19|| Mimpi Buruk (Bagian 1)

1.9K 167 60
                                    

Pahlawan bukan orang yang menolong orang lain, tetapi orang yang menolong dirinya sendiri untuk berguna bagi yang lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pahlawan bukan orang yang menolong orang lain, tetapi orang yang menolong dirinya sendiri untuk berguna bagi yang lain.

☁☀☁

Ares mendapatkan sanjungan dari Panglima Hann dan empat anggota Pasukan Bintang. Anggota paling muda yang tidak disangka-sangka mampu menjadi kambing hitam dan membawa kemanangan itu benar-benar luar biasa.

Secara fisik, mungkin Ares yang paling lemah. Namun, ia tidak hanya mengandalkan kemauan, tetapi anak itu punya kemampuan. Saat melihat lawan mencoba menjatuhkan pedang lawan-lawannya. Ares terus mencoba berada di belakang lawan agar tidak terlihat. Ia bisa melihat peluang dan mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punya untuk menjatuhkan pedang lawan.

Alih-alih naik kuda, Panglima Hann dan Pasukan Bintang memilih berjalan untuk pulang. Mereka harus istirahat yang cukup untuk pertandingan semifinal besok siang.

"Malam ini adalah milik Ares, kau boleh meminta apa saja!" kata Razo yang begitu semangat.

"Ayo kita mandi bersama! Bukannya di rumah Panglima Hann ada pemandian air hangat?" tanya Ares.

"Sebenarnya bukan pemandian air panas seperti yang ada di gunung, kami hanya menyiapkannya air hangat ke kolam mandi," ungkap Panglima Hann sembari tertawa kecil.

"Apakah boleh?" pinta Ares.

"Tentu saja, pahlawan kita ini bisa mandi air panas," ujar Panglima Hann yang menepuk pundak Ares.

"Kau sangat keren," bisik Ludov ke Ares yang di sampingnya,

Anak sebelas tahun itu kini tersenyum bahagia.

Zuli yang tersenyum senang karena Ares, lalu beralih memperhatikan Letta. Gadis itu walau tersenyum tetap terlihat menyimpan beban sendiri. Zuli tahu, pasti Letta kecewa dengan dirinya sendiri. Letta pasti ingin bisa diandalkan, tetapi malah mengecewakan. Kalau bukan karena Ares, mereka akan pulang membawa kemenangan.

"Ini semua salah Razo, dia memang sangat menyebalkan," bisik Zuli.

Letta menggeleng. "Aku yang ingin bertarung, Razo memberiku kesempatan, tetapi aku gagal."

"Tidak masalah."

"Ya, setidaknya kita bisa melihat kemampuan Ares yang tidak boleh kita remehkan lagi," ujar Letta seraya mengangguk.

Zuli tersenyum, lalu merangkul Letta. Kemudian, ia memperhatikan Razo yang tampak diam saat Panglima Hann, Ludov, dan Ares membahas mandi bersama dengan air panas. Apa yang pemuda itu pikirkan? Zuli menggeleng, ia tidak mau peduli.

☁☀☁

Kolam mandi di rumah Panglima Hann itu sudah diisi air panas. Aroma terapi juga ditaruh di ruangan itu sehingga saat masuk ke ruangan tercium bau yang harum. Ludov dan Ares masuk ke kolam dengan senang. Mereka bermain air dan tertawa.

Sora RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang