Tidak apa berbohong. Aku tidak mau kembali lagi kalau Nana tahu aku mencuri tubuh orang lain. Tidak untuk saat ini.
"Kamu percaya reinkarnasi?"
_____
Status: Completed [Prolog + 37 part + Bonus (5 part) + From author (3 part)]
Rating: PG +15
Main pa...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
.
.
.
Renjun tiba di depan pintu Dream Café. Ia memeriksa jam tangannya, sudah pukul sepuluh kurang dua belas menit rupanya. Sangat terlambat.
Renjun berusaha mengatur nafasnya, ternyata berlari dari apartemennya ke Caféini benar-benar menguras banyak tenaganya. Ia menatap kaca di depannya, merapihkan kemeja biru langitnya yang sedikit berantakan dan rambutnya yang sudah tidak tahu bentuknya.
Setelah semuanya siap, ia masuk ke dalam, mendatangi meja yang terlihat Chenle sedang mengangkat tangannya untuk menarik perhatian Renjun. Di seberang Chenle terdapat dua orang dengan surai gelap yang dipastikan itu Jisung dan bersurai biru muda seperti langit pagi yang kemungkinan bernama Jaemin.
"Maaf aku terlambat." Ucapnya saat duduk di sebelah Chenle, tepat di depan orang bersurai biru muda itu.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Chenle dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku, Chenle-ya. Aku tertidur karena seminggu ini terus bergadang mengerjakan tugas. Aku bahkan sampai berlari ke sini agar tidak terlambat lebih lama karena taksi tak kunjung datang." Cerita Renjun.
Jisung terlihat khawatir saat mendengar cerita Renjun. "Benarkah, Hyung? Lalu Hyung sudah memesan minuman?"
Renjun menggeleng pelang. Lalu pandangannya teralih ke orang yang sedari tadi menatapnya. "A-ah, iya. Namaku Renjun. Huang Renjun." Sapanya sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman manis andalannya. "Sekali lagi maaf atas keterlambatan ku." Wajahnya berubah, terlihat adanya penyesalan atas keterlambatannya.
Pria itu menatap tangan Renjun, lalu menyambutnya dan tersenyum cerah, bahkan matahari milik Haechan kalah dengan senyumnya. "Aku Jaemin. Na Jaemin. Dan aku lebih suka kamu panggil aku Nana."
Nana? Kenapa panggilan itu rasanya akrab sekali?
"Baiklah, aku pergi memesan minuman dulu, ya." Renjun berdiri dan mulai melangkah menuju kasir dan kakinya baru terasa sakit akibat jatuh dari kasur dan berlari dari apartemen ke Café hingga menyebabkan langkahnya sedikit pincang.
Jaemin yang menyadari pergerakan Renjun yang terlihat sedikit pincang pun berdiri dan menarik lengan Renjun pelan untuk menghentikan langkahnya. "Duduklah, biar aku yang memesankan untukmu. Kamu mau beli apa?"
Renjun terlihat ragu, "Bolehkah?"
Jaemin mengangguk mantap.
"Baiklah, aku mau Jasmine Tea dan Beef Sandwich. Maaf merepotkan mu."
Jaemin menganggukkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya yang tak kunjung memudar. Ia membantu Renjun kembali ke tempat duduknya, lalu berjalan ke kasir untuk memesan pesanan Renjun.