Enam - Telepon dari Papa

157 16 5
                                    


Aku sedang bersantai-santai di sofa depan televisi ketika handphoneku berbunyi. Awalnya aku berniat tidak mau mengangkatnya karena kupikir itu dari Tio. Dia sudah lama tidak menggangguku lagi tapi bisa saja sifat kekanak-kanakannya kumat lagi. Jadi kubiarkan benda balok itu bersuara sampai berhenti sendiri. Akhirnya benda itu diam, tapi itu tidak berlangsung lama. Si penelepon nampaknya belum menyerah juga. Selang beberapa detik Handphoneku berbunyi lagi. Sial, rutukku.

Aku meraih benda itu lalu melihat layarnya.

Papa calling...

Aku menaikkan alis tidak percaya. Ternyata aku masih menyimpan nomernya, ya?

"Halo." jawabku datar. Aku sangat sadar kalau tidak terdengar nada bersahabat di suaraku. Namun sepertinya Papa tidak menyadarinya karena dia menjawab dengan nada riang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Halo, anak Papa.. Lama sekali rasanya Papa tidak mendengar suaramu. Kenapa kamu tidak pernah menelpon Papa lagi? Papa kangen." Lalu Papa tertawa renyah.

Aku diam saja tidak menjawab. Ada apa dengannya? Bicaranya sok akrab sekali. Aku menunggu sampai Papa mengutarakan alasan utama menelponku. Tidak mungkin dia menelpon hanya untuk mengatakan bahwa dia kangen padaku. Selama ini dia tenang-tenang saja walaupun kami saling tidak bertukar kabar.

Papa berdeham di seberang sana. "Begini, Grey. Lusa kamu ada waktu? Papa mau mengajakmu makan malam bersama."

Lusa? Aku melirik kalenderku. Itu tanggal lahirku. Hatiku sedikit menghangat. Ternyata Papa masih ingat ulang tahunku. Padahal selama ini aku selalu sendiri di saat ulang tahunku. Sikapku pun sedikit melunak padanya.

"Ya, Papa."

"Nanti Papa kabari tempat kita bertemu ya Grey." sahut Papa.

Klik. Aku menatap layar handphoneku yang menggelap setelah Papa memutuskan hubungan teleponnya barusan. Aku tidak percaya kalau sedari dari jantungku berdetak cepat. Aku akan makan malam bersama Papa besok lusa. Walaupun selama ini aku sedikit membencinya, namun sisi hatiku yang lain merindukannya juga.

**

"Zian.. lama banget ambil makanannya? Laper nih."

Aku baru saja pulang dari toko roti ketika mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Begitu aku masuk rumah aku melihat beberapa anak laki-laki berseragam sekolah Zian sibuk mengelus elus perut mereka sambil mengoceh kelaparan.

Lalu dimana Zian? Mungkin dia di dapur mencari camilan. Dan seingatku di dapur sedang tidak ada camilan apapun. Sekarang bukannya Bi Nah dan Mama sedang belanja membeli bahan makanan ya?

Aku melihat sekotak donat yang aku beli. Yah, apa boleh buat sepertinya harus kuikhlaskan kepada anak yang lebih membutuhkan.

"Ada yang mau donat?" sapaku pada mereka.

Mereka menoleh berbarengan lalu menatap kantong plastik yang aku bawa dengan muka mupeng. Muka pengen donat.

"Mau, Kaaak." jawab mereka serentak.

Anak anak yang lucu, pikirku.

"Nih, bagi-bagi ya." Aku menaruhnya di atas meja. Sedetik kemudian, anak-anak itu langsung menyerbu.

Lalu aku bergerak ke dapur. Disana Zian sedang sibuk membuka kulkas dan lemari makanan sampai tidak menyadari kedatanganku. Baru saat aku membuka kulkas, dia baru sadar.

"Kak Grey, nggak ada camilan ya?" tanyanya.

"Nggak ada." Aku menuangkan air dalam gelas. "Bawain aja temen-temenmu minuman." lanjutku lalu meninggalkannya. Aku lantas pergi ke ruang tengah untuk menonton TV sementara Zian sudah menyerah. Dia berjalan ke ruang tamu dengan langkah lunglai.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 14, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

GREYSIAWhere stories live. Discover now