Hi guys! This is me @jdm_jdm, but I didn't get my account back, so here I am.
I am rewriting my stories "Jeff" and "Jeff (II)" and put it into one book.
HELLO OLD READERS??? I AM STILL HERE.
Description:
Saat bertemu dia, aku masih lugu. Tidak tau a...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aku baru pulang dari rutinitas olahraga pagiku di gym. I like it much more simpler now, kadang-kadang aku jogging, dan sedikit olahraga cardio atau beban. Sesudah melepas jaketku dan menaruhnya di tempat baju kotor, aku malah mendapati suamiku yang lagi asik dengan sarapan yang sedang dia buat.
"Stop treating me like this," ucapku, mencium lengannya.
"What? Like a queen?"
Aku memutar bola mataku.
"Aku suka masak, especially cook for you."
"Do you not like my cook?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"I love your food, I love you. I just want to treat my husband with the food that I love to make."
"Alright, I'm sorry."
Jeffrey melepas tangannya dari spatula yang dipegangnya.
"You want to continue where I left?"
"Of course," jawabku memandang isi wajan. Dia sedang membuat omelette. "Since you like eggs that much, rather than simple omelette, how about cheese, tomato and bacon frittata?"
"That'll be wonderful."
Aku dan Jeffrey sedang berada di sebuah hotel private di Maldives. Yep, kita memang lagi berbulan madu. Aku cuti 3 minggu, cukup bagi kita berdua untuk pergi ke Swiss, Maldives, Korea dan Afrika Selatan. Kota yang dingin, hangat, sejuk, dan sangat panas. Kalau bisa, maunya sih keliling dunia. Tapi waktu kita terbatas. We'll do it next time.
Honeymoon kita ini nggak instan setelah pernikahan. Satu hati setelah menikah, aku membuat kesepakatan dengan Jeffrey, bahwa aku akan melakukan upgrade untuk bisnisku. Aku mencari beberapa investor yang serius, memberikan yang terbaik dari yang terbaik, mencari dan membuat banyak lapangan kerja, hingga akhirnya restoranku berubah menjadi perusahaan yang memiliki distributor pangannya sendiri. Beruntung bagiku, semuanya sudah kusiapkan sejak dulu kala, dan setelah menikah, aku sudah bisa meraih keuntungan dari beberapa cabang yang aku miliki di tempat-tempat perbelanjaan dan umum. Aku menghabiskan waktu 5 bulan untuk sisanya, hingga aku bisa menjadi direktur yang memiliki beberapa orang yang bisa membantuku tanpa harus ku supervisi.
5 bulan hingga setengah tahun Jeffrey sabar menungguku dengan perasaan yang bangga dan penuh dengan dukungan yang menggebu-gebu. I am so happy to have him by my side. What a lucky girl I am.
Terkadang kami berpisah saat aku sedang sibuk-sibuknya dan nggak bisa ninggalin kerjaanku, dan Jeffrey juga ada urusan pekerjaannya dan kembali ke US. Oh yah, selama setengah tahun itu, kita juga sedang proses renovasi rumah Jeffrey, lebih tepatnya membuat kamar utamanya jadi lebih besar dan muat barang untuk 2 orang. Karena jujur aja, kamar utama Jeffrey terlalu kecil untuk 2 orang, belum lagi baju-bajuku dan perlengkapan cewek lainnya. So, yeah it was totally necessary. Hitung-hitung mengawasi para pekerja, meskipun ada teman Jeffrey yang membantu jadi perantara kami dan para pekerja disana. Dan aku juga menjual apartemenku, dan membeli sebuah rumah di daerah Ubud.