PART 19

2.4K 168 9
                                    

HAPPY READING 📖
_
_
_

"Oh ya, Ma. Ini ada barang buat Mama dari Aldo temen Sandra, katanya buat calon mertua," setelah menyelesaikan misinya Sandra berlari menuju kamarnya. Dia sedang tidak ingin di ganggu.

– GATRA –

"Apa maksudnya Sandra ya, Gat?" tanya Bela.

"Gatra gak tau, Ma. Gatra ke kamarnya Sandra dulu ya, Ma?" Bela mengangguk, Gatra berjalan ke kamar Sandra. Dia membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Gatra duduk di kasur milik gadis itu membuat kasur sedikit bergerak. Sandra yang berbaring membelakangi Gatra akhirnya berbalik. Sandra bangun dari tidur, duduk di samping kasur.

"Sandra."

"San."

Gatra menghela nafas berat, ia tau sangat susah untuk membuat Sandra tidak marah lagi kepadanya.

"Semua yang di bilang Miss Agnes itu gak bener. Aku gak punya acara sama dia, aku juga gak pulang sama dia. Aku bilang gak bisa anterin kamu pulang itu karena rapatnya selesai jam empat."

Gatra berjalan memutar, berjongkok di hadapan Sandra yang duduk di pinggir kasur. Lalu memegang tangan Sandra sambil menatap lekat mata Sandra yang berkaca-kaca.

Hati Gatra berdenyut melihat itu apalagi gadisnya seperti itu karena perbuatan dirinya.

"Aku minta maaf," kata Gatra.

Satu tetes air mata Sandra jatuh mengenai punggung tangan Gatra, Gatra marah pada dirinya sendiri. Marah karena masih saja membuat Sandra mengeluarkan air matanya.

"Jangan nangis," tangan Gatra berpindah memegang kedua pipi Sandra, menghapus air mata yang keluar dengan sendirinya.

"Pergi!" Gatra diam, tidak beranjak dari tempatnya.

"Gatra pergi!" masih sama.

"Aku benci sama kamu!"

"Maaf," balas Gatra pelan.

Kata maaf yang keluar dari mulut Gatra membuat tangis Sandra semakin menjadi-jadi. Entah siapa yang salah di sini.

Gatra mendekat ke arah Sandra, mencoba menenangkannya.

"Kenapa kamu gak pergi aja sama Miss Agnes! Dia lebih cantik, lebih seksi juga!"

"Aku gak suka kamu deket-deket sama dia!"

"Dia perempuan yang gak baik. Udah banyak guru yang dia goda. Pasti kamu juga di godainkan sama dia?!" ujar Sandra memukul bahu kanan Gatra dengan sedikit keras hingga membuat pemilik bahu meringis menahan nyeri.

Gatra membiarkan Sandra mengeluarkan semua unek-uneknya. Berharap perempuan itu dapat tenang setelah mengeluarkan semuanya.

"Udah selesai?" tanya Gatra.

"Udah."

Gatra memeluk Sandra, mengusap punggung perempuan itu agar lebih tenang.

"Jangan nangis lagi dong."

"Hm."

"Nanti tambah cantik kalau nangis."

"Gatra apaan sih!"

"Mau dengerin aku gak?"

"Apa?" jawabnya masih dengan nada ketus.

"Aku marah sama kamu."

"Aku? Kenapa?" tanya Sandra penasaran.

"Iya. Kamu udah buat aku marah gara-gara jalan sama cowok lain."

GATRA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang