pergi dari sana menuju kamarnya.

***

Giren berjalan menuruni tangga melihat anak Fegozy sedang berkumpul di ruang tamu. Giren tampak sudah sangat rapih dengan celana kulot jeans warna biru, tanktop hitam yang di tutupi oleh jaket jeans warna biru, tak lupa juga dengan rambut yang di gerai dan sedikit gelombang si bagian ujungnya.

"Kemana" Tanya Yezril membuat semua inti Fegozy ikut menoleh ke atas Giren.

Giren tetap berjalan tak memperdulikan pertanyaan yuzril. "Pasti mau jual diri kan lo" Seru Yezran membuat langkah Giren terhenti.

Giren membalikkan badannya maju mendekati Yezran. "Bukan urusan lo" Giren menepuk nepuk pundak Yezran membuat sang empuh menggeram kesal.

Semua menatap kepergian Giren dengan tatapan tercengang. Sifat gadis itu sangat berubah sekarang.

"Itu Giren bukan sih" Sahut Reno masih menatap pintu yang semula masih menampakkan Giren.

"Giren udah kayak bunglon, sebelum amnesia sifatnya gatel kayak jalang, pas amnesia kayak orang polos gak tau apa apa, sekarang kenapa jadi barbar gitu" Ucap Oven juga ikut keheranan.

"Lo udah berubah dek, tapi gue suka perubahan lo karna gak ngejar ngejar Jerome lagi" Batin Yezril termenung.

***

Giren dalam perjalanan ke supermarket. Jarak rumahnya dengan supermarket tak terlalu jauh jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki. Lagipula jalan juga tak begitu sepi, jadi Giren tak terlalu takut pergi sendiri.

Giren membuka pintu supermarket dan mulai menjelajahi setiap rak-rak mencari barang yang ia ingin beli. Rak pertama yang pertama kali Giren kunjungi adalah rak cemilan. Giren mengambil beberapa cemilan menaruhnya di keranjang yang ia ambil tadi di dekat pintu masuk.

Iya kan kembali berjalan mencari rak kosmetik. Tadi ia melihat handbody nya sudah habis jadi ia memutuskan untuk membeli yang baru. Selama beberapa hari di tubuh Giren ia mulai mengetahui sedikit demi sedikit hal-hal tentang Giren melalui diary dan beberapa hal lain.

Setelah mengambil handbody Giren jalan menuju kasir tapi langkanya kembali berhenti karena mengingat ia belum membeli minuman. Giren kembali berbalik berjalan menuju tempat yang seharusnya minuman diletakkan. Giren berjalan menyusuri beberapa kulkas mencari minuman apa yang akan ia beli.

Namun saat masih melihat-lihat Giren tanpa sengaja menabrak seseorang. Sontak ia langsung meminta maaf.

"Eh maaf saya gak sengaja" Ucap Giren sopan.

Orang yang Giren tabrak bukannya marah ataupun membalas permintaan maaf Giren malah menatap Giren dengan tatapan yang sulit diartikan. Lebih tepatnya orang itu menatap liontin yang di leher Giren.

Tak mendengar respon dari orang itu, Giren berjalan kembali mencari barang yang ia cari.

Lain dengan orang itu yang terus menatap kepergian Giren dengan ekspresi terkejut.

"Ternyata benar yang di katakan ramalan itu"

Bersambung...

Sesuai janji el udah up dua part di malam minggu ini, malamnya para remaja WKWKW.

Katanya malam para remaja tapi beda sama el, sekarang aja ini lagi rebahan padahal yang lain udah  meluncur ke pasar malam.

Hahaha tapi gapapa, lagian kan bahagianya seseorang gak harus keluar healing. Baca wp/novel aja menurut el udah healing paling bagus.

Ehh jadi curhat hihihihi:>

Have fun for those of you who are healing with your family or girlfriends.

See you gayss, salam cinta dari el😗♥️

My Twilight Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang