Bab 11 Hati, Ego, dan Logika

1.5K 137 91
                                    

Vito diam setelah merasakan panas dan nyeri di pipi kirinya akibat tamparan keras telapak tangan Chika. Dia masih mencerna tindakannya beberapa detik yang lalu. Tindakan bodoh yang menyebabkan Chika mendaratkan layangan tangannya ke pipi Vito.

Tidak, itu sama sekali tidak masalah, bahkan ia rela jika Chika mau meninjunya mukanya. Ia rela jika Chika mau memukulinya sampai berdarah-darah. Ia juga rela jika Chika ingin menghantam dirinya sampai ia sekarat sekalipun. Tapi, Vito tak akan pernah rela jika ia harus kehilangan Chika akibat kesalahannya ini. Ia tidak rela, benar-benar tidak rela.

Vito menggeleng-gelengkan kepalanya. Terus berpikir tentang kebodohannya barusan. Ketidakrelaan hatinya karena Chika dicium oleh laki-laki lain, membuat pikiran dan nalar Vito buntu. Harusnya ia membalas dengan mencium pipi bekas bibir Jaya tadi jika ingin menghilangkan jejak bibir laki-laki itu, bukan malah merenggut bibir Chika seperti tadi.

Kenapa saya bodoh banget?

Dia merutuk dalam hati.

Dia benar-benar menyesal, sangat. Padahal dia sendiri yang mengatakan akan melindungi gadis ini. Tapi dia malah mencuri bagian berharga milik Chika. Vito tak habis pikir dengan tindakan lancangnya barusan. Baru saja di jalan pulang tadi ia berdebat dengan Chika. Apa sekarang ia bisa membenarkan ucapan Chika, bahwa yang bermasalah itu pikiran laki-laki?

Tentu, tidak bisa menyimpulkan semua laki-laki seperti itu. Tidak juga bisa dibenarkan kalau pikiran liar itu adalah wajar. Karena, bagaimanapun juga, kontrol dalam diri itu penting, terutama untuk melindungi anak orang yang dicintai.

Vito meraih tangan Chika saat gadis itu hendak keluar. Ia memberanikan diri untuk menatap Chika. Wajah lelah dan kacau Chika terpancar menyambut manik mata Vito yang kini telah terbungkus cairan bening. Rasa bersalah benar-benar menyelimuti hatinya saat ini.

"Chika, maafin saya," lirih Vito. Ia menatap penuh iba ke arah Chika.

Chika tak menjawab. Dia sibuk melepaskan cengkraman tangan Vito. Dadanya naik turun, nafasnya memburu, tapi ia tidak bisa mengeluarkan amarah untuk mencaci maki Vito. Dia kecewa dengan Vito, tapi dia lebih kecewa dengan dirinya sendiri. Jika dia lebih mengindahkan nasehat Vito, mungkin akan berbeda skenario. Jika ia tahu bahwa Vito lah yang termakan umpan, dia mungkin akan memilih untuk pulang bersama Dey dan Bri.

Banyak orang bilang, perempuan tidak pernah salah. Tapi, apa aku boleh tidak sepakat dengan itu? Apa aku boleh mengatakan kalau perempuan itu maha-salah, bukan maha-benar?

Helaan nafas kasar Chika hembuskan. Dia memejamkan matanya. Wajah Vito yang terlintas dalam pejamnya membuat Chika benar-benar lemah, dia benar-benar tidak bisa menghunjani laki-laki ini dengan kata-kata kemarahan, cacian, atau bahkan umpatan. Dia benar-benar tidak bisa. Perlakuan Vito terhadap dirinya selama ini seolah meredam amarahnya akibat ciuman lancang tadi.

"Kak, tolong lepasin," pinta Chika yang kini menunduk menatap pergelangan tangannya yang dicengkeram Vito.

"Please!" kali ini suaranya terdengar penuh dengan penekanan.

Mungkin untuk sebagian orang ciuman bibir itu merupakan hal biasa. Tapi bagi Chika, ini pertama kalinya, meski Vito tadi hanya menempelkan bibirnya. Tapi sama aja, sama-sama ciuman. Ah– dia, mungkin bisa menjadi cemoohan orang-orang di luar sana karena dianggap terlalu berlebihan menyikapi ini.

Ada alasan-alasan yang membuat Chika khawatir dengan yang namanya ciuman bibir. Jangan anggap remeh pengetahuan Chika tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika tidak berhati-hati dengan hal itu. Gracia selalu memberinya edukasi agar ia punya batasan-batasan saat menjalin hubungan dengan lawan jenis. Mamanya selalu mengingatkan Chika, agar sebisa mungkin menghindari yang namanya menyatukan Labia oris itu. Hal ini juga yang membuat Chika kecewa dengan dirinya sendiri karena ia telah melanggar salah satu peringatan Gracia.

Rhythm Of LoveWhere stories live. Discover now