Before(3): His Past

256K 23.2K 1K
                                    


Aku mau jelasin, kenapa aku bikin karakter Jiver tertutup dan sulit percaya sama orang. Pertama, karena aku pernah diceritakan dosenku, beliau seorang konselor, yang pernah menangani kasus kayak Jiver. Di mana, si klien ini sulit menceritakan masalahnya, ia terus-terusan bilang kalau dia baik-baik aja padahal nggak. Butuh waktu lama buat si klient ini akhirnya mau cerita masalahnya, yang jelas prosesnya lama banget dan bertahap. Jadi dari situ, aku ambil inti ceritanya dan diaplikasikan sama Jiver. Bahwa Jiver dengan trauma dan masa lalu buruk, akhirnya bikin dia jadi sulit percaya sama orang. Orang2 trauma itu sulit terbuka dan butuh waktu. Seperti teorinya Sigmun Freud, perilaku orang dewas dipengaruhi oleh masa kecilnya (semoga aku nggak salah). So please, jangan menghakimi ceritaku teralu jauh, aku sedih sekaligus bingung hehe...aku nggak jamin ceritaku ini benar, but it's mine. I'm the author of this story. Kalau kamu mau jalan ceritanya sesuai maumu, please make your own story. Aku susah payah bikin cerita ini, riset sana sini, tapi aku bahagia kalian mendukungku, kalian memberiku masukan itu artinya kalian sayang padaku eak. Dan the last, aku nggak tahu proses wisuda itu kayak gimana. Kalau salah koment aja, koment di part sebelumnya, makasih sudah mengingatkanku, maaf kalau aku balas dengan kalimat yang menyinggung. Aku memang kayak gitu karena suka berdebat. Hehe

***
Dan pada akhirnya kita tahu, ujung dari tawa tidak selalu tentang bahagia. Ujung dari luka tidak selalu tentang duka.

Beberapa hari ini Keya enggan berbicara padanya. Tentu, itu menimbulkan kegusaran pada Jiver. Keya juga jarang ada di apartemen, ia lebih sering pulang ke rumah mamanya.

Kopi Jiver tinggal separuh, namun mood-nya meminum kopi tampaknya sudah rusak. Isi kepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama. Keyana.

"Lo kenapa? Ada masalah sama bokap lo apa sama Keya?"

Amir yang sedari tadi memerhatikan Jiver, tak kuasa untuk tidak bertanya perihal apa yang menjadi sebab Jiver terlihat kusut. Dan tebakannya seperti tidak salah.

"Keya marah."
"Kenapa?" Tanya Amir, ia menyerobot sisa kopi Jiver hingga tandas.
"Keya merasa gue masih cinta sama Rania, karena nggak bisa terbuka sama dia."

Suara decakan keluar dari bibir Amir. Jiver memang bodoh sekaligus menyebalkan jika berurusan dengan masa lalunya. Namun, meski begitu, ia tidak bisa menyalahkan Jiver juga.

"Apa perlu lo ke psikolog lagi? Hmm? Trauma lo belum sembuh."

Jiver menggelengkan kepalanya. Karena gemas, Amir menjotos kepala Jiver hingga laki-laki itu terkejut.

"Gue nggak tahu deh. Lo itu bego apa tolol. Jelas dia marah sama lo karena lo terus-terusan sembunyiin masa lalu lo!"
"Gue takut dia nggak bisa terima masa lalu gue, Mir."
"Penyakit lo, suka berspekulasi sendiri. Atau jangan-jangan lo masih cinta sama Rania?"

Mengusap wajahnya. Jiver menyandarkan tubuhnya di atas kursi kayu, mereka sedang berada di ruko.

"Nggak. Gue udah ikhlas Rania pergi, gue udah move on. Cuma lo tahu semua cerita itu nggak gampang, Mir!"
"Lo bakal kehilangan dia kalau kayak gini terus!"

Jiver diam. Tak ada kalimat lain yang ia lontarkan dari mulutnya. Amir sebagai saksi hidup yang pernah melihat laki-laki ini terpuruk tidak akan pernah mau menyaksikannya lagi.

"Lo cinta sama istri lo kan?"
"Nggak mungkin gue nggak cinta. Kita sudah hampir setahun nikah, Mir."
"Gue nggak mau lo depresi lagi kalau ternyata dia milih ninggalin lo, karena kelakuan lo sendiri. Lo, cerita ke Keya apa kita ke psikolog lo lagi?" Kata Amir, ia menunggu jawaban Jiver.
"Lo bener, gue memang harus cerita sama dia."

So I Married A SeniorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang