Lilis Pramudita √ ¹

16.8K 1.4K 237
                                    

"Cium sepatu gue!"

Dita mengangkat dagunya angkuh dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Netra hazelnya menatap penuh cemooh kepada seorang lelaki yang tengah bertekuk lutut di hadapannya.

"Ok, tapi setelah ini kita balikan ya?" Diki, laki-laki berambut cepak itu menatap Dita dengan penuh harap.

"Balikan sama elo? Dih, najis!" Tepat ketika Diki hendak mencium sepatu Dita, gadis itu tiba-tiba mundur dan langsung tergelak sebelum akhirnya tersenyum remeh. "Sorry ya, gue nggak level sama modelan cowok kek elo yang nggak punya harga diri!"

"Eh, asal lo tahu ya! Mau lo nyium sepatu gue beribu-ribu kalipun gue nggak bakalan balikan sama elo karena gue nggak pernah suka sama elo!" Dita tersenyum miring, mengabaikan Diki yang cengo di tempatnya. Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi sebelum teringat satu hal dan kembali menoleh ke arah Diki dan berteriak,

"Satu lagi, gue harap lo nggak bego buat bedain orang yang beneran suka sama elo atau cuman dijadiin mainan doang!"

Lilis Pramudita adalah bad girl-nya SMA Nirwana. Orangnya sangat cantik dan juga manis khas keturunan Sunda asli, tapi sifatnya sama sekali tidak mencerminkan orang Sunda. Dia ceplas-ceplos dan tidak mengenal  tentang aturan sekolah. Sama seperti kata orang, peraturan dibuat untuk dilanggar!

Selain itu, Dita adalah gadis nomor satu dalam hal mempermainkan perasaan laki-laki. Dia akan membuat laki-laki jatuh cinta setengah mati padanya lalu kemudian menghempaskannya bagai sampah tak berguna. Mantan pacarnya juga tidak main-main. Kapten basket, ketua osis, bahkan laki-laki paling pintar di sekolah pun sudah ia libas semua!

"Lilis!"

Dita menoleh dan langsung menatap tajam seseorang yang baru saja memanggilnya. Umpatan yang hendak ia lontarkan harus kembali ia tahan ketika melihat ternyata Adara yang memanggilnya.

"Lo tega banget sama Diki! Semua anak udah pada tahu loh!" ucap Adara, teman Dita satu-satunya.

Satu-satunya?

Ya, siapa di sekolah ini yang mampu bertahan untuk berteman dengan Dita selain Adara. Perkataan Dita yang ceplas-ceplos dan suka sekali berkata kotor memang kerap kali membuat orang enggan untuk berteman dengan gadis itu.

Dita ingin bilang anjing, yang keluar dari mulut juga bakalan anjing.

"Alah, lo kayak nggak kenal gue aja. Diki itu cuman sampah, dan sampah harus dibuang pada tempatnya!" Dita mengangkat bahunya cuek.

"Lagipula, apa lo bilang tadi? Lilis?" Dita mendengus kesal. "Nama gue Dita. Jangan panggil gue pake nama katrok itu!"

Satu lagi hal yang harus diketahui tentang Dita. Gadis itu paling tidak menyukai jika ada yang memanggilnya 'Lilis'. Menurutnya nama itu terlalu kampungan alias katrok, dan itu tidak sesuai untuk dirinya.

"Gitu-gitu juga yang beri nama orang tua lo!" Adara memutar bola mata.

"Diem lu, nyet!"

Sekali lagi Adara harus memutar bola mata. Menghadapi Dita memang harus mempunyai kesabaran yang ekstra. "Mau kemana lo?"

Adara mengernyit ketika melihat Dita malah berjalan melewati kelas mereka yaitu 12 IPS 3.

"Bolos! Males gue sama pelajarannya si botak!"

Dita melambaikan tangan ke arah Adara sebelum akhirnya berjalan cepat menuju ke tempat yang sering kali ia gunakan untuk membolos. Terkadang di koridor, ia berpapasan dengan beberapa mantannya yang menatapnya dengan sendu. Tapi untuk apa Dita peduli?

Tuk!

"Bangsat!"

Dita spontan mengumpat ketika merasa kepalanya dilempar dengan sebuah pesawat kertas.

Hanya pesawat kertas!

Seorang cewek yang sepertinya adalah kelas sepuluh tampak mendekati Dita sembari menundukkan kepalanya takut. Siapa sih yang tidak kenal Dita dengan segala sifat minusnya?

"Lo yang ngelempar gue? Punya mata nggak lo!" Dita menatap garang cewek di hadapannya.

"M-maaf, kak. Aku nggak sengaja."

"Halah, dasar lo perek!"

Dita mendengus kesal lalu segera berjalan pergi setelah dengan sengaja menyenggol bahu cewek tadi hingga mengakibatkannya terjatuh ke lantai. Sungguh, ia muak melihat wajah pucat pasi adik kelas sialan tadi!

Tangga menuju Rooftop sekolah mulai terlihat. Tapi bukan hanya tangga saja yang ada di penglihatan Dita, melainkan juga terdapat sesosok laki-laki yang duduk di kursi roda. Aura mematikan yang menguar dari balik tubuh lelaki itu seolah mengirimkan sinyal bahaya kepada Dita.

Namun Dita tidak peduli. Ia tidak takut dengan siapapun!

Dengan langkah santai ia mendekati laki-laki tadi yang duduk membelakanginya hingga ia tidak dapat melihat wajahnya. Batin Dita terus menyuruhnya untuk pergi dan menjauhi laki-laki itu, namun sekali lagi Dita tidak peduli.

"Minggir lo, njing!"

Dita melipat kedua tangannya di dada dengan memasang wajah sengak. Posisi laki-laki ini menghalangi jalan untuk naik ke atas tangga.

Tidak ada tanggapan.

"Anjing, bisa minggir nggak lo?" Kini Dita menendang kursi roda laki-laki itu dengan lumayan keras, namun tidak sampai membuatnya terjatuh.

Masih tidak ada tanggapan.

"Woy, jawab kek! Udah lumpuh, bisu lagi!"

Dalam satu kali sentakan, Dita langsung menarik kursi roda laki-laki itu hingga ia bisa melihat wajah orang itu seluruhnya. Dan saat itu juga, tubuh Dita langsung membeku.

Demi rumitnya soal matematika, Dita tidak pernah menyangka kalau titisan Dewa Yunani itu benar-benar ada.

Wajah adonis dengan garis rahang yang sempurna, membentuk suatu pahatan karya Tuhan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Mata hitam kelam setajam elang dengan alis tebal yang meruncing, mengesankan aura misterius tak terbantahkan.

Dingin dan berbahaya.

Itulah yang ada dipikiran Dita saat menatap wajah laki-laki itu.

Tes!

Sebuah cairan menetes dari balik hidung Dita dan langsung menyadarkan cewek itu dari keterdiamannya. Ia segera meraba hidungnya,

Wtf! Gue mimisan?!

-------------------------------------------
Tbc.

Dilanjut setelah Possessive Boyfriend tamat 😝

Frozen's LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang