9

32.3K 2.5K 102
                                    

"Aku baru juga dari Lampung, Ma."

"Sudah satu minggu kamu pulang, kenapa nggak ke rumah Mama?"

"Mama tahu, sesibuk apa aku."

Ratu mendengkus pelan, ada saja alasan yang dipakai putri sulungnya. Ajakan makan malam yang tidak terhitung lagi, terlewatkan. Dan, hari ini Ratu harus menemui putri sulungnya di kantor.

"Kemarin Ayu wisuda, kamu tidak hadir. Kamu itu udah kelewatan, Marsya!"

Marsya menatap datar wajah ibunya. Ada kekesalan di raut senja namun masih sangat cantik.

"Aku rasa, Mama sudah tahu dari papa. Tiga hari belakangan, perusahaan memang memerlukan fokus intens. Apalagi, keadaan yang sangat kacau---"

"Itu tidak akan pernah habis Marsya!! Makanya, dari dulu Mama bilang, jangan melibatkan diri kamu!"

Marsya mengerjap pelan. Emosi Ratu sama sekali tidak mempengaruhi ketenangannya.

"Mama ke sini mau ngundang aku makan malam, kan?"

Ratu bergeming, tidak menjawab pertanyaan yang sudah diketahui Marsya.

"Kami akan datang. Mama tidak usah khawatir."

"Ini terakhir kali Mama minta-minta sama kamu. Setelah itu, terserah kamu. Mau pulang atau tidak!"

Marsya tersenyum.

Ucapan ibunya, selalu begitu. Nyatanya, kerap kali ada acara kecil, dirinya akan direcoki oleh Ratu.

Bukan tidak menghargai.

Kadang, menyetujui ajakan makan siang mamanya, Marsya harus membatalkan janji penting yang akan memberi pengaruh baik untuk awak perusahaan.

'Nanti malam, ada acara di rumah Mama.'

Satu pesan, Marsya kirimkan pada Dewa setelah kepergian Ratu.

Tidak dibalas, namun centang sudah berwarna biru. Mungkin, Dewa sedang sibuk.

Jam makan siang sudah lewat, tapi Marsya belum keluar dari kantornya. Berkas-berkas itu masih memerlukan perhatiannya.

Banyak laporan yang harus ditanda tangani selama dua hari ia berada di Lampung.

Meski ini sudah satu minggu, laporan dan file-file tersebut semakin menumpuk. Banyak laporan anggaran yang teralihkan karena situasi perusahaan yang di ambang kritis.

Merc Company sedang digoyahkan oleh sekelibat kerabat Gallio yang menginginkan perusahaan tersebut. Dan, Marsya tengah melakukan daya apapun untuk keselamatan perusahaan yang dirintis kakeknya dibawah kekuasaan sang suami.

Laporan mendadak tentang keuangan, perubahan staf hingga kepala direksi menyita seluruh fokusnya.

"Ini buburnya, Bu."

Marsya mengangguk tanpa melihat wajah Melinda.

Di tengah huru-hara yang sedang dipadamkan Marsya, ada sebuah nyawa yang menemani tubuhnya.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang