Part 18

2K 426 38
                                    

Keadaan kantor pagi ini cukup lengang dibanding hari biasanya, mungkin karena hujan customer lumayan sepi. Arimbi sudah berada di ruangannya, setelah menyalakan laptop ia mulai merapikan meja. Pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, ia sudah hampir menyelesaikannya kemarin.

"Pagi, Rimbi." Sapa Marisa sembari membawa secangkir kopi, aromanya menguar dan asap kopi mengepul terlihat menggiurkan saat dingin begini.

"Pagi, enak tuh kopinya." Seru Arimbi.

"Kopiku memang enak, tapi berita yang kudengar di pantry pagi ini nggak enak." Balas Marisa.

"Berita apa?" Tanya Arimbi, ia menghentikan aktivitasnya merapikan meja. Marisa sudah duduk manis dikursinya setelah meletakkan cangkirnya dimeja, lalu ia menghadap Arimbi.

"Ada yang menggosipkanmu, anak-anak nanya apa benar kamu ngerebut tunangannya orang?"

Alis Arimbi mengkerut? Merebut tunangan orang? Bagas? Tiara? Ah ya, pasti mereka pikir Arimbi, tapi siapa yang menyebarkannya? Darimana mereka tahu.

"Siapa yang menyebarkan gosip seperti itu?" Tanya Arimbi.

"Aku nggak tahu dari mana gosip ini, apa yang mereka maksud itu Bagas? Apa benar Bagas punya tunangan? Lalu kamu?" Cecar Marisa, wajahnya terlihat penasaran dan tidak suka kalau seandainya gosip itu benar.

"Yang mereka maksud memang Bagas."

"Hah," seru Marisa.

"Tenang dulu," Arimbi berusaha mereda keterkejutan Risa. "Bagas belum tunangan, ia baru AKAN ditunangkan, tapi Bagas menolak." Jelas Arimbi.

Marisa terlihat lega mendengar penjelasan Arimbi, "jadi begitu ceritanya, terus siapa yang nyebarin berita hoaks itu di kantor?"

"Aku juga nggak tahu. Calon tunangannya Bagas itu namanya Tiara, beberapa waktu lalu Tiara kemari, memintaku untuk melepaskan Bagas."

"Apa? Lancang sekali orang itu kemari, seenaknya saja, lalu?"

"Ya udah, aku nggak mau terus dia pulang. Dan sekarang gosipnya menyebar seperti ini." Desah Arimbi.

"Kalau ceritanya nggak benar nggak usah ambil pusing, yang menyebarkan akan muncul dengan sendirinya."

"Perasaanku nggak enak, Ris." Keluh Arimbi.

"Udah nggak apa-apa, abaikan saja." Pesan Marisa.

Tak lama setelah itu Nesa masuk ke ruangan Arimbi.

"Pagi, Arimbi dan Marisa sayang." Sapa Nesa dengan nada yang dibuat-buat.

Arimbi dan Marisa berpandangan.

"Pagi, ada apa?" Tanya Marrisa sinis.

"Ckckck jangan sewot dulu, aku kemari mau minta maaf sama Arimbi." Ucap Nesa dengan wajah yang disedih-sedihkan.

"Minta maaf?" Kata Arimbi heran.

"Iya. Aku nggak tahu kalau pesta yang kuadain kemarin ternyata beban buatmu, sampai-sampai kamu harus merebut tunangan orang."

"Apa maksudmu?" Bentak Arimbi marah.

"Aku membicarakan Bagas dan tunangannya, Tiara. Kamu jangan pura-pura lupa deh." Kata Nesa.

"Oh, jadi kamu biang keroknya. Kalau kamu nggak tahu apa-apa lebih baik diam." Bela Risa.

"Yang aku bilang benar 'kan, Arimbi?" Nesa tetap berusaha menyudutkan Arimbi.

"Tiara bukan tunangannya Bagas." Jelas Arimbi.

"Akan, tapi mungkin harusnya sudah, kalau kamu nggak datang dan menggoda Bagas."

Blind DateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang