Prolog

220K 6.6K 44
                                    

Happy reading..

***

Matahari mulai muncul dan bersinar terang menyinari bumi yang membuat bunga bunga indah bermekaran di sebuah desa kecil.

Seorang gadis cantik berjalan santai di tengah tengah ladang kebun teh. Sesekali gadis itu melompat lompat kecil dan mencium aroma segar di pagi hari.

"Zya sini nak" Teriakan dari seseorang membuat langkah gadis itu pun berhenti.

"Iya Bu." Ucap Mazya berbalik.

MAZYA GADISA UTAMI, itulah nama lengkapnya. Seorang gadis cantik yang tinggal di desa kecil bersama ibunya. Mazya sudah tidak memiliki ayah lagi. Ayahnya meninggal terkena serangan jantung saat umurnya masih 8 tahun. Mazya adalah anak tunggal dari DARNA ASTIANI dan alm. PASUTIO HASAN.

"Ada apa Bu?" Tanya Mazya saat sudah sampai di hadapan Darna.

"Ibu mau minta tolong ambilin keranjang teh di rumah. keranjang yang ini udah penuh." Ucap Darna lembut.

Mazya tersenyum lalu mengangguk kecil. "Yaudah Zya pulang dulu Bu." Sebelum pergi Mazya menyalimi tangan Darna.

Rumah Mezya terbilang dekat dari kebun teh. Jalan kaki 2 menit saja sudah sampai. Rumah Mezya hanya sederhana, lagipula Mezya hanya tinggal bersama ibunya.

"Keranjang tehnya mana yah" Mezya mencari di seluruh sudut rumah, ia lupa menanyakan di mana Darna meletakkannya.

Mezya mencari sampai di samping maupun di belakang rumah. Dan ternyata keranjang teh itu ada di sudut belakang rumah, tempat semua perkakas diletakkan.

"Ini dia, dari tadi di cariin ternyata di sini toh" Mezya mengambil keranjang teh itu lalu segera pergi kembali ke kebun teh.

Di perjalanan menuju kebun teh, "mau ke mana neng Zya" Ucap seseorang yang memegang pundak Mezya dari belakang.

Mezya sangat kejut dengan kedatangan Arjuna yang tiba tiba di belakangnya, temannya kelas yang kebetulan juga tetangganya.

"Astaghfirullah" Ucap spontan Mezya.

"Ihh ngagetin" Kesal Mezya memukul lengan Arjuna yang sedang tertawa renyah.

"Hhh, maaf maaf" Mezya hanya berdecak sebal tak ingin melihat Arjuna.

"Gitu aja ngambek"

"Brisik" Mezya berjalan cepat meninggalkan Arjuna.

"Zya tunggu dong" Teriak Arjuna.

Mezya tidak memperdulikan teriakan Arjuna. Sesampainya di Kebun, Mezya melangkahkan kakinya menyusuri setiap ladang.

"Ibu" Teriak Mezya yang melihat ibunya.

Darna menengok mencari keberadaan Mezya, "sini nak" Panggil Darna.

Mezya tersenyum, ia meletakkan keranjang itu di belakang punggungnya seperti tas yang semula ia pegang. Mezya berlari menuju Darna.

"Hati hati Zya" Teriak Darna namun Mezya tetap berlari ke arahnya.

Belum sampai di depan Darna, Mezya terjatuh karna kakinya tersandung batu.

"Aaaaaaaa ibuuuu" Jerit Mezya.

Mezya terjatuh dan berguling ke bawah. Mezya terbentur batu besar yang membuat kepalanya berdarah sangat banyak. Kebun teh di daerah sana memang sedikit curam jadi mengakibatkan Mezya jatuh terlalu jauh ke bawah.

"Zyaaaa" Histeris Darna, dengan panik Darna berlari kecil menghampiri Mezya yang sudah tidak sadarkan diri di penghujung kebun.

Para warga yang melihat kejadian itu pun ikut berlarian menghampiri Mezya, begitu pula Arjuna yang baru saja sampai karna di tinggal oleh Mezya tadi.

"Zyaa hiks nak bangun nak hiks hiks" Darna menangis sejadi jadinya.

Mezya yang belum sepenuhnya kehilangan kesadaran pun membuka matanya. Keadaannya sekarang sangat parah, bahkan bajunya sudah berlumuran darah.

"I-ibu" Ucap Mezya terbata bata.

"Zya hiks iya ini ibu nak, kamu bertahan yah. Tolong panggilkan dokter, tolongg hiks hiks"  Histeris Darna. Salah satu warga pun berlari menuju puskesmas untuk memanggil dokter.

"I-ibu Zya u-udah huh ga-gak kuat" Ucap Mezya yang membuat Darna semakin menangis.

"Kamu harus kuat nak, jangan tinggalkan ibu hiks" Darna mengusap kepala Mezya yang ada di pangkuannya.

"J-jaga diri ibu yah k-kalau Z-zya u-udah gak ada" Ucap Mezya memegang tangan Darna.

"Jangan ngomong gitu nak kamu pasti selamat. Jangan tinggalin ibu Zya hiks hiks"

"Z-zya s-say-ang ibu" Mezya tak sadarkan diri lagi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.

"ZYAAAA, nak bangun hiks jangan tinggalkan ibuu hiks hiks" Darna memeluk erat tubuh Mezya yang sudah tidak sadarkan diri lagi.

***

Di sebuah ruangan yang serba putih dan berbau obat obatan. Mezya terbaring lemah di atas ranjang dengan banyak alat alat yang menempel di tubuhnya.

Mezya perlahan lahan membuka matanya dan melihat setiap penjuru ruangan yang tidak ia kenal.

"I-ibu" Ucap Mezya.

Seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa dekat ranjang pun berdiri menghampiri gadis itu.

"Kamu sudah bangun sayang, apa yang sakit, bunda panggilin dokter yah" Wanita itu hendak keluar namun langkahnya berhenti saat gadis itu kembali bersuara.

"Anda siapa?" Tanya Mezya kebingungan.

"Ini bunda sayang, bunda Fana kamu lupa?" Tanya wanita itu yang bernama Fana.

Bersambung...

My Twilight Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang