pertemuan kedua

4 2 0
                                    

Pagi itu, ada yang berbeda di kompleks perumahan Nana ketika ia dan kakaknya pergi membeli sarapan. Iya, mereka berdua memutuskan untuk membeli sarapan lagi di luar. Hari ini merupakan jatah keberuntungan bagi abang tukang bubur setelah kemarin mereka mengunjungi ibu penjual nasi uduk.

Usai memesan sarapan mereka, pandangan kedua adik-kakak itu kembali tertuju pada sesuatu yang tak biasanya ditemukan di kompleks perumahan mereka. Sebuah truk pick up yang berisi banyak pot bunga yang indah dan berwarna-warni yang tengah parkir di seberang jalan sana. Ada beberapa bunga yang cukup sering dijumpai Nana dan kakaknya, seperti bunga kertas, bunga Kamboja, juga bunga Soka. Akan tetapi, lebih banyak lagi bunga-bunga indah yang tak Nana ketahui namanya, begitu pun kakaknya.

"Kak, itu bunga Mawar bukan sih, yang warna kuning?"

"Ih, gue juga ngira itu bunga mawar! Tapi anjir yaaa baru kali ini gue liat bunga Mawar kuning! Trus liat deh, yang warna biru itu, mirip bunga tulip ga sihhh?! Ih birunya bagus banget Naaa astatanggg!"

"He'eh," sahut Nana pendek, masih memfokuskan perhatiannya pada bunga-bunga yang berada di atas truk pick up tersebut.

Tak lama kemudian, muncul beberapa abang-abang yang menurunkan pot-pot tersebut, kemudian memasukkannya ke rumah yang sedari tadi luput dari perhatian kedua adik-kakak itu.

"Ternyata potnya ditaro di rumah itu..," gumam kakaknya.

"Permisi, Non," ujar abang tukang bubur dengan sekantong plastik pesanan sarapan Nana dan kakaknya.

"Oh iya Bang, ini uangnya ya," ujar Rere seraya menyerahkan sejumlah uang kepada abang tukang bubur, kemudian mengambil plastik berisi sarapannya dan adiknya dari tangan si Abang.

"Mak—"

"Eh, Bang, rumah situ emangnya biasa beli bunga-bunga gitu ya?"

Nana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika menyaksikan kakaknya memotong ucapan si Abang begitu saja.

"Loh, itu 'kan orangnya baru pindah belakangan ini, Non," jawab si abang begitu melihat rumah yang dimaksud oleh Rere.

"Ooohh... Pantesan... Baru beberapa minggu ini, Bang?"

"Oh nggak juga, Non. Mungkin udah dua atau tiga bulan gitu kalo nggak salah."

Rere hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar informasi yang diberikan oleh abang tukang bubur.

"Ya udah, makasih ya Bang!" ujar kakaknya itu seraya menggandeng tangan Nana sebagai tanda untuk segera berjalan kembali ke rumah kecil mereka.

Belum sempat berjalan jauh, Rere sudah kembali menghentikan langkahnya.

"Kenapa sih, Kak?" tanya Nana bingung karena kakaknya tiba-tiba berhenti melangkah begitu saja.

Alih-alih menjawab pertanyaan Nana, Rere malah menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ke arah lain. Hal itu membuat Nana mengalihkan pandangannya, mencoba mencari tau apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya itu.

"OOOHH, ternyata cowok kemaren itu orang baruuu?!"

"Ssttt!" desis kakaknya itu.

Samar-samar, Nana mendengar langkah orang yang semakin mendekat. Begitu ia mengalihkan pandangannya kembali ke rumah tadi, benar saja, cowok yang kemarin 'mampir' ke rumah mereka tengah berjalan mendekati mereka berdua.

"Hai," sapa cowok itu. Nana yakin cowok itu tengah tersenyum ramah kepada mereka berdua meskipun sebagian wajahnya tertutup masker. Nana bisa melihat itu dari gerakan matanya. Namun... entahlah apakah cowok itu benar-benar tersenyum atau tidak. Bisa saja ia hanya menyipitkan matanya untuk menciptakan mimik yang seakan-akan sedang tersenyum.

RejuvenateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang