6ubar bubar

554 70 14
                                    

.

.

.

.overthinking

"Lu sadar ga sih Sol? Kalau kita makan daging tuh artinya kita makan mayat hewan yang dibumbui."

"Jadi lu mau makan ayam idup-idup?"

Solar menatap Blaze yang masuk ke kamarnya tanpa izin dengan datar.

"...Nggak sih."

.

.

.

.hukum alam

"Sol, lu tau kan kalau kecepatan pesawat pas terbang tuh kenceng banget, tapi kenapa ya kita pas liatnya kek lambat gitu?"

"Ohh..."

"Kalau gitu berarti kita di mata semut tuh kek pesawat gitu ya? Geraknya lambat."

"Oohh..."

"....berarti kita kek oknum T donk ya? Anjir Sol, kita adalah titan di mata semut!"

Solar berhenti membaca bukunya.

"Ohh... oh? Eh! Lu aja, gw mah kagak!"

"Ih ih Solar oknum T, ihhhhh!"

"Bang, lu normal sehari aja bisa gak sih? Gue capek!"

"Ih Solar oknum T ihhhh!! Solar rumbling!!"

.

.

.

.dampak

"Sol, lu kadang mikir ga si, kalau sebenernya dengan adanya film yang melawan hewan buas tuh orang jadinya mikir gak masalah buat bunuh hewan walau dalam batas perlindungan padahal mereka duluan yang ganggu hewannya."

Solar jadi ikut berpikir.

"Eh iya juga, eh-! Gak gitu Bang!"

"Berlaku juga sama film horor."

"Bang Blaze, stopp!"

.

.

.

.jijik

"Gue baru baca deh."

"Gak! Gak usah dikasih tau Bang, sumpah!"

"Katanya kecoa kalau habis lihat manusia tuh pasti langsung mandi. Dengan kata lain, kita tuh semenjijikkan itu di mata kecoa yang menjijikkan."

"Bang udah Bang, cukup."

Kali ini Solar benar-benar mengangkat tangan sambil hampir menangis. Blaze menatap adiknya miris.

.

.

.

.Bismillah

Solar itu pengamat yang baik. Sejujurnya bukan hanya Solar saja yang dibuat hampir menyerah dengan tingkah laku abang-abangnya yang luar biasa itu.

Kadang Solar akan melihat pemandangan seperti Blaze yang mengganggu Ice atau Taufan yang juga mengganggu Halilintar atau Gempa.

Seperti saat ini, Blaze tertawa kencang setelah memberikan guyonan entah apa pada Ice yang menatap kedepan dengan tatapan sulit dijelaskan.

Setelah puas dengan hal yang barusan, Blaze pergi atau mungkin kabur sebelum Ice mendepaknya dengan bantal atau buku di sampingnya.

Solar masih melihati Blaze yang lewat di depannya dengan tertawa.

Pun dengan Solar yang masih melihati Ice yang mengeluarkan sesuatu dari balik bantalnya. Dia berdiri dengan tenang,

Clack

Dan mengongkang pistol mainan miliknya sambil berucap,

"Bismillah."

Lalu menyusul Blaze yang entah kemana.

Solar kemudian mendengar suara teriakan Blaze dari arah taman belakang.

.

.

.

.janji

Solar ada janji dengan Taufan nanti malam. Katanya mau diajak untuk nonton bareng film (yang pastinya berhubungan dengan anime, karena kakaknya itu suka meracuninya dengan hal itu, tapi kalau bersama Gempa atau lainnya beda lagi).

Yah, Solar hanya iya-iya saja karena Taufan tidak seperti vvibu lain yang ketika ditanya punya rekomendasi anime apa, malah jawab boku no (pipp).

Tapi sebelum itu Solar ada jadwal les yang harus dia datangi setiap hari.

"Bang, Solar pergi dulu ya."

"Iyah, TTDJ."

"Apaan lagi ituu..???"

"TiaTi Di Jalan, ah lu gitu aja gak tau."

"Iya deh, iya. Yaudah Solar berangkat. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Eh Sol tunggu deh!"

Solar berhenti di pintu yang terbuka. Ketika dia melihat Taufan sudah berpose aneh.

"Jangan lupa ya. Kimi and watashi. Tonight," lalu dia berkedip.

Solar menganga. Taufan berkedip sekali lagi.

.

.

.

.bukan hanya kamu yach

Solar bersama dengan Halilintar, Taufan, Ice, dan Gempa di ruang tv menonton acara berita. Blaze dan Thorn sedang keluar membeli camilan.

"Main yuk," kata Solar malas-malasan.

"Apa?" Sepertinya mood Taufan juga sedang berada di titik nol-nya hari ini.

Yang lain diam menyimak.

"Kalau kau suka hati tepuk tangan!"

Solar yang memulai.

Tidak ada satu pun orang di sana yang bertepuk tangan seperti perkataan Solar.

Hanya ada suara tv yang menggema di ruang itu.

"Njir kalian gak ada yang bahagia gitu?"

Solar berkata tidak percaya.

"Lu sendiri juga gak tepuk tangan, Sol," kata Gempa.

"Shut up!"

"Wkwkwk," Halilintar dan Ice hanya menyimak sedari tadi dan tertawa.


Daily SolarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang