Manfaat Penderitaan (I)

4 0 0
                                    

Apa pun sebab dan jenis penderitaan yang kita alami pasti akan bermanfaat jika kita menyerahkan itu semua ke dalam tangan Tuhan. Ovid berkata, "Pikullah segala penderitaan dengan penuh ibadah kepada Tuhan; penderitaan itu mungkin pada saatnya akan menguntungkan Anda."

Seorang rohaniawan pernah mengalami masa-masa sulit dalam pelayanan. Kesulitan itu lebih banyak karena disalahpahami oleh orang dan orang tersebut membentuk opini di kalangan lebih banyak orang. Rohaniawan itu menyadari bahwa opini tersebut juga bisa jadi tidak terlepas dari peran dan kesalahannya. Namun, keadaan bertambah semakin sulit karena apa pun yang dilakukannya hampir selalu dipandang negatif. Ia berdoa, namun tampaknya Tuhan tidak menjawab doanya.

Setelah memakan waktu yang tidak sedikit, ia memperoleh panggilan Tuhan untuk melayani di ladang misi. Ia tidak senang dengan panggilan itu, namun keadaan yang terjadi menggiring dia untuk akhirnya menjawab panggilan Tuhan. Akhirnya, ia tahu bahwa sesungguhnya Tuhan itu sudah menggerakkan hatinya sejak beberapa waktu sebelum masa-masa penderitaan. Namun, ia lebih mencintai kenyamanan hidup sehingga ia terus menolak panggilan tersebut. Jadi, sebenarnya penderitaan yang ia alami adalah sesuatu yang diizinkan oleh Tuhan agar ia menaati panggilan-Nya. Tuhan mengizinkannya berbuat salah, Tuhan yang mengizinkan orang untuk terus mencurigai dan memandang secara negatif. Semua itu untuk mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu, kita harusnya memiliki keyakinan bahwa ada manfaat di balik setiap penderitaan.

Waktu kecil orang-tua saya suka berkata bahwa ada permata di balik air mata. Permata-permata di balik penderitaan itu antara lain dikemukakan di bawah ini.

PENDERITAAN MEMPERDALAM DAN MEMPERHALUS WATAK KITA

Musa adalah manusia yang paling lembut yang pernah ditulis dalam Alkitab. Kelembutan yang ditampilkannya tidak datang begitu saja. Ketika di tanah Mesir, Musa adalah orang yang cepat bereaksi dan gampang sekali marah. Hal itu tampak ketika ia membunuh tentara Mesir yang menganiaya orang Ibrani. Kemudian Tuhan membawanya ke padang gurun, jauh dari gemerlap kuasa dan kenikmatan seperti ketika ia masih di Mesir. Ia masuk dalam penderitaan sekaligus pendidikan Tuhan di padang gurun selama empat puluh tahun, sampai Tuhan memandang bahwa ia siap untuk menjadi pemimpin dan membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Ia memimpin dengan penuh kesabaran dan kelembutan hati. Penderitaan yang dialami Musa telah membentuk karakter dan wataknya sebagai orang yang siap memimpin bangsa yang tegar tengkuk. Manusia -- seperti Musa ketika masih di Mesir -- suka menghakimi orang dengan keras dan menghukum sesamanya dengan kejam, baik lewat kata-kata yang menyakitkan, fitnah bahkan sampai kekerasan fisik. Namun, penderitaan menolong manusia untuk mengerti cara dan sikap dalam memperlakukan sesama.

Manusia Abadi [SELESAI]Where stories live. Discover now