페이지 5

1.6K 232 16
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

.

.

.

"Menyebalkan!" Kesal Chenle saat dirinya tidak menemukan Jeno di kamar lelaki itu. Sepertinya Jeno sudah berangkat kerja. "Yah, terpaksa keluar rumah deh." Dumelnya. Kemudian ia melangkah meninggalkan rumah.

Selama di perjalanan, tidak ada satu orang pun yang menyadari keberadaan Chenle. Padahal tangan Chenle sering iseng seperti menusuk hidung anak muda yang tengah merokok, memukul pantat lelaki yang tengah bermesraan dengan kekasihnya, bahkan menerbangkan uang seorang pencuri pedagang di pinggir jalan. Efek atas perbuatan Chenle ialah wajah pucat dari para korbannya. Alih-alih merasa puas karena berhasil membuat korbannya ketakutan, itu semua justru membuat Chenle bosan.

"Yak! Mana uangnya??"

Langkah Chenle terhenti begitu mendengar suara dari lorong jalan yang baru saja ia lewati. Dengan hati-hati, ia mengintip agar tidak ketahuan. Walaupun ia tahu hal itu sia-sia karena dirinya memang tidak terlihat.

Kedua bola mata Chenle membulat melihat dua orang lelaki dengan wajah garang memukuli lelaki berkacamata.

Mereka bertiga memakai seragam sekolah yang sama. Tapi kenapa bisa bertengkar seperti itu?, batin Chenle.

Maklum saja, Chenle belum pernah bersekolah, makanya ia tidak tahu menahu perihal bullying atau sejenisnya.

"To- tolong!"

Deg.

Tubuh Chenle mendadak kaku. Apa ia tidak salah lihat? Lelaki berkacamata itu menatapnya sembari menunjuk ke arahnya dengan sisa tenaga yang ada. Meminta tolong dengan wajah memelas saat kedua temannya mulai mendorong, memukul, bahkan menginjak-injak tubuhnya.

"Minta tolong ke siapa kau? Tidak akan ada yang peduli. Tahu sendiri kan betapa acuhnya masyarakat di negara kita? Hahaha."

"Tentu saja, mereka tidak mau ikut campur karena tidak mau kena masalah tentunya."

Kedua lelaki itu tertawa terbahak-bahak tanpa menghentikan aksi pukulan pada si lelaki berkacamata.

"Tolong, ku mohon tolong aku." Lelaki berkacamata itu mulai tidak berdaya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Chenle segera menghampiri mereka. Dilepasnya ikat pinggang kedua lelaki itu hingga celana seragamnya melorot. Memperlihatkan boxer bergambar kartun favorit mereka.

"Frozen dan Hello Kitty? Apa aku tidak salah lihat?" Ejek Chenle sembari menahan tawanya.

Kedua lelaki itu panik. Wajah mereka berubah pucat. Setelah membenarkan celana mereka kembali, mereka pun lari terbirit-birit meninggalkan Chenle dengan si lelaki berkacamata.

"Tu- tunggu. Kenapa mereka tidak melihatmu?" Tanya lelaki berkacamata itu dengan susah payah.

"Justru yang aneh di sini itu kamu. Kenapa kamu bisa melihatku, eoh?" Tanya Chenle dengan kening berkerut. Untuk pertama kalinya ia berbicara dengan manusia asli selain Lee Jeno dan Lee Mark yang hanya sesosok malaikat maut.

"Ja- jangan-jangan... ka-kamu..." Lelaki itu membenarkan kacamatanya tanpa menghilangkan tatapan takut pada Chenle. Ia bergerak dengan susah payah. Berdiri dan melangkah meninggalkan Chenle. Dengan wajah pucat tentunya.

"Apaan sih? Begitukah caranya berterima kasih?" Kesal Chenle kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

.

.

.

~♡~

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

~♡~

Kalau Haechan berkacamata kaya gini jadi tidak terlihat culunnya masa ಠ◡ಠ

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kalau Haechan berkacamata kaya gini jadi tidak terlihat culunnya masa ಠ◡ಠ

Jakarta, 17 Oktober 2020
Rymin2313

Back To First Love || 잼런 • 지천 [✓]Where stories live. Discover now