🌈part 9🌈

1.9K 125 11
                                        

Sebelum baca jangan lupa vote terlebih dahulu demi kenyanan bersama kalau udah lanjut

~Happy Reading~

---

"DIDIT!! Kamu kembalikan tas aku, ih, cepetan!" teriak Anara lantang, suaranya mengisi kelas yang ramai.

"Ciee, aku kamu, khem-khem..." balas Didit dengan nada ejekan, membuat teman-temannya di sekitar tertawa. Didit memang dikenal sebagai teman sekelas yang suka iseng, terutama terhadap Anara yang jadi korban julidannya kali ini.

"Didit, gak usah bercanda deh, balikin!" pinta Anara dengan nada serius, wajahnya mulai memerah.

"Kalau gue gak mau gimana?" tanya Didit dengan penuh tantangan. Anara pun menoleh ke arah Allan yang sedang asyik membaca buku.

"Lann, bantuin dong, bilangin ke Didit, "pinta Anara dengan wajah memohon, berharap Allan mau ikut campur. Namun, Allan malah tetap dengan posisi cuek, seperti tak peduli dengan keributan di sekitarnya.

"Lann, kok diem sih? Ayo bantuin!" Anara terus menggoyang-goyangkan lengan Allan, berharap bisa menarik perhatiannya.

"Gak, bukan urusan gue," jawab Allan singkat, dengan nada datar yang penuh penekanan.

"Jahat banget sih, sama calon pacar," Anara mendengus kesal, lalu beranjak pergi ke tempat teman-temannya duduk.

"Dita, Risa, Jennie, bantuin dong!" teriak Anara lagi, meminta bantuan teman-temannya.

"Ashyappp!" jawab mereka kompak, segera berlari mengepung Didit yang mulai kelihatan kesal.

"Awas lo, Dit! Ra kanan, gue kiri, Jennie belakang, Dita lo depan!" kata Risa dengan semangat, siap untuk menghadapi Didit.

"Siap boss!" sahut mereka kompak, menyiapkan strategi serangan.

"Wleee, gak bisa nangkep kan? Huaa, gak usah belagu deh kalian, braninya ngeborong," ejek Didit dengan senyum nakal.

"Gak usah bacot!" Jennie merasa geram dan langsung menyerang Didit.

Mereka pun menyerang Didit, memukul dan mengepungnya. Didit yang merasa terpojok mulai melawan, namun tenaga yang dia miliki jauh lebih besar dibandingkan empat gadis tersebut.

"Ih, Didit, kok kabur sih?" Anara mengerutkan bibirnya, melihat Didit berlari cepat.

"Emang enak gak bisa nangkep kan? Ayo naik, sini kalau berani," ejek Didit sambil melompat ke atas meja yang ditumpuk hingga tinggi.

"Awas lo, gue naik!" balas Anara, tak mau kalah. Ia pun bergegas mengikuti Didit yang melompat.

"Ra, awas!" teriak Dita, Risa, dan Jennie kompak, takut Anara terjatuh.

Tiba-tiba, tumpukan kursi yang diinjak Anara goyah dan oleng, membuatnya hampir terjatuh.

"Aaa... gue masih hidup kan?" Anara membuka matanya pelan, merasa ketakutan.

Namun, sebelum dia terjatuh, Allan yang melihat dengan cepat menahan Anara. Tangan kanan Allan berada di punggung Anara, sementara tangan kirinya di pinggang Anara, membuat mata mereka bertemu.

"Mimpi apa gue semalam bisa dipeluk kayak gini? Ih, baper!" batin Anara dalam hati, wajahnya memerah.

Accieee, peluk-pelukan nih sekarang!" ujar Wahyu, Satria, dan Vino bersamaan, membuat suasana makin ramai.

Namun, Allan dengan refleks mendorong tubuh Anara agar tidak jatuh. Akibatnya, bokong Anara mendarat kasar di lantai.

"Buaaahhahaha!" tawa mereka pecah melihat wajah Anara yang memerah, antara baper, kesal, dan malu.

Anara Story (END) Où les histoires vivent. Découvrez maintenant