20 The Death

212K 8.4K 446
                                    

...

...

...

...

...

[Sebagian dihapus - dalam proses penerbitan^^]  


Cherisha yang baru sampai di depan ruang ICU memperhatikan apa yang Randi lakukan dari balik kaca pintu ruang ICU. Di dekatnya ada sepasang suami istri yang sepertinya adalah kedua orang tua anak itu, melihat ke dalam dengan cemas dan berlinang airmata. Matanya mulai berkaca-kaca saat Randi memberi kejut listrik yang sepertinya tidak menghasilkan apa-apa. Garis lurus sudah terpampang di alat Bed Side Monitor.

Kedua orangtua anak itu pun sudah terlihat pasrah. Sang Ibu merosot ke lantai dan menangis tersedu-sedu. Suaminya pun terduduk di sebelahnya dan memeluk istrinya dengan erat. Matanya juga terus mengalirkan airmata tak henti-hentinya.

Cherisha kembali melihat ke dalam ruang ICU. Randi akhirnya berhenti melakukan kompresi, matanya basah dan merah. Ia turun dari atas tempat tidur dan berjalan gontai ke arah pintu ICU.

Mata Cherisha tidak lepas dari memperhatikan Randi. Bagaimana dokter itu mengucapkan kata maaf dan berbela sungkawa pada kedua orangtua pasien, lalu ia berjalan pergi dari sana dengan langkah gontai. Randi terlihat begitu tak bernyawa. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Cherisha disana.

Cherisha mengikuti Randi di belakangnya, sampai Randi berhenti di taman rumah sakit. Laki-laki itu bahkan tidak menghiraukan jika disana banyak bunga yang menyebabkannya alergi dan duduk di salah satu bangku taman.

Cherisha pun duduk di sebelahnya dan menyentuh punggungnya lembut.

"Padahal ini bukan pertama kalinya ada pasienku yang meninggal. Tapi tetap saja rasanya sesakit ini..."ucap Randi dengan suara bergetar.

Cherisha mengusap-usap lembut punggung Randi, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Randi.

"Aku... aku janji akan sembuhin dia... Bodoh ya? nggak seharusnya aku menjanjikan sesuatu yang nggak mungkin aku bisa penuhi. Padahal aku bukan Tuhan..."

Randi kini memandang Cherisha dengan wajah basah. "Umurnya baru 8 tahun... dia masih begitu kecil..."Kemudian Randi terisak keras. Airmata Cherisha jatuh, ia lalu menarik Randi ke dalam pelukannya. Ia terus mengusap-usap punggung Randi dengan lembut.

Randi melesakkan wajahnya di leher Cherisha dan memeluk tubuh kecil wanita itu dengan erat. Berusaha mencari kenyamanan disana. Berharap dengan begitu, rasa sedihnya bisa sedikit berkurang. Berharap, jika ia tidak akan kehilangan lagi wanita di pelukannya ini.

~TBC~

 

Remember UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang