Usia Ersanggono sudah hampir lima puluh tahun. Ini adalah tahun keduanya memimpin sekolah khusus pria bertajuk Tunas Harapan Bangsa. Meski sudah nyaris setengah abad, dia belum kehilangan karisma kepemimpinannya. Sebaliknya, pria itu tampak semakin matang. Sudah dua puluh tahun lebih mengajar, baru kali ini dia dipaksa mengambil sebuah keputusan yang membuat wajahnya menua dalam semalam.
"Pak Deehan nggak setuju?" tanyanya dengan dahi mengernyit.
"Saya bukannya tidak setuju bahwa dua siswa itu sudah bertindak asusila. Akan tetapi, apakah mereka tidak berhak atas kesempatan kedua? Rio Jiwa Ariya ini anak yang tidak pernah bikin masalah. Apalagi Mikaela. Baru tahun ini dia pindah kemari. Menurut saya, hukuman berat sudah lebih dari cukup."
Suasana hening mulai gemuruh. Tiga puluh lebih staf pengajar mulai saling lempar opini secara bersamaan. Bersahut-sahutan. Ruang rapat yang sakral dan senyap menjadi hiruk-pikuk.
Seorang peserta rapat mengacungkan tangan, meminta haknya untuk bicara. Ersanggono selaku pimpinan rapat merangkap moderator meminta semua peserta tenang.
"Pak Deehan tentu tidak lupa bahwa sekolah ini adalah sekolah pria. Sebaliknya, apakah bijaksana jika kita tidak menindak tegas penyimpangan seksual semacam ini? Selain itu, seluruh sekolah sudah gempar. Kalau orang tua murid sampai mendengar, dan menganggap tindakan kita kurang berani, apa jadinya reputasi sekolah ini nanti?"
"Saya hanya ingin siswa lain tahu, bahwa mereka tidak dihukum karena mereka menyukai sesama jenis, melainkan karena mereka sudah melanggar batas-batas yang tidak semestinya dilakukan di lingkungan sekolah—atau di mana pun. Mengingat mereka masih di bawah umur."
"Kalau ini sekolah campuran dan dua orang siswa lawan jenis Bapak temukan sedang bermesraan di dalam kamar mandi, apakah Bapak akan bicara mengenai orientasi seksual mereka? Pada kenyataannya, mereka melakukan tindak asusila."
"Apakah mereka akan dikeluarkan juga jika mereka anak lelaki dan perempuan?"
"Tentu saja!"
"Apakah di surat pemecatan mereka Bapak akan mencantumkan praktik heteroseksual?"
"Sebenarnya yang Bapak persoalkan mengenai surat pemecatan atau tindakan tegas kita mengeluarkan mereka?"
Deehan berdeham, mengatasi perasaan gugup karena merasa dipojokkan. Setelah mengambil jeda beberapa saat, dia memantapkan hati untuk melanjutkan. "Sebelumnya, saya belum terlalu yakin apakah Rio dan Mikaela MEMANG melakukan tindakan seperti yang dituduhkan pada mereka. Semua siswa mandi bersama. Bilik pancuran mereka tidak memiliki sekat, bak mandi mereka pun ukurannya besar, cukup untuk mandi bersama 15-20 orang dalam satu ruangan.
"Sementara, kita hanya mendengar keterangan dari satu pihak. Pihak yang kita percayai keterangannya adalah pihak yang jelas terbukti melakukan pelanggaran, yaitu melakukan tindakan main hakim sendiri. Kalau saat itu tidak ada orang yang menghentikan mereka, mungkin saat ini kita sudah punya daftar siswa yang masuk penjara anak-anak.
"Sedangkan, tidak satu pun dari kita mau memercayai keterangan Rio dan Mikaela. Mungkin mereka memang homoseks, tapi apakah itu berarti mereka memang berbuat seperti yang dituduhkan?"
"Mereka mengaku," celetuk seseorang, entah siapa.
"Sepanjang pengetahuan saya mendampingi interogasi Pak Ersang, mereka tidak mengaku. Mereka menunduk malu karena sebelumnya sudah ditekan sedemikian rupa. Kita sudah duluan menghakimi, tanpa mengadili."
"Jadi Pak Deehan keberatan?" Seseorang yang lain bersuara di antara kerumunan.
"Bukankah jelas saya keberatan?" Deehan menantang. Suaranya mulai lantang, dikuasai keberanian. "Kalau kita memulangkan mereka, seharusnya orang tua murid merasa cemas. Kenapa? Karena guru-guru di Tunas Harapan Bangsa hanya bisa memulangkan putra didik mereka yang melanggar peraturan. Kita tidak berfungsi maksimal."
"Tapi Deehan ...." Ersanggono menyela. "Kalau kita tidak bertindak tegas, mungkin tidak akan ada efek jera untuk siswa lain."
"Bapak percaya ada anak homoseks lain di sekolah ini?" Deehan tidak sungkan-sungkan lagi.
Ersanggono menghela napas.
"Berapa banyak? 20? 30? Sepersepuluh dari keseluruhan siswa? Seperempat? Sebanyak itu pula yang akan kita keluarkan kalau mereka merasa diperlakukan tidak adil?"
"Tapi mereka tidak melakukan tindakan asusila, Deehan." Ersanggono mengingatkan. "Tidak melakukan praktik homoseksual!"
Mulut Deehan bungkam seketika.
"Ada kata praktik di depan kata homoseksual," ujar Ersanggono lagi. "Kita, secara teknis, tidak semata-mata mengeluarkan Rio dan Mikaela karena mereka homoseks. Jangan salah pengertian."
"Kalau begitu, kita harus membuktikannya dulu, apakah benar mereka melakukan tindakan asusila itu. Apakah benar, atau sebuah tuduhan membabi buta."
"Bagaimana cara membuktikannya?"
"Tepat sekali!" sahut Deehan, begitu mendengar seseorang menyeletuk. "Kita nggak punya bukti. Kalau kasus ini dibawa ke kantor polisi, kemudian mereka berdua divisum, buktinya justru melemahkan anak-anak yang main hakim sendiri. Seharusnya kita bisa melihat, yang mana yang tindak kriminal, yang mana tindakan manusiawi, meski tidak bisa dibenarkan karena mereka masih anak-anak. Seharusnya kita menggembleng mereka agar mengerti.
"Lalu bagaimana kalau orang tua dua orang anak ini tidak terima? Kalau saya yang jadi orang tua dua orang anak ini, saya akan melapor. Bagaimana kalau mereka melapor?"
"Kita akan bikin surat pernyataan di atas materai supaya mereka bersedia menyelesaikan masalah secara kekeluargaan." Ersanggono menjawab cepat. "Kita juga akan menghukum setimpal anak-anak yang terlibat pengeroyokan."
Pada akhirnya, Deehan hanya mampu menggertakkan rahang demi menahan berderet kalimat bantahan melompat keluar dari mulutnya. Dia sudah terlanjur putus asa. Rapat dilanjutkan nyaris tanpa melibatkannya, sebab setiap kali ditanyai, Deehan memilih diam.
Hanya satu hal yang membayangi benaknya kali ini, yaitu menyusun surat pengunduran diri. Deehan merasa tidak sanggup mengkhianati hati nurani.
ANDA SEDANG MEMBACA
90 Days
Fiksyen UmumDeehan Ishamel, guru sekolah khusus pria yang mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa tidak bisa melindungi seorang siswa harus menghabiskan 90 hari terakhirnya mendampingi Luthfi Mahendra Boaz, guru pengganti yang sangat kritis, berambisi...
Wattpad Original
Terdapat 14 lagi bahagian percuma
