10. Ketidak sengajaan

375 115 4
                                    

10 Maret 2022

Shalat subuhnya aku rapel ke shalat dzuhur. BERANGKATTT!!

--------------

Di sisi lain, Zhico menghela napas beberapa kali saat bola matanya tak mau terpejam. Kantuknya hilang, ketika wajah menyebalkan milik perempuan itu muncul.

"Dia hantu ya?" Tanya Zhico pada udara di sekelilingnya. Lelaki itu menggeleng. Mengusap wajahnya kasar ketika seluruh ekspresi perempuan itu bergantian mengisi pikirannya. "Kenapa dia muncul di mana pun?"

Zhico meraih ponselnya, pukul setengah satu malam. Lelaki itu bangkit dari tidurnya, ia akan mengusir bosan dengan melihat beberapa pesan whats app yang belum sempat ia baca. Jempol besar miliknya memencet pesan group dengan nama 'TETAP HIDUP BESTIE'. Group yang berisi Zhico, Geo dan Abizar.

Nama Group yang mereka setujui setelah berbagai macam ketidak setujuan karena dua dari tiga mahluknya memiliki pemikiran absurd. Tidak lebih dari dua bulan namanya pasti akan berubah kembali.

[Abizar: Garcep buka share lock! Gue terkeponggg!]

[Geonino: ah, tar prank taunya lo di kepung tante-tante]

[Abizar: Serah, lo kalo gak percaya siap-siap besok jadi saksi kematian gue!]

Beberapa jam kemudian, Abizar mengirim sebuah foto yang membuat Alis Zhico menyatu, lelaki itu mengezoom foto yang memperlihatkan wajah seorang wanita yang sedang tertawa dengan mulut terbuka berisi nasi goreng.

[Abizar: Ada salam dari Sayang, ternyata lo lucu juga Co 🤣🤣🤣]

[Geo: belasan tahun temenan yang tau aib lo duluan masa dia. Gak terima gue!"]

Zhico berdeham, menutup aplikasi whats app dengan perasaan campur aduk. Apakah perempuan aneh itu memberi tahu teman-temannya tentang aibnya?

Umma bahkan tidak tau mengenai Zhico yang kembali mengedot. Kebiasaan buruknya kembali muncul semenjak ia sulit tidur.

Dulu alasan mengapa Zhico masih mengedot padahal ia sudah duduk di bangku SD juga sama, ia sulit tertidur, selalu merasa kesepian dan di sudut hatinya ia merasa Umma dan Ayah terlalu memperhatikan Zalina sehingga melupakan Zhico, dan munculah sifat ingin menarik perhatian Umma dan Ayah.

Di saat perasaan tak puas dalam hidup itu semakin menggerogoti jiwa, Zhico selalu bercermin dan mengingat kembali nikmat-nikmat Tuhan yang terselip di dalam kesedihan, yang kalau ditotalkan kesedihan itu tak sebanding dengan kebahagiaan yang Tuhan beri padanya selama ini.

Sehingga perasaan mengeluh tentang hidup pada Allah, sirna, di gantikan dengan perasaan malu, karena sering menjadi hamba yang kufur nikmat, tanpa mau mengoreksi diri sendiri yang cacat iman ini.

Ketukan pelan pada pintu kamarnya membuat mata Zhico terbuka seperempat, dan kembali terpejam dalam hitungan beberapa detik. Sekarang, ia benar-benar terserang kantuk.

"Aa... Kata Umma shalat tahajud terus saur!" Teriak Zalina.

Zhico mengangguk dalam tidurnya. Sepuluh menit lagi, ia akan bangun.

"A, ini umma? Belum bangun?" Cyra mencoba membuka pintu kamar Zhico yang terkunci. Ketukan dan teriakannya sama sekali tak mendapatkan jawaban.

Sepertinya Cyra harus menggunakan cara paling ampuh.

Ya, Ayahnya!

Kan, terbukti tidak perlu menunggu lama setelah sang Ayah menggedor pintu dengan sedikit kalimat teguran, Zhico langsung menyahut dan berjanji akan turun ke bawah kurang lebih lima belas menit lagi setelah shalat tahajud.

ZhicoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang