Part 57

10.8K 737 55
                                    

Happy reading...

***

Giren sudah dipindahkan ke ruang rawat karena kondisinya sudah lebih baik. Giren terus menatap pintu seolah menunggu seseorang. Tapi sudah 1 jam lebih namun orang yang ia tunggu tidak muncul juga.

Giren menghela nafas, ia rasa orang yang ia tunggu tidak akan datang.

Giren menoleh ke arah Fana yang sudah tertidur pulas di sofa. "Apa yang bunda sembunyiin dari aku sebenarnya," Gumamnya menatap Fana.

Flashback on

Ceklek!

Fana masuk lalu berjalan mendekati Giren.

"Bagaimana keadaan kamu sekarang hm? Udah enakan?" Tanya Fana sembari mengelus surai rambut Giren.

Giren mengangguk sambil tersenyum kepada Fana.

"Alhamdulillah."

"Ayah gimana?" Tanya Giren.

"Ayah gapapa, ayah udah sadar dan abang kamu-"

"Abang? Abang kenapa?"

"Yezran-"

"Abang kenapa bund?"

"Waktu abang kamu jaga diluar saat acara tadi, dia diserang. Abang kamu di tusuk."

"Ko-kok bisa?!"

"Gapapa, dia udah siuman kok. Cuman untuk saat ini Yezran masih harus di rawat."

Giren merasa kasihan melihat kondisi Fana saat ini. Terjadi kerusuhan di depan matanya dan itu mengakibatkan suami dan kedua anaknya harus tumbang.

"Abizer mana?" Tanyanya.

Fana memalingkan wajahnya saat mendengar nama Abizer. "Sekarang kamu istirahat, udah tengah malam. Mau cepat sembuh kan?" Fana menarik selimut Giren lalu menutupi tubuhnya.

Fana mengecup kening Giren lalu hendak melangkah kearah sofa. Namun baru satu langkah, tangannya di tahan.

"Bunda!" Panggil Giren.

Fana kembali berbalik menatap tangannya yang di genggam oleh Giren. Ia kemudian mendongak kembali menatap Giren.

"Bunda gak lagi nutupin sesuatu kan dari aku?!"

Fana tertegun mendengar pertanyaan Giren. Ia tidak tau harus menjawab apa. Harus kan ia berbohong, atau haruskah ia jujur. Tapi jujur sekarang akan membuat semua yang ia lakukan hancur, dan ia tidak ingin putrinya kembali terluka.

"Emangnya tampang bunda kayak lagi nutupin sesuatu?"

Giren terus menatap mata Fana seolah mencari sesuatu di dalam matanya.

Fana tersenyum lalu mengeluh surai rambut Giren. "Istirahat, udah malam!" Giren mengangguk kecil lalu menutup matanya.

"Good night kesayangannya bunda." Setelah memastikan Giren tidur, ia pun berjalan kearah sofa lalu merebahkan tubuhnya.

Ia menoleh kearah Giren. "Maafin bunda nak, maafin bunda."

Flashback off

***

Abizer mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata di bawah rintih hujan. Ia tak perduli bagaimana hujan menghalangi pandangannya, ia terus melaju tanpa memperdulikan kesempatannya.

My Twilight Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang