Chapter 1

5K 348 77
                                        

Krist's POV

Aku kembali menghirup udara tempat ini. Tempat di mana oksigen terasa seperti sianida yang dapat mematikan seketika. Empat tahun rasanya belum cukup untukku berlari dari luka, tapi aku harus kembali demi kebahagiaanmu – di sana. Setelah puluhan kali kauteror aku lewat mimpi, aku tahu kau hanya ingin aku kembali. Kembali ke tempat kita, ke tempat di mana bahagia hanya punya kita. Aku menepati janjiku padamu. Aku berdiri di pusaramu. Berjanji bahwa setelah ini kau hanya boleh menjadi kenangan terindahku. Sudah cukup kepergianmu sebagai alasan kehancuranku. Aku akan membangun kehidupanku menjadi lebih baik. Tolong restui aku di mana pun kau berada sekarang.

Aku membuang napasku perlahan sebagai tanda untuk awal kehidupanku yang baru di sini. Melanjutkan sisa mimpi yang ada, tanpa dirinya lagi.

*****

Di sinilah aku sekarang, tempat di mana kau yang membuatku pergi. Namun lihatlah, kini kau pula yang membawaku untuk menapakinya lagi. Setelah ini kumohon, jangan pernah datang ke mimpiku jika kau hanya menampakan raut wajah begitu sendu. Aku akan berusaha bahagia sekarang dan kuharap kau juga melakukannya di pembaringan keabadianmu.

Akhirnya aku menginjakkan kakiku kembali di halaman rumah kita. Dengan perasaan yang tak mungkin bisa kaupastikan. Arah pandanganku menelusuri bangunan yang sudah lama kutinggalkan. Tentu saja semuanya masih tampak sama, hanya dirimu saja yang kini tak lagi ada.

Kulangkahkan kaki masuk ke beranda bangunan itu. Membuka pintu yang entah mengapa sekarang seakan menjulang tinggi.

"Welcome home, Kit ...." Aku berkata pada diriku sendiri dengan perasaan sendu.

"Aahhhh.... Akhirnya.... Kembali di sini ...," ujarku sambil mencoba tersenyum sembari menatap langit yang biru.

Wangi rumah ini tetap sama bahkan setelah kutinggalkan bertahun-tahun lamanya. Aroma woody bercampur cinnamon sebagai ciri khasmu dan tentu saja favoritku kini.

"Cih.... Apa kau sampai harus memastikan kepulanganku? Wangimu memenuhi rumah kita. Kau mengikutiku, ya? Apa kau sudah puas sekarang? Aku tak akan pernah mengingkari janjiku, Dean. Aku di sini sesuai dengan yang kauinginkan," ucapku ketika memasuki rumah kami.

Tentu saja kami karena rumah ini milikku dan juga Dean, si pria kurang ajar yang begitu kucintai sampai titik akhir. Pria yang bahkan sampai sekarang namanya masih tersimpan rapi di sebagian ruang hatiku yang terkadang membuatku merasa sesak dan tercekik. Anehnya aku masih menikmati prosesnya dan tak tak berniat menghilangkan perasaan itu. Mungkin sampai nanti aku bertemu dengannya lagi di alam sana.

"Hei, Dean, kau pasti menyesalkan karena meninggalkanku begitu cepat. Sekarang aku jauh lebih tampan darimu. Aku sangat yakin di tempatmu saat ini kau pasti sedang meratapi nasib karena tak bisa menemukan kekasih seistimewa aku," kataku sembari memandang foto kami yang terpajang di ruang depan.

Deanku begitu tampan meski tentu saja aku juga tak kalah tampan. Dean adalah mahakarya Tuhan yang membuatku terpesona hingga dasar.

"Aku merindukanmu, sayang, dan sebanyak apa pun kata rindu yang kuucapkan nyatanya rinduku selalu lebih dari itu."

Sekuat tenaga aku bertahan untuk tidak lagi menangis, tetapi aku selalu punya alasan mengeluarkan air mata jika semua itu adalah tentangnya. Karena Dean, aku menangis bahagia. Karena Dean, aku menangis kecewa. Dan karena Dean pula aku menangis sekaligus merasakan duka.

Saat langkah kakiku membawaku lebih jauh ke dalam rumah, kilasan hidup bahagia bersama Dean seketika berputar layaknya sebuah film. Di setiap sudutnya ada aku dan Dean yang penuh tawa, sampai pergerakkanku terhenti di satu sisi di mana dulu kekasihku banyak menghabiskan waktu hingga terkadang lupa jika seorang pianis juga butuh asupan makanan agar tubuhnya tetap prima. Dean dan piano seperti bocah kembar yang sulit sekali dipisahkan.

M E R C U S U A R [END]Where stories live. Discover now