Marwa

6.2K 723 65
                                    

"Aku melihat pengacara Marwa di depan apartemenmu." Ayuni tersenyum sinis. "Kamu ingin membuat skandal?"

Didatangi oleh Ayuni ke kantornya, Garra yang tidak begitu sibuk bisa melayaninya. "Ke mana pacarmu?"

"Pemainan apa yang kamu rencanakan?"

"Aku hanya menginginkan anak-anak." Garra mempersilahkan Ayuni duduk, namun tak diindahkan wanita itu.

"Aku ibunya, adalah hal yang pantas untuk mengasuh mereka."

"Kamu bisa mengasuh gelandangan yang dibuang Adiwilaga." tidak peduli raut kesal Ayuni, Garra melanjutkan. "Kamu akan menerima suratnya. Tunggu saja di rumah."

"Kenapa harus pengacara Marwa?"

"Aku belajar darimu." senyum Garra terbit. "Kamu tidak akan berurusan dengan orang tidak penting." dan kini Ayuni sedang menerima karmanya, memilih laki-laki itu dan meninggalkan Garra adalah kesalahan besar. Kekasih Ayuni tak lebih dari upil dan kini tidak lagi menjadi bagian dari Adiwilaga.

"Marwa, dia hebat bukan?"

Seperti kecolongan kartu jitu, Ayuni mengatakan satu hal. "Aku tidak memintamu waspada." tatapan wanita itu tajam. "Karena kamu laki-laki."

"Terimakasih sudah membuatnya curiga dibalik kehilangan jejakmu."

Ayuni tidak menanggapinya. Bisa dilihat jika sekarang Garra terlihat siap berpisah dengannya, dari mana tekad itu berasal Ayuni tidak tahu. Dulu, laki-laki itu selalu merobek kertas gugatan yang sampai ke tangannya.

"Aku tidak tahu, apakah kita akan saling menyerang atau melumpuhkan orang yang sama."

"Tujuan kita tidak sama lagi." Garra memberikan jawaban yang pasti.

"Jaga dirimu."

Garra ingin tertawa. Ayuni salah alamat. Perisai yang tak lagi patut dipertanyakan. Ketika Ayuni mendekat, insting Garra peka. Tepat saat ujung hidung mereka bertemu Gara memalingkan wajah. Apa yang diinginkan Ayuni, dimengerti oleh Garra. Walau tipis, rasa itu masih ada. Namun mulai saat ini Garra memilih logikanya, bahwa yang berlaku selama ini adalah salah.

Ditolak, perasaan wanita tentu hancur. Dulu ia bisa mengendalikan Garra, apa yang dilihatnya hari ini adalah sebuah perubahan yang besar.

Perlukah Ayuni mengatakan jika, "Dia sudah lama tidak menyentuhku." menyesal ketika Ayuni mendengarkan jawaban Garra. "Nikmat bisa kuperoleb dari wanita manapun." Garra mundur satu langkah. "Yang kuinginkan saat ini setia dan ketulusan." karena dari dua hal itu akan membuat seorang bisa menghargai orang lain.

******

Marwa menemukan Garra yang galau. Mental yang meragukan, namun tak diusik. Setelah sidang pertama kemarin sikap Garra cukup membingungkan. Marwa sudah mengatakan jika ingin mandi jangan tanggung-tanggung, nyemplung sekalian.

"Sidang selanjutnya akan menghadirkan saksi. Selain Amel, adakah orang lain?"

Garra tidak menjawab. 

"Kalau anda mau saya bisa membuat hakim mengetuk palu secepatnya."

"Ayuni, psikisnya baik-baik saja?"

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang