Bab 78. Tanggung Jawab

142K 13.1K 1.2K
                                    



Sesuai janji kemarin, gue up hari ini.

Ini dia barangnya sudah di up, hahah

Absen dulu.

Gimana kabar hati lo saat ini, gengs?

Gak komen, ditinggal kawin!

***





 "Ayo..."

Kevin mengajak Citra ke atap sekolah. Citra enggan, tapi cowok itu tetap memaksa. Dia menggenggam erat tangan cewek itu. Kevin sudah kembali sekolah, mereka terus bersama ketika sedang istirahat.

Perjanjian semua akan kembali normal setelah mereka lulus, batal total. Kevin tidak mau menjauh dari Citra. Cewek itu bisa apa jika Kevin kembali kehabitatnya?

"Kamu pasti belum pernah ke atap sekolah." Cibir Kevin.

"Emang ada apa di atap sekolah?" Tanya Citra mengernyit.

"Tempat tidur." Jawab Kevin asal. Citra berdecak, mereka menaiki undakan tangga. "Kamu hantu penunggu perpustakaan. Nggak yakin kamu pernah mengelilingi sekolah!"

Citra tersenyum. "Sama aja." Jawabnya. Makin semangat menaiki tangga, tautan tangan mereka tidak mengendur sedikit pun. Kevin menggenggamnya begitu erat. "Perpustakaan lebih menarik."

"Makanya kamu kelihatan seperti hantu perpustakaan!" Kevin tergelak. "Sebelum lulus, harusnya kamu keliling. Seenggaknya pernah selama tiga tahun di sini." Giliran Citra yang tergelak.

Mereka melewati beberapa siswa yang hendak turun. Ada juga yang mau naik dan duduk di atas undakan tangga. Keduanya tetap lanjut naik, nafas Citra mulai ngos-ngosan. Ada lift, tapi Kevin kampret malah ngajaknaik tangga, biar Citra tau seluk beluk sekolah. Sekolahnya tinggi, sampai lantai lima. Beda lagi sama gedung kelas lain, perpustakaan dan lab. Semua fasilitas lengkap, sehingga sekolah tersebut favorit. Jangan tanyakan biaya yang harus dikeluarkan untuk siswa regular, hanya orang-orang kalangan menengah ke atas yang sanggup.

Citra bukan apa-apa jika tidak ada beasiswa. Jika bukan karena nilai yang tinggi dan mengharumkan nama sekolah sebelumnya, tentu saja dia tidak akan pernah bisa mencicipi bangku sekolah tersebut.

Buat beli seragamnya saja bikin sesak nafas. Hanya ada dijual di koperasi sekolah. Jika ada di luar, sudah dari dulu Citra beli dari luar agar seragamnya bisa ganti-ganti.

"Hn." Citra terkejut. Mereka berhenti melangkah, Citra melihat ada Lolita di depan mereka. Dia bersama dengan teman-teman geng, minus Fuddin. Cowok itu belum sembuh total, tulangnya bergeser dari tempatnya dan hidungnya patah. Fuddin harus operasi hidung agar wajahnya kembali seperti semula.

Pandangan cewek itu menusuk bagai laser tak kasat mata. Citra gemetaran, bergeser pelan ke belakang Kevin, mencari perlindungan dari cowok tersebut.

Citra tidak pernah lagi bertemu dengan mereka. Ini kali pertama setelah penindasan yang mereka lakukan. Kevin melangkah mendekat, Citra takut-takut mengikuti dari belakang. Senyum lebar yang tadi ditunjukkan redup dalam sekejap.

"Lo tau kan gue bisa senekat apa kalau masih berani gangguin tunangan gue?!" Kata Kevin dengan nada rendah. "Si banci itu sebagai peringatan!" Cowok itu menatap tajam Lolita. "Seujung rambut lo nyentuh dia lagi, habis lo di tangan gue!" Ancamnya sadis.

Teman-teman Lolita bergidik ngeri. Mereka memucat, Kevin jarang bicara sehingga apapun yang di ucapkannya bukan hal main-main belaka. Fuddin buktinya, selama tiga hari tidak sadarkan diri di rumah sakit.

EX [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang