Chapter 44. Regret

51 3 0
                                    

Satu tahun Jungkook mencari keberadaan Hwa Young, selama itu pula ia tak menemukan sang istri. Yoongi juga pergi begitu saja membawa Jiwoo tanpa pemberitahuan apapun. Jungkook sendiri sekarang, keadaannya semakin hancur seiring berjalannya waktu. Ia semakin kurus, wajahnya kusam dan tirus, rambutnya dibiarkan memanjang. Kentara jelas tak merawat tubuhnya dengan baik. Pekerjaanpun tak sepenuhnya ia lakukan, lebih tepatnya diambil alih Do Hwan sebab dirinya yang tak bisa fokus.

Penyesalan begitu dalam semakin menenggelamkan dirinya dalam keancuran. Hwa Young, istrinya pergi membawa anak mereka bersama. Betapa rasa bersalah melingkupinya setiap hari, semakin gelap menemani harinya, memori saat ia mencerca istrinya begitu kejam masih terngiang jelas dikepalanya. Menemani setiap waktu tidur malamnya dalam alunan ocehan kejam yang mulus ia katakan saat itu bak musik pengantar tidur yang sialnya tak membuat matanya terpejam. Warna hitam serta kantung matanya semakin parah.

Hari ini akhir pekan, entah sudah berapa akhir pekan yang ia lewati tanpa kehadiran sang istri dan anak mereka. Seharusnya, anak mereka sudah lahir. Seharusnya, ia yang menemani Hwa Young melahirkan. Seharusnya, mereka sedang berbahagia sekarang. Hanya kata seharusnya yang tak pernah menjadi nyata.

Kata seharusnya yang paling awal ia sesali adalah, seharusnya, ia tak gelap mata mencaci sang istri begitu kejam. Jika malam itu ia tak termakan emosi, mungkin semuanya bisa diselesaikan dengan baik-baik saja. Tapi sekarang terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalannya tak akan membawa sang istri dan anak mereka kembali padanya.

Tangannya terulur menggapai figura dengan foto sang istri disana, saat mereka ada di Jepang. Sengaja memotretnya tanpa diketahui sang istri. Disana Hwa Young tampak cantik tanpa menghadap kamera, membuat seulas senyum ikut menghiasi wajah Jungkook bersama lelehan air mata. Ia selalu seperti ini, jika tidak menyibukkan diri pasti akan seperti ini.

Apalah daya, Do Hwan melarangnya bekerja minggu ini, menyuruhnya istirahat sebab kondisinya yang semakin memprihatinkan. Tak jarang ia ditemukan tak sadarkan diri karena begitu buruknya merawat diri sendiri. Dalam hati ia selalu berharap sang istri akan kembali karena kondisinya yang buruk seperti ini.

Tapi tak mungkin, itu tidak mungkin terjadi, Ia sudah menciptakan luka yang begitu dalam pada Hwa Young, jelas istrinya itu tak akan pernah kembali padanya. Tersisa angan yang semakin buram ditelan abu-abu status mereka yang masih terikat dalam pernikahan.

Sebuah getar ponsel mengusik tangis, sejujurnya, ia enggan sekadar membuka. Namun nama Dokter Kang muncul pada notifikasi singkat dilayar beserta keterangan bahwa lelaki yang lebih tua darinya itu mengirim sebuah foto, membuatnya penasaran. Pasalnya, Dokter Kang selama ini menjauhinya, menepati ucapannya sewaktu dulu mereka berbicang dirumah sakit. Dokter Kang menjadi musuhnya, bukan dalam artian musuh yang sebenarnya, tapi menjauh benar-benar memutus hubungan. Tepat setelah semua terbongkar dan Hwa Young pergi darinya.

Ia membuka pesan itu asal-asalan, dan betapa ia dibuat terkejut kala melihat foto yang dikirim. Adalah seorang bayi disana beserta kalimat mengejutkan. Tidak, bukan bayi sehabis lahir, sudah lebih besar dan rambutnya yang terlihat begitu halus sudah bertumbuh lebat.

From: Dokter Kang [07.12 am.]

[Send a photo]

Jeon Jihoo, anakmu. Umurnya sudah delapan bulan.

Jungkook menghapus air matanya segera, menjernihkan pengelihatan dari sisa-sisa air yang terpupuk mengaburkan pandangan. Senyum bahagia terlukis begitu saja, tetesan air mata yang dihapus kembali lagi menyapa wajah. Diusapnya foto itu, ini adalah kali pertama ia bisa melihat sang anak meski bukan dalam wujud yang nampak.

Who Are You?Where stories live. Discover now