Part 22

65.9K 3.1K 9
                                    

Hello, el is back

Kali ini el upnya sore, soalnya kalau malam takut lupa apalagi el kurang enak badan jadi takutnya nanti ketiduran.

Sorry karna minggu ini el gak post di hari biasa. Akhir akhir ini tugas el numpuk jadi gak ada waktu buat lanjut.

Sebelum lanjut baca klik tombol bintang di pojok bawah ya.

♣♠♣

Happy reading...

***

Kini abizer sedang berjalan sendiri berniat untuk membolos. Tujuan utamanya saat ini adalah rooftop. Namun saat berada di tangga yang mengarah ke rooftop samar-samar ia mendengar suara jeritan dari seseorang.

Abizer mendekatkan telinganya ke pintu rooftop namun sekarang ia tak mendengarkan apapun. Karena penasaran abizer memutuskan untuk masuk dan mengecek.

Namun herannya, saat memutar gagang pintu rooftop itu pintunya terkunci. Abizer mengerutkan keningnya, pasalnya tak biasanya pintu rooftop terkunci.

"Siapa di sana, buka" Ucap Abizer sedikit berteriak sambil menggedor-gedor pintu rooftop. Namun tak ada sahutan dari siapa siapa.

Abizer kembali mengetuk-ngetuk pintu rooftop itu berharap ada yang membukanya. Tapi nihil pintu itu tetap saja tidak terbuka dengan terpaksa Abizer mendobrak pintu rooftop itu.

Pintu itu terbuka lebar dan tentu saja rusak. Mata Abizer menjelajahi setiap sudut ruangan. Matanya langsung tertuju pada seorang gadis di tepi rooftop yang sedang berjongkok menutupi wajahnya seperti orang ketakutan.

"Khem" Dehem Abizer setengah sampai di depan gadis itu.

Gadis itu menggeser tangannya perlahan-lahan memperlihatkan wajahnya.

Ternyata dugaan abidzar benar gadis itu adalah Giren.

"A-abizer" mata Giren sudah hampir menitihkan air mata.

Giren bangkit dari duduknya, langsung berhambur ke pelukan Abizer. Karena tak siap Abizer hampir saja terjatuh karna serangan mendadak dari Giren.

Awalnya Abizer tak membalas pelukan Giren namun sesaat kemudian ia mendengar suara isakan membuat tangannya tergerak untuk membalas pelukan Giren.

"Uusss udah jangan nangis" Bukannya berhenti Giren malah semakin terisak.

Mungkin Giren masih syok dengan kejadian yang terjadi tadi jadi masih sangat emosional.

Abizer membawa Giren duduk di sofa yang ada di rooftop. Tentu dengan Giren yang masih setia di dalam pelukan Abizer.

"Kenapa hm" Ucap Abizer lembut merapihkan anak rambut Giren yang menghalangi wajahnya.

Bluss

Pipi Giren memerah saat Abizer menyentuh wajahnya. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Giren langsung saja menunduk malu.

"Gue kenapa, masa iya gitu doang baper" Batin Giren.

"Jangan nunduk di depan gue" Ucap Abizer membuat Giren semakin degdegan.

"Gue tanya sekali lagi. Lo kenapa?"

Giren bingung harus menjawab apa. "Gak mungkin gue bilang kalau Miranda mau celakain gue tadi" Batin Giren

My Twilight Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang