13. Hati dan Hujan

13.2K 1K 14
                                    

Langit sore sudah gelap. Sebentar lagi dalam hitungan menit pasti titik demi titik air dari gumpalan awan itu akan turun membasahi bumi. Sama seperti perasaan Rino, gelap dan hampa. Dia harus berbicara empat mata saja dengan Dilan, dia harus tahu apa yang dia lakukan terhadap Jane sore beberapa hari yang lalu.

Jane mengatakan tidak terjadi apa-apa, dia mengatakan cuma dibantu agar keluar dari suasana tawuran dan Dilan memperlakukan dia dengan baik. Itu saja.

Tapi Rino tidak puas hanya mendengar cerita itu dari Jane. Bagaimana bisa dari sekian banyak orang yang mengenal Dilan, hanya Jane yang pernah terdengar memuji cowok itu dengan kata 'baik'. Rino merasa Jane memang belum mengenal Dilan lebih dekat lagi, dan hanya mendengarnya dari teman-teman ceweknya, makanya saat diperlakukan seperti itu Jane merasa dispesialkan. Belum lagi tuh cewek agak misterius dan sulit ditanya, memiliki aura yang mampu membuat dirinya tidak bisa berani memaksa. Jane yang memiliki tubuh ringkih dan nyaris dikirim ke RS itu tentu tidak berani dikerjain lebih parah lagi hanya agar mau mengaku untuk menceritakan kejadian sore itu yang sebenarnya.

Rino memarkir motornya di depan sebuah warung bubur kacang ijo, di sebelahnya ada sebuah motor dengan stiker gambar serigala tertempel di belakangnya.

Tanda motor ini milik Dilan. Cowok itu pasti nongkrong di sini entah sama siapa karena keadaan warung itu sepi. Tidak ada kendaraan lain atau tanda-tanda ada anak Mercu Buana lainnya.

Warung bubur ini terletak dekat dengan SMA Mercu Buana biasa dijadikan tempat nongkrongnya. Anak sekolah lain boleh juga nongkrong di sini, asal tidak akan merusak warung, tidak boleh tawuran maksudnya.

Saat masuk ke dalam warung tidak ada Dilan. Warung tersebut kosong melompong. Cuma ada meja kursi, topless kerupuk dan roti, serta puluhan botol minuman berjejer. Suara TV di sudut warung menampilkan tayangan FTV sore.

Ck. Rino mendengus.

"Sial. Ke mana tuh bocah?"

Tercium aroma manis yang akan membuat siapa pun merasa kelaparan apalagi perut dalam keadaan kosong. Aroma bubur kacang ijo. Wangi tersebut berasal dari dapur warung. Rino berderap menuju pintu dapur, mengedarkan pandangan saat tiba di ambang pintu.

Dapur tersebut tidak memiliki pencahayaan yang bagus, maklum warung kecil. Terlihat Dilan sandaran di dinding warung yang terbuat dari potongan kayu. Matanya memandang lekat pada Bu Atun, sang pemilik warung bubur sedang mengaduk bubur kacang ijo.

Bu Atun tersentak melihat pantulan bayangan Rino. Dia perlahan menoleh ke arah Dilan, takut jika sesuatu akan terjadi di sini. Apalagi ini di dapur, tempat di mana rezeki Bu Atun terbentuk. Wanita separuh baya itu menelan ludah.

Ekspresi Dilan masih sama, bergeming memandangi beberapa panci besar itu, matanya menerawang jauh ke masa lampau.

**

"Ke belakang." Dilan menyadari kehadiran Rino kemudian berjalan ke pintu belakang. Dia membukanya dan langsung dihadapkan oleh lapangan tanah. Di lapangan tersebut masih sepi karena anak-anak di sekitar kampung tersebut biasa bermain pukul 4 sore.

Di belakang, Rino membuntuti Dilan tak banyak berkomentar. Bu Atun lega mereka keluar dari wilayah sumber rezekinya, jika mereka terlibat baku hantam akan terjadi di lapangan.

Dilan berhenti di pinggir lapangan bawah pohon sawo, dia membuang puntung rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah ke tumpukan sampah.

"Jangan buang puntung sembarangan, bisa kebakaran." Komentar Rino bernada nyindir.

Dilan tersenyum pias. "Kalo sampahnya basah kayaknya puntungnya duluan yang mati."

WisdomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang