masalah apa?

191 49 40
                                    

pemuda itu tampak tengah bersua dengan seorang gadis di lorong. tak hanya berdua, lorong itu juga berisi siswa-siswi yang tengah berbincang-bincang.

"aku enggak peduli. gimana pun keadaan kamu, ingat, kamu bukan hakku lagi." dengus pemuda itu, nampak kesal dengan gadis di hadapannya.

kecurigaan orang-orang di sekitar lorong mulai terlihat. pasalnya pemuda itu memandangi dari sudut ke sudut, mendapati orang-orang disana tengah memperhatikan mereka berdua.

gadis itu hendak mengeluarkan sepatah kata, namun ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya. sebab pemuda itu tanpa berbicara, dengan sigap menarik tangannya, membawa tungkainya bergerak lebih cepat.

gadis itu sudah berusaha melepaskannya, sesekali memukul atau bahkan berteriak pada pemuda itu. namun sang pemuda apatis, sesekali memandang sekitar dengan sinis.

tungkai mereka pun terhenti. pemuda itu membawanya ke suatu tempat yang lumayan sepi. tepatnya di belakang gudang sekolah. entah apa yang akan ia lakukan.

"aku nggak pernah ngelakuin itu ke kamu! jangan asal tuduh, bahwa sebenarnya-"

"sebenarnya apa?"

"gila!" umpat baron, sesekali ia memukul meja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"gila!" umpat baron, sesekali ia memukul meja.

"meja kantin woy, jangan asal main pukul aja lo." ujar raditya, raut wajahnya kesal, pasalnya ia terkejut ketika sahabatnya memukul meja dengan keras.

baron terkekeh, mengelus meja lembut dan meminta maaf pada raditya. pemuda ini lucu, namun menyebalkan. hati-hati dihanyutkan.

"tapi serius nggak, ini? entar gue udah marah-marah ternyata prank. heuh, basi dit!" ujar baron, menyolek bahu raditya.

raditya menghembus udara kasar, pasalnya, ia sendiri tak mau menjawab perihal memalukan ini. ia juga merasa jijik untuk membahasnya.

"intinya enggak bener! dah lah, gue mau balik ke kelas." ucap raditya, bangkit dari duduknya.

"woi, ini mie ayam siapa yang bayar?" tanya baron.

"ya elo lah! lo yang makan, masa gue yang bayar." celetuk raditya, lalu meninggalkan baron seorang diri. meratapi isi dompet yang menipis.

pemuda itu memasuki ruangan kelas, menyinggahkan raga di sebelah gadis itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

pemuda itu memasuki ruangan kelas, menyinggahkan raga di sebelah gadis itu. merangkulkan tangannya pada bahu milik gadis itu.

"darimana?" tanya purnama, sesekali menoleh ke arah raditya.

"dari kantin sama baron. kamu nggak makan, pur?" ujar raditya, purnama menggelengkan kepala.

keduanya lalu terdiam. memberi waktu pada sunyi untuk melintas. pemuda dengan masalah barunya tampak sedikit tak tenang. meski baginya bukan masalah yang ia buat, tetap saja, ucapan gadis itu membuatnya gelisah.

jarak dengan purnama sesekali mengikis pikiran itu, bahkan ia sudah melupakannya. ya meski begitu, raditya tetap akan mengingatnya. lupa itu hanya sebentar, pikirnya.

purnama menyadari raut wajah raditya yang terlihat gelisah, serta tatapan kosongnya, membuat purnama yakin, bahwa ada sesuatu yang tengah raditya pikirkan.

purnama melepaskan tangan raditya yang menyandar di bahunya, pandangan raditya langsung beralih.

"kamu kenapa?" tanya purnama. sesekali raditya tersenyum, sembari menggelengkan kepala. mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.

"dit, kalau kamu ada masalah ya cerita aja. aku enggak masalah kok, asal kamunya tenang." ujar purnama, mengusap bahu raditya.

raditya menghela napas, ia tersenyum, perlahan menganggukkan kepalanya. namun ia tetap tidak mengatakan apapun pada purnama.

"kamu yakin, kamu gapapa?" tanya purnama, kurang yakin dengan raut wajah raditya.

"enggak, aku cuma capek aja." jawab raditya, purnama lalu mengangguk paham.

sementara itu, gadis yang ditemui oleh raditya tadi, masih berada di belakang gudang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

sementara itu, gadis yang ditemui oleh raditya tadi, masih berada di belakang gudang. mendekam sembari menangis. dirinya mulai pesimis, walaupun sudah berusaha berpikir kritis. sayang, semuanya apatis.

"aku gak terima."

"aku gak terima di perlakukan kayak gitu sama radit, aku gak bisa diinjak-injak kayak gini."

"rasanya aku mau mati..."

gadis itu berulang kali memukul kepala dengan tangannya sendiri. sesekali ia menjerit, lalu memekik suaranya.

"awas kamu laki-laki biadab!"

"awas kamu laki-laki biadab!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

eh ak update nih.

ruang gaduhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang