Part 22

2.2K 382 37
                                    

"Eyang,"

Tiara berlari mendekati eyang Muti yang tengah bersandar di ranjan. Tiara langsung memeluk eyang dan menangis.

"Maafin Tiara, Eyang, Tiara baru tahu kalau sakit jantung eyang kambuh lagi." Tiara menangis sesenggukan dibahu eyang. Eyang Muti mengelus punggung Tiara lembut.

"Ora popo, awakmu nengdi wae kok pirang-pirang ndino kok ora mulih ning omah iki?" tanya Eyang.

(Ndhak apa-apa, kamu kemana saja beberapa hari ini nggak pulang ke rumah ini?)

"Ngapunten Eyang, Tiara sampun pindah sakniki, Tiara nyewa apartemen mirah."

(Maafkan aku, Eyang. Tiara sudah pindah sekarang, Tiara menyewa apartemen murah)

"Opo?" seru eyang terkejut.

(apa?)

"Ngapunten, Eyang. Tiara pindah ndhak memberitahu eyang terlebih dahulu."

"Opo ono masalah sing mbok alami selama urip ning kene? Opo ono sing ganggu awakmu?" tanya eyang tajam.

(Apa ada masalah yang kamu alami selama tinggal di sini? apakah ada yang mengganggumu?)

"Oh mboten ngeten Eyang, eyang ampun salah paham, sedoyo ingkang mriki sae kalih kulo, namung..." Tiara tidak melanjutkan ucapannya, ia memainkan tangannya, ia ragu untuk mengatakan pendapatnya.

(Oh bukan begitu eyang, eyang jangan salah paham. Semua yang ada di sini bersikap ramah padaku, hanya saja ... )

"Namung ... " ulang eyang.

(hanya saja ... )

"Eyang, Tiara mboten purun mbahas niki." ucap Tiara.

(Eyang, aku ndhak mau membahas ini ya)

"Tiara koe kui omong opo to,koe kui tamu ning kene, koe kui amanahe bapak lan ibumu."

(Tiara, kamu itu bicara apa sih? kamu itu tamu di rumah ini, kamu itu amanahnya bapak dan ibumu)

Tiara menangis, "Tiara
ndhak enak sama mas Bagas, Eyang."

"Bagas?"

Tiara mengangguk, "Mas Bagas seperti terganggu dengan kehadiranku di rumah ini. Dan aku ndhak bisa tinggal di sini terlalu lama, Eyang, kecuali ... kalau aku dan mas Bagas sudah bertunangan, kita bisa mempercepat pernikahan, Eyang."

Eyang terdiam beberapa saat, entah apa yang ada dipikirannya. Lalu ia berkata pada Tiara.

"Tiara, sayang. Kamu jangan sedih lagi ya, nanti eyang bicara lagi sama Bagas." Eyang berusaha menenangkan Tiara.

"Jangan dulu, Eyang. Sekarang yang penting itu kesehatan, Eyang. Eyang harus segera sembuh ya. Tiara sungguh merasa bersalah, di saat eyang sakit seperti ini, Tiara ndhak bisa merawat dan menjaga, Eyang." ucap Tiara lemah.

Eyang tersentuh dengan perhatian Tiara, "kamu anak yang baik dan juga cantik Tiara. Kamu juga dari keturunan ningrat sama seperti Bagas. Kalian berdua akan sangat serasi menjadi pasangan suami istri." ucap eyang, wajahnya tersenyum bahagia, ia membayangkan pernikahan cucunya akan berjalan sempurna.

"Terima kasih banyak, Eyang Muti yang cantik dan juga baik hati. Tiara sayaaaaang sekali sama eyang." Tiara memeluk eyang dengan perasaan bahagia, di balik punggung eyang Tiara tersenyum licik.

***

"Gimana keadaan ibu sekarang?" tanya Adhinata.

Eyang membuang napas pelan, "Ibu sudah baikan, ibu begini itu karena kepikiran Bagas terus." kata Eyang.

Blind DateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang