"Holyshit." Sooyoung mengumpat untuk kesekian kalinya malam itu.
Berbeda dari umpatan yang memuat kekesalan, umpatan Sooyoung tidak lain dan tidak bukan merupakan gambaran keterkejutan. Ia masih syok saat tau kalau guru matematikanya yang super jutek dan menjengkelkan, bisa tampil penuh karisma di depan puluhan tamu undangan.
Jangan lupakan fakta kalau gurunya itu juga punya suara yang bagus.
"Hell, aku tidak percaya yang tadi itu miss. Nora. Apa aku berhalusinasi?"
"Itu tidak mengejutkan kok." Suhwa menyambung dari bangku depan. Chanyeol yang mengemudi di sampingnya menyimak tanpa kata. "Dulu dia adalah bintangnya fakultas Seni."
"Bintang? Seperti populer?"
"Mungkin bisa dibilang begitu. Soalnya, dia itu tipe social butterfly."
"Social butterfly itu apa?"
"Orang yang mudah bergaul dengan semua orang," terang Chanyeol tenang.
"Miss. Nora? Aku ragu dia orang yang seperti itu." Sooyoung agak skeptis akan deskripsi Suhwa.
Lee Nora yang biasa Sooyoung lihat sehari-hari adalah sosok yang jauh dari kata bersahabat. Dia jutek, cerewet, super perfeksionis, suka mengomel, dan kelihatan jenuh sepanjang waktu. Orang yang punya sikap temperamental seperti Nora tidak mungkin bisa bergaul dengan siapa saja.
Apa mereka salah orang?
"Jujur saja, aku tidak menyangka dia menjadi guru." Suhwa mengajak Chanyeol bicara, "Maksudku, dia dulu sangat menyukai musik, kan? Dalam ingatanku, dia selalu berkeliaran dengan gitar sebagai cangkangnya."
"Yaah, orang berubah." Sooyoung menyahut.
"Chanyeol tidak." ucapan itu lebih seperti ejekan.
"Oh, kalau dia sih aku tidak heran." Sooyoung menyilangkan kaki.
"Membicarakanku saat aku ada di sini. Kalian cukup lancang." Chanyeol akhirnya bersuara.
Mobil yang sebelumnya melaju, perlahan berhenti di depan sebuah rumah dua tingkat bergaya eropa klasik. Rumah yang dipenuhi tanaman hias pada teras depannya itu adalah kediaman utama keluarga Park Chanyeol. Ayah dan ibunya bersama Sooyoung tinggal di sana. Sena juga, dulunya.
"Kau tidak mampir?" Sooyoung turun dari mobil.
"Tidak."
"Heeh, terserahlah."
-
"Apa aku salah?" Suhwa sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk saat ia menghampiri Chanyeol yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"Ya?"
"Saat aku bilang kau tidak berubah, kau kelihatan kesal."
Chanyeol menarik perhatiannya dari HP, dan mendongak kepada Suhwa. "Aku tidak kesal. Aku cuma tidak suka kalian membicarakanku."
Suhwa menjatuhkan handuknya ke pundak dan duduk di samping Chanyeol. "Yakin cuma itu?"
Senyum Chanyeol merekah jenaka, "Memangnya apa lagi?"
"Yah, siapa tau kau tidak suka dengan omonganku."
Suhwa memandang Chanyeol dengan sepasang mata cokelatnya yang memantulkan cahaya lampu. Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu, dan sampai saat ini, Chanyeol yang berada di hadapannya seakan membeku di dalam waktu.
Chanyeol yang ada di hadapannya masih Chanyeol yang sama. Tidak peduli berapa centi tingginya bertambah, atau seberapa matang pikirannya berkembang, dia dan hatinya masih jatuh untuk orang yang sama.
"Aku tidak punya alasan untuk sewot dengan omonganmu." Chanyeol bergumam sambil menarik dagu Suhwa agar lebih dekat menghadapnya, "Lagipula, apa yang kau ucapkan adalah kebenaran."
Jawaban itu sudah Suhwa duga. Tapi, meskipun begitu, ia tetap merasakan kecewa di dalam hatinya. Bahkan, ketika bibir Chanyeol berlabuh di bibirnya, rasa ngilu yang merayap di dadanya tetap berada di sana. Seperti tato permanen yang akan terus mengingatkannya, perih di hatinya akan tetap sama.
Bahwa, tidak peduli seberapa banyak waktu yang ia habiskan untuk pria itu atau seberapa hangat dekapan yang mereka bagikan di keheningan malam, hati pria itu tidak akan pernah berubah.
Park Chanyeol tidak akan pernah menjadi miliknya.
-
A/N :Tiba-tiba pengen menulis cerita sedih, setelah beberapa hari ini terpaku sama cerita mafia-mafia...xD
Gak jelas banget. Anyway, ini pendek..kekekeke, soalnya draft lama.
Selamat membaca 😘

YOU ARE READING
HARMONIA (PCY)
FanfictionTo you, please remain smiling. Or else, I will cry. HARMONIA - JADE