SEMUANYA terkejut dengan perkataan yang sudah bisa dikategorikan kasar. Tiga kata yang pasti membuat siapa saja yang mendengarnya terpancing emosi.
"Tenang, minum dulu, Ryl. Ademin dulu pake VIT," celetuk Karin.
"Lo lagi iklan air mineral, Jar?" Celetuk Gilang.
Sekilas, Fajar menoleh padanya dan mengisyaratkan untuk diam. Ia kemudian beralih lagi pada Cheryl yang mengerutkan keningnya. "Masih berlagak bego gitu?"
Cheryl menggeleng pelan sambil menggeram menahan emosinya. "Gue sekolah. Gue punya adab buat ngatain orang punya otak apa enggak, Jar."
Fajar terdiam. Tak menggubris perkataan Cheryl. Namun, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang seperti hilang kendali. Ia jadi merasa bersalah.
"Dan masalah dua hari lalu," Cheryl menundukkan kepalanya. Emosinya seketika menguap, berganti dengan rasa bersalah yang amat mendalam. "Gue minta maaf."
"Enggak ada yang kasih tau lo, Ryl?" Tanya Gilang. Ia tahu jika sedang emosi seperti ini, bicara Fajar akan terlalu blak-blakan. "Lo gak tau gimana kacaunya di belakang, panitia semua saling salahin, Ryl. Yang ambil alih tugas lo bukan Fajar. Tapi Cindy," jelasnya sambil melirik Fajar sekilas.
Cheryl membelalak. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Cindy? Yang benar saja. "Dia bikin ulah apa?" Tanyanya. Napasnya kembali memburu, bahkan berapi-api. Emosi yang tadi menguap sekarang menghujani hati dan pikirannya.
Meski ragu, Gilang mengatur nafasnya untuk menceritakannya. "Cindy bilang kalo lo ngundurin diri. Makanya lo gak ada waktu dua hari lalu itu, lo gak datang pertanda lo udah nyerahin jabatannya sama dia."
Mata Cheryl membelalak semakin terkejut. Begitu juga Karin yang mendengarnya.
"Gila tuh, cewek," ujar Karin sambil menggeleng pelan.
Cheryl membuang nafasnya pelan. Baru ia akan melangkah, tangannya langsung ditahan oleh Karin.
"Seginama lo getek sama dia, lo masih bisa kontrol emosi buat sekarang," ujar Karin. Ia mengerti bagaimana perasaan kesal Cheryl sekarang. Namun, jika Cheryl telah marah semua akan dihabisi. Bisa-bisa fasilitas sekolah rusak karena amarahnya.
Cheryl menghembuskan nafasnya keras. "Bacotnya gak bisa dijaga banget, Rin," sahutnya sambil menggeram.
"Masa mau nunjukin sisi monster lo di depan doi? Kan, gak etis banget," bisik Karin sambil melirik Fajar.
Menyadari itu, Cheryl langsung menormalkan kembali dirinya. Mengapa ia bisa lupa jika ada Fajar. "Gue minta maaf, tapi dua hari yang lalu gue-"
"Lho, Cheryl? Kamu udah sekolah lagi?" Omongan Cheryl terpotong oleh seorang wanita patuh baya yang menghampiri mereka.
Mereka menoleh dan langsung mengangguk sopan pada Kepala Sekolah tersebut.
"Ibu kamu bilang kamu masuk rumah sakit lagi, kenapa?" Tanya Bu Hilda.
Cheryl saat itu juga merutuki Bu Hilda yang malah membahas tentangnya dan rumah sakit. Cheryl, kamu berdosa banget.
Respek, ketiga temannya langsung menoleh dan menampakkan wajah meminta penjelasan.
"Cheryl gapapa, kok, cuma kecapean aja, Tan," jawab Cheryl. "Eh, ibu," ralatnya dengan cepat.
Bu Hilda terkekeh. "Ya udah, jangan sakit lagi. Bentar lagi kamu naik kelas," pesannya. "Ibu ke ruang guru dulu, ya?" Pamit beliau.
Cheryl, Karin, Fajar, dan Gilang mengangguk hormat. Cheryl merasakan firasat yang tidak enak jika ia terus-terusan di tempat ini. Apalagi, ucapan Bu Hilda sangat menyudutkannya.
ESTÁS LEYENDO
FAJAR √ [REVISI]
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM BACA BIAR NYAMAN DAN JANGAN LUPA VOTE-NYA] Fajar itu, cowok ganteng dan kalem. Saking kalemnya, dia cuma senyum buat nanggapi omongan orang alias jarang ngomong. Salah satu anggota pramuka yang hobi futsal sama muncak. Berbeda dengan...
![FAJAR √ [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/232185224-64-k508692.jpg)