05."KARMA?"

5.2K 644 103
                                    




Renjun diam membeku saat pandangan mereka bertemu dan makin membeku saat balita yang ditemaninya tadi menghampiri Jaemin dengan panggilan 'Daddy'.

Seketika hati Renjun hancur berkeping keping saat itu juga. Melihat interaksi hangat pujaan hatinya dan balita itu.  Satu kata yang memenuhi otaknya. Cuma satu.

"Menikah..."

" Jaemin sudah menikah"

"Daddy! Imo itu orang Korea. Imo itu yang temanin icung disini." Celoteh Jisung sembari menunjuk Renjun yang masih terpaku ditempatnya.

Jaemin memandang Renjun sekilas lalu kembali memandang Jisung dengan senyum hangat.

"Jinjja?Kemana Mama? Don't say She left you here? Again?" Tanya Jaemin

Jisung mengangguk dengan wajah murung.

"And same reason.  Pick up the call and then forget me here."

Jaemin mengeleng maklum.

"Maklumin, sudah nyanyuk" bisik Jaemin meledek menyebabkan Jisung tertawa pelan menyetujui kalimat ayahnya barusan.

Jisung teringat Renjun semula. Lalu menarik tangan sang Ayah.

"Come Daddy! Let me introduce that sweet auntie" Jisung menarik tubuh besar Jaemin dengan susah payah mendekati Renjun yang kini melotot imut.

"Imo! Ini daddy Jisung!"ujar Jisung ceria .

Renjun tersadar dan memandang Jaemin yang juga memandang dengan pandangan yang sulit Renjun tebak

Yang pasti itu bukan pandangan seperti dulu. Pandangan Jaemin yang memandang nya penuh puja,penuh cinta, penuh kelembutan dan penuh kejujuran.

Renjun mengeleng dan tersenyum kecut.

"Jaemin..." lirihnya

"Eoh? Imo mengenal daddy? " Tanya Jisung saat tak sengaja mendengar lirihan Renjun.

Renjun bungkam begitu juga Jaemin.  Tak berapa kemudian, Jaemin berdehem dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang anak.

"Kita harus pulang icung. Mama mungkin sudah di rumah menunggu kita. Icung tidak mahu kan dia membebel? Kajja?" Ujar lembut Jaemin dan mendapat anggukan Jisung.  Lalu Jaemin kembali ke posisinya tadi. Memandang Renjun lalu membungkuk sekilas dan mengulas senyum formal.

"Makasih kerna menemani anak ku, Renjun-shii . Kami duluan." Pamit Jaemin dan membalikkan tubuh lalu berjalan bergandengan tangan dengan Jisung meninggalkan Renjun.

Pemergian serta sapaan formal dari Jaemin membuat Renjun tak kuasa menahan cairan bening itu untuk keluar membasahi pipinya. Dia menahan cairan itu sejak munculnya Jaemin. Dan sekarang Jaemin sudah pergi. Cairan itu berlomba lomba keluar  dengan pandangan Renjun tepat di punggung lebar itu yang semakin menjauh dan menghilang memasuki perut mobil kelabu yang Renjun tebak milik Jaemin.

Sesampai di rumah, Renjun langsung mengurung dikamarnya membuat Mark dan Haechan bingung dan si kecil menjadi sasaran mereka.

"Lele imo mu kenapa, Sayang? "Tanya Haechan pada Chenle yang saat ini berada dalam pangkuannya

Mark juga memandang anak, ingin tahu apa yang terjadi.

"Molla. Tadi imo baik baik aja. Tapi saat kita pulang imo sudah mulung" jawab sang anak

Haechan menghela nafas. Penasaran nya masih belum terbalas dengan jawaban sang anak begitu juga sang suami.

"Tapi..."

Atensi Mark dan Haechan kembali ke Chenle yang mengantungkan ayat dengan kepala memiring seakan berfikir keras.

"Tadi Chenle lihat ada satu ajucci sama satu bocah seumur Chenle dekatin imo sebental aja lalu meleka pelgi lalu imo menangis. Mama! Iya! imo menangis tadi huhu!" Tiba tiba Chenle menangis seakan baru teringat akan peristiwa tadi.

Haechan terkejut dengan Chenle yang menangis.  Dia membawa sang anak dalam pelukan buat menenagkannya dan kembali memikirkan kalimat Chenle tadi.

Ahjussi? Balita?

"Siapa?"

"Kenapa Renjun menangis? "

Seperti itu lah persoalan persoalan yang muncul dibenak mereka.

Sedang kan yang menjadi bahan pembicaraan, kini menahan isak di kamar nya. Lebih tepat di atas kasur nya dengan memeluk boneka moomin yang dulu Jaemin dapatkan buatnya.

Renjun tahu dia tidak pantas menangisi Jaemin setelah perbuatannya dulu. Tapi tetap saja tidak mudah bagi Renjun menerima kenyataan ini.

Sakit...

Sangat sakit tapi Renjun tahu ini bahkan tak setanding dengan luka yang dia berikan pada Jaemin dulu.

Mungkin kah ini yang dipanggil karma? Jaemin sudah menikah dan mempunyai anak. Mengingat itu kembali jantung Renjun ditusuk berpuluh sesuatu yang tajam sangat tajam.  Membuat Renjun memukul mukul pelan dadanya itu berharap sakitnya reda. Tapi nihil, yang ada semakin sakit dan sesak.

Renjun tak kuat.

"Hiks... sakit. .. sa-hikss sakit sekali. ." Lirih dalam isakan yang kini pecah.Tak dapat ditahan lagi.

Saat-saat ini pula Renjun merindukan sosok Ryan. 

Ryan selalu ada untuknya. Tempat nya menumpahkan segala keluh kesahnya walau akhirnya bakal mendapat nasihat pedas nan tajam dari Ryan.

Jika ada Ryan pasti dia juga bakal marah pada Renjun.  Sudah pasti, terlihat Ryan yang sangat mendukung hubugan mereka. Untung juga Ryan sudah menghilang entah kemana selepas
peristiwa itu. Hilang tanpa jejak. Renjun pernah sesekali memanggil Ryan tapi nihil Ryan tak pernah muncul.

"R-Ryan. ..." lirih nya kembali sebelum jatuh tertidur dengan wajah sembab.



Meanwhile at same time but different place

"Jadi benar?" Jaemin yang tadi memandang kearah televisi kini beralih memandang wajah wanita disebelahnya.

Jaemin mengangguk, faham arah perbicaraan ini.

"Lalu?" Tanya wanita itu lagi

"Lalu apa?" Jaemin bertanya semula.

"Nana ..."

Jaemin memandang wajah penuh penyesalan itu lalu menghela nafas lelah.

"Molla.. aku masuk tidur dulu" jawab Jaemin dan tanpa menunggu balasan lantas meninggalkan wanita itu menuju ke kamarnya.

Didalam kamarnya, Jaemin menaiki kasur dan berbaring memandang lelangit kamarnya dengan pandangan kosong.

"Bogoshipeo...." lirih nya lalu memejamkan matanya perlahan lahan.







******

TO BE CONTINUED

******





NOTE:Gimana yini, Jaemin udah menikah?siapa wanita itu yorobun:( Jaemin rindu siapa itu. :author:) //dilabrak Renjun// btw

DARK PAST | JaemRenWhere stories live. Discover now