DUA

1.1K 579 1.8K
                                    

Ayah menjemputku tak lama setelah para gadis itu pulang. Motor bekas milik beliau-lah yang selalu membawaku membelah keramaian kerlap-kerlip kota. Lalu aku akan bersender di bahu ayah, memejamkan mata, dan membiarkan suraiku ditiup angin. Karena tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang bersender di bawah senja seperti ini.

"Eh!"

Aku tersentak.

"Itu bukannya temanmu ya, Nak?"

Mataku spontan memicing ke depan. Oh ... jadi dia sudah diperbolehkan pulang? Sejak kapan dia keluar?

Masih berseragam putih-abu, Angkasa nongkrong bersama anak-anak lainnya di warung tepi jalanan. Seolah tak punya beban, mereka merokok ditemani secangkir kopi hitam. Tanpa berpikir dua kali, aku meminta ayah untuk segera berhenti di dekat tenda warung itu dengan alasan lapar. Motor berhenti, aku pun turun dan masuk ke antrian yang lumayan panjang. Terakhir, aku harus membuka kedua telinga ini lebar-lebar.

"Jadi lo gak dikeluarin dari sekolah kan, Sa?" tanya si cowok berkulit sawo matang.

Angkasa meletakkan puntung rokoknya. "Nurut lo?"

"Ya mana gue tahu, sat. Makanya gue nanya."

"Iya, gue dikeluarin. Tiga hari lagi lo pada gak bakal nampak gue lagi."

Aku menutup mulut tak percaya. Seharusnya aku tidak perlu terkejut. Setelah hampir ratusan kali berulah, wajar siswa berandalan seperti Angkasa dikeluarkan. Tapi entahlah. Rasanya tidak tega saja melihat semesta begitu tidak bersimpati.

"Habis ini gue bakal dikirim ke Swiss sama bokap buat lanjut belajar. Jadi ya ... mau dikeluarin atau engga sama aja. Tetap dipaksa megang buku. Padahal gue sukanya menggambar. Hanya gara-gara sikap gue yang pemberontak ini gue dicap bodoh." Sang hakim lalu menyeruput kopi tanpa ekspresi.

Jadi dia suka menggambar.

"Wajar sih. Gue kalau jadi bokap nyokap lo juga bakal maksa lo belajar. Malu punya anak model ginian," ujar salah seorang temannya diselingi kekehan.

"Betul tuh betul. Terus kalau lo emang dikirim ke Swiss, lo kan bisa diam-diam belajar menggambar," timpal Koboi, cowok berbadan agak gempal.

"Engga. Pasti ada orang nyuruhan bokap gue yang ngawasin."

"Buset!"

"Biasa, orkay. Kemana-mana bawa bodyguard gitu."

"Posesif amat ortu lo, bro."

"Turut berdukacita ya."

"Kalau gue jadi lo, udah kabur dari rumah kali sejak dulu."

Ya ... berbagai jenis ejekan dilontarkan untuknya. Setidaknya sampai salah satu dari mereka bertanya, "Jadi Vanilla?"

Suasana mendadak hening. Koboi, selaku tersangka mengulum bibirnya rapat-rapat. Dia sadar sudah salah ngomong lantaran semua mata kini mengarah padanya. Aku juga ikutan geram. Sungguh, apa dia sebodoh itu sampai tidak bisa membaca situasi?

Masih sunyi, cowok bertubuh gempal itu akhirnya memberanikan diri berkata, "Maaf, Sa. Gue gak bermaksud."

Angkasa menghela napas, menepuk pelan bahu Koboi. "Gak apa-apa. Gue tahu lo gak punya niat buat ngerusak momen."

8 LETTERS Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang