72, Pertemuan Kelima

100 35 8
                                    

Hari berganti terasa lambat. Berat untuk dijalani apalagi dinikmati. Semua memilih diam. Status quo. Membiarkan Nana menenangkan diri dan Angkasa menghukum diri.

Lepas Ari mengantar Nana ke kampus di Senin pagi, tidak ada lagi kabar dari gadis itu masuk ke ponselnya. Hanya Dee yang beberapa kali menanyakan kabar. Itu pun hanya dijawab seperlunya. Akhirnya Dee mengambil cara lain. Bertanya pada teman kampus dan kos. Termasuk menitipkan Nana pada the boyz.

Angkasa?

Entah sebutan apa yang cocok untuk lelaki itu. Ari hanya melihat dia bekerja lebih giat atau malah sudah gila. Wajahnya yang dulu sering terlihat mengesalkan sekarang lebih serius dan tekun. Dia menjadi tidak pernah bergurau. Bertemu Angkasa menjadi hal yang sulit. Menghubungi Angkasa hanya akan dijawab seadanya saja.

Apa yang bisa Fabian lakukan? Tidak ada. Dia hanya orang luar di konflik ini. Terlalu jauh dan tidak terlibat langsung. Dia hanya bisa memastikan dua orang itu cukup baik dari produktivitas mereka. Dia membiarkan keduanya membunuh waktu dengan belajar dan bekerja.

Namun apa yang sesungguhnya kedua orang itu rasa?

Sakit.

Apa yang keduanya takuti benar terjadi. Nana yang takut Angkasa back to past, dan Angkasa yang takut kehilangan Nana. Semua terjadi.

Mungkin benar bahwa seharusnya manusia jangan mau dihantui oleh ketakutannya sendiri. Bahwa manusia akan diuji sesuai ketakutannya. Karena hanya jika dia takut maka dia akan merasa diuji. Semakin besar rasa takut semakin berat juga ujian itu terasa. Semakin besar rasa takut itu maka akan semakin besar sakit yang dirasa ketika ketakutan itu menjadi kenyataan.

Tapi hati adalah tempat ketakutan dan kecemasan bersemayam. Dan mengatur hati sesulit mengatur isi kepala orang lain. Tapi selalu ada yang tertinggal dari sebuah cerita yang tak selesai. Entah itu sakit, entah itu rindu. Rasa itulah yang keduanya rasakan.

Ketakutan itu tidak bisa menghilangkan rindu. Kehilangan itu menyisakan sakit. Itulah yang berusaha mereka hilangkan di sepanjang jalur waktu.

Ketika hari berganti minggu dan minggu menjadi bulan. Terlalu banyak jeda yang diisi kesepian dengan melamun. Senyap yang tidak bisa hilang meski keramaian melingkupi keduanya. Sepertinya, kehadiran mereka hanya menjadi pelengkap penderitaan manusia.

Malam itu, setelah minggu berganti bulan, orang sebut sebagai malam panjang. Angkasa diam merenung—melamun—sendiri di ketinggian ibukota. Saat-saat seperti ini, seberapa pun kuatnya dia berusaha, isi kepalanya pasti terisi kembali dengan sosok seorang gadis.

Seperti malam itu. Belum jauh malam. Matahari baru hilang dari sudut barat bumi saat dia duduk menghabiskan berbatang-batang rokok ditemani segelas kopi. Ponsel di meja menjadi tidak berguna ketika dia mematikan sambungan data dan GSM. Meski begitu, ketika sebelah tangannya menjepit sebatang rokok, maka tangannya yang menganggur tanpa diperintah otak mengambil benda itu.

Ujung jarinya bergerak asal seluas layar sampai akhirnya jari itu membuka koleksi foto. Terus menggulir sampai tiba-tiba jari itu berhenti di sebuah foto. Angkasa tentu langsung teringat momen sampai foto itu tersimpan di ponselnya. Foto seorang gadis manis menyuap sesendok nasi.

Mengingat itu, Angkasa mendengus tapi tetap tersenyum.

Apa kabar, Na? Kamu sudah lebih baik kan? Suara hatinya berbincang dengan gadis itu sambil tangannya membelai layar.

Masa depan benar-benar misteri. Apa yang manusia pikir baik, bisa saja berakhir buruk. Seperti momen di foto itu. Saat itu dia adalah Angkasa di langit biru yang melayang dibuai awan. Saat dia mengira semuanya membaik dan berjalan seperti yang dia mau. Dia begitu bersemangat ingin ikut menjenguk Dinda.

Di Sudut-Sudut Hati [on going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang