Bab 3. Chewing Gum

86 15 80
                                    

"Salah apa gue ketemu cewek bego kek Cia?"
-Dino-

©nurpratiwihm

🍭

Kedua tangan Cia penuh dengan mangkuk dan piring berisi lauk pauk yang sempat dimasaknya tadi, Ia berjalan menghampiri Irsan yang sedang menata piring di meja makan berkat suruhan Cia.

"Nih makan, habisin ya."

Cia menaruh beberapa varian lauk yang menurut Irsan ini sangat keterlaluan. Keterlaluan banyaknya, hingga Irsan senyum-senyum asem macam monyet sedang naik ayunan.

"Wah parah lo Ci, katanya masak mie rebus tapi kok gak ada mie rebusnya?"

"Mata lo burem apa katarak? Gak liat noh mie nya berenang dideket paha ayam?"

Cia menunjuk mangkuk berisi sup ayam yang asapnya masih mengepul didepan Irsan.

"Loh sejak kapan sup ayam pake mie?"

Irsan mengambil sendok dan memeriksa mangkuk yang berisi potongan ayam, sayur seperti kentang, tomat, wortel, dan kawan-kawannya, "Ini mie apa? Bihun kan ini? Lo bego amat sih Ci? Tau masak gak sih?"

"Lah iya, bihun kan termasuk jajaran mie. Nah dia berenang didekat ayamnya. Jadi deh mie rebus. Kenapa? Gak suka?"

Oke Cia emang gak punya otak! Valid no debat ini.

Irsan menaruh sendoknya terlebih dahulu, "Sejak kapan mie dengan bihun itu sama? Beda Cia, beda."

Lah ngegas dianya.

"Lo ini banyak bacotnya ya? Kalau gak mau makan, sini biar gue yang habisin."

Irsan dengan gerakan cepat menahan piringnya agar tidak terjangkau dengan tangan nakal Cia.

"Pamali tau gak kalau udah ngasih terus diambil lagi," dengan segera Irsan menaruh makanan dipiringnya.

"Nyenyenye....bacot!"

Cia mencomot tahu goreng dan mencocolnya disambal tumis yang sempat membuatnya bersin-bersin tak karuan tadi.

"Cia next time masakin gue sate kambing ya? Ngidam."

Dengan mulut penuh makanan, Irsan berbicara lancar pada Cia. Hebat kan? Hebat dong, Irsan gitu.

Plak...

"Akh...," Irsan mengadu kesakitan,

Cia?

Salah!
Bukan Cia yang menggeplak kepalanya tapi ada manusia kurang ajar yang tiba-tiba nongol.

"Kalau lagi makan, mending jangan bicara dulu bangke. Keciprat kemana-mana, air liur lo bau."

Naren dengan segala wibawanya menaruh tas dan buku yang ditentengnya keatas meja makan lalu duduk disamping Cia dengan antengnya.

"Bang Naren kebiasaan kalau nongol suka seenaknya. Beri salam dulu kek, dasar syaiton." cibir Irsan dengan mulutnya yang tak pernah kosong.

"Gue udah teriak didepan tapi lo pada kagak dengar aja, sotong."

"Dusta lo bang. Gue gak dengar tuh."

"Iyalah gak denger, kuping lo kan banyak tainya."

"Emang lo pernah liat bang?"

"Kagaklah, kurang kerjaan banget gue ngintilin kotoran kuping lo."

Cia hanya diam membisu mendengarkan perkelahian kedua remaja cowok yang tak ada ujungnya. Seperti bumi yang tak memiliki ujung. Dih ngawur.

Asa Untuk RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang