Day 2

36 6 1
                                    

Tema: Dari web randomtarotcard dan tulis cerita berdasarkan kartu yang didapat.

The HermitThe Hermit reminds you to give yourself proper time for self-reflection and introspection, but you must also take care not to drift into isolation or excessive self-involvement

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

The Hermit
The Hermit reminds you to give yourself proper time for self-reflection and introspection, but you must also take care not to drift into isolation or excessive self-involvement.

****

Judul: Siapa Aku?

Genre: ... Spiritual?

***

Masih hawa liburan.

Enak sekali hanya mendekam di dalam rumah. Dalam hal ini, aku ada di Rumah Bukit. Melupakan sejenak tentang kenyataan yang, jujur, malah semakin terasa tidak nyata. Kali ini, aku tidak terperangkap di Hayalan. Justru aku yang melarikan diri ke sini.

"Hari ini mau di sini aja?" tanya R.I. "Kukira, kamu mau langsung jalan ... entah ke mana."

"Ya, aku mau keliling sekitar sini ... sendiri," jawabku. "Kamu tahu maksudku sendiri, 'kan?"

R.I. mengangguk. "Itu berarti aku ikut."

R.I. adalah manifestasi diriku versi strict. Dia ada di dalam diriku, mengingatkanku akan berbagai macam hal yang harus kulakukan dan harus kuhindari. Dia alarm yang akan memberitahu tanda bahaya. Dialah garda terdepan penyaring informasi yang kuterima. Dia ... ada, untuk menjagaku luar-dalam, jiwa maupun citra. Dialah sisi idealisku yang tidak bisa diganggu gugat siapa pun.

Aku pamit pada semuanya, termasuk Deha. Aku tak perlu membawa-bawa masa laluku untuk menyendiri, bukan? Yang ada, aku malah terbayang-bayang ...

Ah, ya. Ada yang mengirimiku pesan tadi. Lupakan, lupakan.

Aku diam, R.I. diam. Aku merasa, kali ini, aku sedang berada dalam puncak suatu fase yang aku juga tidak tahu pasti apa itu. Seolah, aku bisa memaknai diriku lebih dalam. Tanpa Deha pun, aku bisa mengingat segala hal yang mau kuingat.

Tunggu, aku ini kenapa?

Aku menyusuri hutan tanpa jalan setapak, tak peduli jika tersasar-aku bisa kembali ke tempat mana pun yang kumau di sini. Bisa teleportasi? Ya. Namun, apa enaknya teleportasi untuk jalan-jalan ke tengah hutan begini? Jalan kaki normal jauh lebih membahagiakan.

Pikiranku bermain. Libur sebentar lagi usai. Aku harus kembali ke kehidupan nyata ... berhubungan dengan orang-orang, membicarakan tugas kuliah, belajar, fokus, mengejar nilai ....

Ah. Beberapa hari terakhir ini, aku merasa amat antisosial.

Seperti yang kukatakan di awal, dunia nyata malah terasa makin tidak nyata. Justru aku merasa lebih dekat dengan mereka di dunia maya, bahkan di imajinasi-seperti di Hayalan ini. Ada pesan masuk, aku melupakannya. Aku tak ingin berhubungan dengan siapa-siapa di kenyataan. Aku ingin menyendiri bersama pikiranku, para alter ini yang akan menjadi tamengku.

Benarkah?

Apa selama ini aku bertopeng? Lantas, siapa diriku yang sebenarnya?

Para alter ini ....

Aku menarik mereka jika aku dalam keadaan tertentu. R.I. yang paling sering kutarik, ia menjaga idealisme yang fatal akibatnya jika kulanggar. Nanti bisa tak tahu malu, tak peduli dosa. Di kehidupan yang makin kacau ini, menjaga harga diri, izzah dan iffah, makin sulit, apalagi jika dibayang-bayangi harta maupun impian.

Yang lain? Kebanyakan kutarik jika aku butuh teman mengobrol. Aku melihat dari kacamata mereka untuk menemukan sudut pandang berbeda, sehingga aku bisa mengantisipasi dan tidak kaget atau sakit hati dengan reaksi orang lain. Beberapa juga akan kumunculkan kalau aku butuh skill tertentu. Kalau mau membedah lagu, misalnya, aku akan memanggil Tora (haha). Kalau mau presentasi, aku memanggil siapa pun yang jago bicara, Radit misal.

Makin lama, aku merasa kepalaku makin berat. Di titik ini, aku merasa terbalik dengan beberapa saat lalu. Tadi, aku merasa aku begitu mengenali diri sendiri. Tiba-tiba, aku ... krisis identitas.

"Hei, kamu itu tetaplah dirimu. Berapa pun banyaknya alter atau apa pun itu kau menyebutnya, semua itu ada di dalam dirimu. Mereka adalah kamu, kamu adalah mereka. Kamu tetaplah kamu."

Suara R.I. menyadarkan lamunanku.

"Lihat, kita sampai sini," ujar R.I. Ia menunjuk satu arah.

Mata air.

Sinar matahari menembus sela dedaunan, membias membentuk pelangi di antara gemericik air. Beberapa serangga mendengung, menyentuh bebungaan dengan malu-malu. Rumput hijau tampak tebal dan empuk, juga basah dengan aliran air di sela-selanya. Bebatuan bertumpuk membentuk pancuran. Sebuah pancang batu ada di sana, bertuliskan nama sang pemilik tanah pertama, sudah hampir seratus tahun umurnya.

".... Ya, aku tetap diriku." Aku menunduk, lalu berjongkok di tepi mata air yang terbendung. "Aku adalah aku ... meski itu sepuluh tahun lalu, atau sekarang ... aku tetap aku. Ya, 'kan?"

R.I. tak menjawab.

"Bahkan meskipun aku memakai topeng, itu tetap aku yang apa adanya." Aku menghela napas. "Aku udah terbagi menjadi beberapa keping yang dihidupkan oleh kalian. Aku enggak bisa terpisah dari kalian. Aku ... aku udah terlalu lama tenggelam dalam peran orang lain begini. Tapi, aku masih orang yang sama ...."

"Kamu masih sama dengan kamu pas baru lahir, pasti," komentar R.I. "Yah, meski aku enggak tahu, dan kamu pasti udah lupa. Yang bisa dipastikan, kamu itu masih sama dengan dirimu lima belas tahun lalu, 'kan?"

Aku membelalak. "Diam!"

"Aku akan diam. Kalau kamu sudah tenang, ayo balik. Keburu malam. Besok mau pergi, 'kan?"

Aku membuang napas, lalu mengangguk. Ada baiknya aku segera berkeliling Hayalan sebelum kembali ditarik kenyataan, kecuali terhalang sesuatu, tema misalnya.

"Silakan berpikir tentang dirimu sendiri sampai merasa tenang. Katakan saja kalau butuh saran. Aku ada di sini, kamu tahu. Aku enggak akan ke mana-mana, sampai kamu membuangku."

Hatiku tiba-tiba mendingin.

*****

Day 2 - done!

Jkt, 1/2/22
zzztare

Trapped in Hayalan (Again)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang