Bab 3 Menarik

1.6K 148 29
                                    

Mereka telah sampai di depan rumah joglo milik kakek Vito. Cukup besar, bahkan bisa dikatakan rumah paling besar dan terlihat wah dari beberapa rumah yang mereka lewati. Kayu jati mendominasi bangunan rumah itu. Ukiran-ukiran yang ada di pintu, jendela, dan sebagian dinding, membuat tiga orang yang mengekor Vito di belakang lumayan terkagum. Ternyata masih ada rumah seperti ini.

Seperti rumah joglo pada umumnya, saat masuk, ruang depan itu cukup luas, ah bahkan luas, seperti lapangan futsal. Tidak ada bilik kamar di sana, hanya ada meja kursi yang sudah dapat dipastikan itu adalah meja kursi untuk tamu. Beberapa pajangan lukisan dan foto-foto keluarga. Lampu gantung yang cukup besar menambah kesan mewah rumah ini. Sepertinya kakek Vito bukan orang sembarangan di sini.

Baru ketika mereka melewati pintu lagi, di sana baru terlihat ada bilik-bilik kamar, televisi, dan perkakas rumah tangga seperti biasa. Lala dan Chika telah merebahkan diri di kamar yang Vito tunjukan tadi. Perjalanan 9 jam cukup berhasil membuat punggung mereka kaku.

"Gede banget ya kak rumahnya," celetuk Chika dengan mata terpejam.

"Kayanya emang modelannya gini semua deh Chik rumah joglo tuh. Lo gak pernah ke anjungan Jawa Tengah yang ada di Taman Mini? Kek gini juga tau,"

"Pernah sih, tapi keren loh kak, kayu jati semua ini mahalll," kata Chika sambil bangun dari rebahannya. Dia masih saja terkagum-kagum dengan rumah kakek Vito.

"Sok tau banget lo, emang iya ini kayu jati?" Lala ikut duduk.

"Tadi Kak Vito yang cerita di kereta," jawab Chika santai. Lala menoleh cepat.

"Lo ngobrol banyak?" tanya Lala selidik. Chika mengangguk.

"Lo salah ah, Kak Vito asik kok orangnya, gak kaku. Cuma ya ngomongnya aja yang formal," Lala malah tertawa mendengar penyataan Chika barusan. Sepahamnya Vito itu memang kaku, jarang mengobrol banyak, apalagi sampai bercerita tentang rumah kakeknya yang dari kayu jati. Sekalinya ngobrol, pasti tentang kuliah atau akhir-akhir ini tentang proker.

Mereka sudah kenal lama dari semester dua semenjak sama-sama ikut klub Jurnalistik fakultas. Satu divisi, sering rapat bareng, ke mana-mana bareng, tapi yaa sependek Lala kenal Vito, benar-benar jarang Vito cerita. Cerita panjang lebar pasti seputaran jurnalisme, membosankan. Tapi, jika Chika berkata begitu, hmmm.

"Cinta itu datengnya sering tiba-tiba loh, Chik,"

"Hah?! Ngapa lo tiba-tiba ngomong gitu? Gak ada korelasinya sama omongan kita deh, ngaco!" Chika mendorong tubuh Lala. Dia malah cekikikan, paham betul jika membahas cinta, si Chika ini agak males.

"Ya gakpapa, gue Cuma memperingati. Dah ah, gue mau mandi," Lala bangkit, membuka kopornya mengambil handuk. Kemudian keluar meninggalkan Chika yang kembali merebahkan tubuhnya.

Isi tempurung kepalanya sedikit terusik dengan ucapan Lala. Dia tak pernah percaya cinta itu datang tiba-tiba. Bahkan pepatah jawa pun mengatakan witing tresna jalaran saka kulina, pohon cinta ada karena terbiasa, "Karena terbiasa". Pandangan pertama itu hanyalah pandangan kekaguman, bukan cinta, itu yang Chika percaya. Tapi?

"Apa iya ya?" dia memegang dadanya. Merasakan detaknya yang berarturan. Pikirannya terlempar ke insiden tadi, insiden saat rongga dadanya terpacu dengan cepat hingga timbul rasa hangat.

***

Pagi ini, mereka berempat sudah bersiap untuk pergi ke kantor desa. Mengutarakan hajat Vito dan Lala, menindak lanjuti untuk menjelaskan program kerja yang telah mereka tuliskan di proposal. Lala dan Vito berpakaian cukup formal, mereka terlihat sibuk membaca kembali program kerja mereka. Sebenarnya agak susah kalau hanya berdua yang menjelaskan setiap program kerja, karena setiap program kerja, penanggung jawabnya beda-beda, tidak hanya Vito dan Lala.

Rhythm Of LoveWhere stories live. Discover now