3-3 sayang adik kakak

498 66 17
                                    

.
.
.
Warning, dari sini bahasanya akan lo-lu-gw-gue-gua, dan makin menjamet (gk janji sih), makin gak jelas
.
.
.
.Jika

"Jika aku bisa terbang, maka aku akan..."

"...akan minggat aja sih, Bang. Yaudah, Assalamualaikum."

"WOY, SOL, MAU KEMANA??!!"
.
.
.
.Diusir

Pernah suatu ketika, Halilintar mengajak Solar untuk ke time zone daerah mereka.

"Gak ah, Bang Hali mainnya pake emosi. Malu-maluin, skip." Begitu jawaban Solar.

Halilintar merengut kesal. Solar menatapnya sinis.

"Liat aja, ntar kalau gue menang semua permainannya, gak gue kasih lu hadiahnya." Kata Halilintar yang sudah emosi.

"Terserah." Solar hanya mengangkat alisnya dan lanjut ngemil stik coklat.

Akhirnya Halilintar datang sendiri ke time zone, masih dengan emosi.

Sepuluh menit kemudian Halilintar diusir dari time zone karena hampir merusak mesin tinju dan lain sebagainya karena sesuai perkataan Solar, Halilintar mainnya pakai emosi.

.
.
.
.Wibu mantap djiwa

"Sol, gue pengen nyoba voli deh. Kali aja gue ada bakat buat jadi atlet voli sampai go internasional."

Solar menghela napas.

"Habis nonton anime apalagi deh hari ini..."

"Ih, Sol! Serius! Liat deh, gue kan tinggi... Yah lumayan lah. Terus gue kan pinter lompat-"

"Halah, naik tangga aja jejeritan."

"Solllaarrrr. Ish, dah lah, cerita ke lu mah percuma! Pokoknya besok gue mau daftar ekstra voli. Liat perkembangan gue, Sol!!!"

Solar menatap abang keduanya itu dengan tatapan lelah. Mana pula setelah berkoar-koar seperti tadi, yang bersangkutan langsung pergi dengan kedua tangan yang menjulur ke belakang.

Solar auto nyebut banyak-banyak.
.
.
Satu minggu setelahnya

"Bang Taufan? Gak latihan? Katanya ikut voli? Hari ini kan ektra voli latihan di sekolah."

Solar bertanya-tanya karena melihat Taufan duduk di ruang tamu sambil menonton anime, lagi, entah apa judulnya. Taufan tanpa mengalihkan pandangannya dari tv, menjawab,

"Gak ah Sol. Kata kakel, ekstra voli tahun ini bagus banget."

"Terus? Bagus donk—"

"Gak Sol, gue maunya yang menantang, yang ekstranya udah mau punah. Yang begini, begitu. Keknya gue gak cocok ikut voli."

Solar menatap belakang kepala abangnya itu sambil mengernyit geli.

"Tapi ya Sol... Keknya, gw mau jadi pemain biola deh..."

Solar berjingkat, lalu melihat anime yang sedang ditonton abangnya. Oh, pantes, anime musik.

"Kek bakal ganteng banget ga si gue kalau main musik, setdah."

Haha
.
.
.
.Adu

Yang tidak disukai Solar ada banyak, salah satunya adalah diajak (ralat, dipaksa ikut) belanja oleh Gempa.

Kakak ketiganya itu kalau belanja memang sangat teliti dan rinci. Di rumah tidak ada satu pun yang bisa disamakan dengan ketelitian Gempa kecuali Bunda. Ibaratnya, Gempa adalah versi laki-laki dari Bunda.

Dan seperti yang sudah dijelaskan, Gempa adalah versi laki-lakinya Bunda.

"Berapa harganya, Bang?" tanya Gempa pada pedagang buah di depannya. Solar di belakang Gempa membantu membawa tas belanjaan walau ogah-ogahan.

"Sekilo 50, dek."

"Lah?! Mahal amat! Lima belas lah!"

Solar melotot kaget. Pedagangnya kaget. Orang di sekitar kaget. Solar langsung pura-pura gak kenal Gempa lagi.

Wajah kalian sama Solar, mohon maaf sekedar mengingatkan aja, hehe
.
.
.
.Clumsy

Selain Solar sudah lelah dengan tingkah para abangnya, kadang Solar juga lelah dengan tingkah para abangnya. Dalam hal yang sama. Yaitu mengejeknya.

Bang!

Solar melongo melihat gagang pintu yang dia pegang, sudah lepas dari daun pintunya.

"Walah, hayolohh Solarr... Hayolohh, dimarahin Ayah sama Gempa tuh pasti, hayolohhh..."

Solar menoleh pada Taufan yang mengejeknya. Belum sempat dia menjawab abangnya satu itu, datang yang dia takutkan. Halilintar.

"Waduhh, Solar lagi, Solar lagii..." kata Halilintar.

"Waduhhh, Solarrr, wah wah, ckckckck." Taufan ikut di samping si sulung dan bersama-sama memasang wajah prihatin.

"Ada apa nih? Wah? Waduhh Solarr..." Datang lagi, Blaze.

Dan ketiganya bergeleng-geleng kepala seperti boneka di dasbor mobil Ayah.

Solar kesal dalam diam. Dia mengambil telepon genggamnya dan mencari nama kontak seseorang. Dia meneleponnya.

"Halo Solar?"

"Halo. Bang Gem, Bang Hali, Bang Taufan, sama Bang Blaze matahin gagang pintu."

"HAH?! WOY, GAK BENER!"

"LAH, FITNAH WOY!"

"APAAN DAH?!"

Solar menyeringai.

"Loh? Bukannya kamu yang matahin, Sol?"

Hah?

"Iya soalnya aku dari tadi di sini sih, Sol."

Solar menoleh ke arah suara Gempa.

"..."

"..."

"WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWK"

Pantas saja suara Gempa terdengar dekat. Solar merutuki ketiga kakaknya yang lain yang tertawa sampai jatuh ke lantai dan memukul-mukul lantai.

Solar berasa ingin mengubur diri part ke sekian kali.

Daily SolarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang