Part 20 : Kamu PHP, Ayna!

11.2K 615 14
                                    

Janlup komennya ramein


Bismillahirrahmanirrahim....



🍂 Happy Readings 🍂

Meski terus menggerutu karena waktu tidurnya terganggu, Ayna tetap melaksanakan shalat malam bersama Arqan walau dengan mata yang memberat menahan kantuk. Berkali-kali ia menguap dan berkali-kali juga mengerjapkan mata agar rasa kantuk itu hilang.

"Kamu tinggal aminkan saja semua doa-doa saya." Ayna melirik sekilas seseorang di depannya. Tapi tenang saja, telinganya masih bisa mendengar perkataan Arqan barusan.

Tangan kekar Arqan menengadah, begitu pun dengan Ayna yang setengah hati mengikuti gerakan suaminya.

"Ya Allah Ya Rabb, terimakasih atas semua Nikmat-Mu yang tak terhingga. Termasuk atas nikmat mempersatukan kami berdua dalam ikatan yang suci di Hadapan-Mu."

"Ya Allah, tolong berkahilah pernikahan kami ini. Jadikanlah pernikahan kami pernikahan yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Jauhkanlah segala keburukan apapun itu yang jikalau akan merusak pernikahan kami."

"Ya Allah, berikanlah kami keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah. Yang bisa menjadi penyejuk untuk kami sebagai orang tuanya. Aamiin." Arqan menyudahi doanya dengan mengusap kedua telapak tangannya pada wajah, lelaki yang berstatus sebagai suami dari Ayna Azkayra itu memutar tubuh dan mendapati istrinya duduk dengan mata tertutup.

Mukena warna putih bersih menutupi mahkota yang biasanya terlihat, untuk sesaat Arqan tertegun karena terpana melihat kecantikan dari bidadarinya. Kelopak mata indah yang sering menatapnya tajam begitu tertutup dengan damai, bibir merah muda yang biasanya berbicara dengan ketus padanya sedikit terbuka pertanda sang pemilik mulai pulas. Arqan menipiskan jarak, satu tangannya sudah menggantung di udara hendak mengusap pipi tirus milik Ayna namun sang empu lebih dulu membuka matanya.

Untuk beberapa detik keduanya hanyut dalam tatapan, seolah satu sama lain mengungkapkan perasaan. Tanpa sadar, Ayna pun sama-sama seolah terhipnotis dengan ketampanan yang Arqan miliki. Bukan Arqan yang mendekat melainkan Ayna yang lebih dulu merapat padanya sampai sebuah kecupan mendarat di pipi sebelah kirinya, membuat si pemilik pipi itu diam membisu namun setelahnya menghela nafas karena tubuh Ayna menabrak dadanya. Rupanya, apa yang dilakukan Ayna barusan itu bukan murni dari kesadarannya karena kini gadis itu melanjutkan tidurnya pada dada bidangnya.

"Kamu PHP, Ayna!" dengus Arqan lalu menggendong Ayna ala bridal style, memindahkan Ayna untuk tertidur di kasur.

Arqan menurunkan Ayna dengan hati-hati, tubuhnya ikut merendah karena menahan bobot tubuh Ayna. Saat tubuhnya ingin kembali tegak, bertepatan dengan itu sepasang tangan tiba-tiba memeluknya begitu erat.

"Hug me!" cicit Ayna dengan posisi memeluk Arqan, Arqan yang bingung dengan ketiba-tibaan itu mengikuti kemauan Ayna. Perlahan, Arqan berpindah posisi menjadi di samping Ayna lalu memeluk tubuh ramping Ayna. "Thanks, Ka. I love you," cicit Ayna lagi sambil mencari posisi ternyaman, tertidur dengan kepala bersandar pada dada bidang Arqan.

"Malam ini kamu boleh menyebut nama pria lain, tapi malam berikutnya aku pastikan hanya namaku yang bisa kamu sebut, Ayna Azkayra." Setelahnya, pasangan suami istri baru itu sama-sama terlelap dalam tidurnya dengan posisi saling memeluk.

•••

Suara adzan shubuh berkumandang membuat seorang lelaki membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah damai dari Ayna yang mampu membuat senyumnya terulas manis.

"Selamat pagi, istriku bidadari syurgaku." Dengan perlahan, Arqan mendekatkan wajahnya mendaratkan satu kecupan ringan pada kening sang istri. Ayna yang mendapat sebuah kecupan tiba-tiba menggeliat, kedua tangannya naik mengucek-ngucek kelopak matanya. Sama seperti Arqan, hal yang pertama kali Ayna lihat adalah wajah Arqann dengan seulas senyum yang meneduhkan.

"Pak Arqan?" beonya masih belum menyadari jika tubuhnya begitu dekat dengan Arqan.

"Bapak ngapain di sini?" tanyanya yang seketika saja mengundang tawa kecil untuk Arqan.

Tuk, dengan sengaja Arqan menyentil kening Ayna membuat sang empu meringis pelan.

"Bapak nggak sopan banget sentil-sentil kening saya?"

"Lalu?" Arqan menaikkat satu alisnya.

"Saya laporin Bapak ke mama papa saya, ASTAGA!!" Ayna baru sadar jika posisinya begitu sangat dekat, bahkan kakinya bertumpang pada kakinya Arqan. "BAPAK APAIN SAYA? BAPAK UDAH BERBUAT MESUM PADA SAYA?!" pekik Ayna sambil bangun dari tidurnya, gadis itu juga memeriksa kelengkapan pakaiannya yang masih terpakai rapi bahkan kakinya masih memakai rok mukena.

"Astagfirullah Ayna, kamu bicara apa?" tanya Arqan.

"B-bapak nggak apa-apain saya, kan?" Ayna malah balik tanya.

"Maksud kamu?"

"Ya Bapak nggak ngelakuin itu tanpa izin saya, kan?" tanya Ayna sedikit ambigu. Arqan yang paham ke arah mana pembicaraan Ayna pun bergerak mendekat, lelaki itu meraih kedua tangan. "Saya bukan laki-laki bejat yang hanya mengedepankan nafsu semata, Ayna. Saya juga bukan laki-laki pemaksa hanya demi kepuasan pribadi. Pernikahan kita sah di mata Allah meski jalan pertemuan kita sangat singkat, saya mengerti saya paham kita harus belajar saling mengenal satu sama lain. Lagipula pernikahan itu sebuah ibadah, ibadah terlama. Saya ingin kita melakukan ibadah ini dengan sebuah keikhlasan."

Ayna menunduk, ia jadi merasa bersalah telah memfitnah suaminya sendiri. Lagipula, kalau pun Arqan melakukan itu padanya masih sah-sah saja karena Arqan suami yang sah di mata agama.

"Maaf Pak kalau ucapan saya menyinggung Bapak." Arqan menggeleng, satu tangan yang tadi memegang tangan Ayna naik menyentuh dagu Ayna menarik wajah itu untuk menengadah menatapnya.

"Tidak, saya paham kekhawatiran kamu. Semunya butuh waktu, baik saya ataupun kamu. Kita biarkan berjalan sesuai alurnya saja, Ayna."

"Bapak kenapa sih nggak pernah marah sama saya? Padahal saya sering ngotot terus kesel ini itu ke Bapak." Mendengar pertanyaan itu membuat senyum Arqan kembali menyembul.

"Saya hanya mencontohkan perilaku Rasulullah pada istrinya, beliau hanya terdiam ketika istrinya sedang marah. Lagipula, perempuan itu makhluk yang sangat sulit ditebak, moodnya gampang sekali berubah."

"Ayo, sudah waktunya shalat shubuh. Kamu bersiap untuk shalat sendiri saya akan bersiap untuk shalat berjama'ah ke masjid."

"Kenapa perempuan shalat di rumah?" tanya Ayna.

"Saya akan menjawab pertanyaan kamu setelah ini."

———————🍂🍂🍂———————

Siap buat next chapter?

Spam vote dan komen dulu dong

Follow akunku : @fiaa_an

Follow akun tiktok : @fiaafnh

Buat tau spoiler-spoiler ataupun konten menarik di sana 🔥

Dear My Husband (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang