Marwa

4.1K 467 16
                                    

Garra mencari informasi lelaki yang dilihatnya beberapa malam lalu bersama Marwa. Laki-laki yang diduga memiliki hubungan dengan pengacaranya. Sedikitnya menganggu, tapi Garra berusaha profesional. Kasus dirinya yang ditangani oleh Marwa telah selesai artinya tidak ada alasan lagi dirinya bertemu dengan Marwa. Kesempatan bertanya diurungkan lelaki itu. Jika ia punya tangan untuk menahan, maka laki-laki bernama Arya Daniswara menggenggam hati sulungnya Marsya Gallio Diraja.

Garra tidak tahu akan sesulit ini bertemu dengan Marwa. Apakah dirinya harus punya kasus agar bisa bertemu wanita itu? Bukan sekali dua menunggu wanita itu di depan apartemen namun saat waktu terus berputar tak ada tanda jejak langkah Marwa di sana.

"Akhir-akhir ini temanmu jarang berkunjung."

"Marwa?" tanya Amel.

Garra mengangguk. "Terakhir kali Mas melihatnya di televisi. Dua minggu lalu kalau tidak salah."

"Mas kangen?"

"Apa?" Garra tersenyum masam. "Mas tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya." iya, selain hubungan klien dan pengacaranya, itu juga telah berakhir.

"Dia baru pulang minggu depan mungkin."

Oh. Garra menahan rasa ingin tahunya. Lebih baik ia tidak bertanya ke mana perginya wanita itu.

"Kamu kenal Arya Daniswara?" Garra tidak yakin, tapi ia tetap bertanya pada adiknya. Ketika Amel mengatakan tidak mengenal laki-laki bernama Arya tersebut Garra mendapat pertanyaan bersambung.

"Adakah hubungan laki-laki bernama Arya itu dengan Marwa?" karena Garra tidak pernah bertanya jauh dari topik yang sedang dibahas.

"Lupakan." Garra meninggalkan adiknya d menuju ke kamar. Selama dua minggu ini Marwa tidak berada di Indonesia, begitu kan? Ke mana wanita itu, berbulan madu dengan suami orang?

Garra punya alasan untuk marah namun ia tidak ingin salah menempatkannya. Menunggu dan melihat, itu yang bisa dilakukannya.

Ciuman lelaki itu masih diingat Garra. Amat disayangkan melihat Marwa terpaku tanpa menghindar.

Pesan formal kembali dibaca Garra. Chat singkat mengenai kasusnya. Hanya itu jejak Marwa yang ada pada dirinya, ia tidak memiliki sesuatu yang khusus yang bisa dikenang bersama wanita itu.

******

Di sebuah kamar hotel,dua orang dewasa sedang mengobrol. Jangan bayangkan suasana syahdu apalagi romantis. Selama hampir sepuluh hari tinggal di hotel yang sama dan menghabiskan waktu bersama. Tepatnya Marwa yang menuruti keinginan laki-laki itu.

"Adakah jaminan surat cerai untuk memilikimu?"

Marwa menggeleng. "Aku sudah menjawabnya." dan waktu semakin menggerus rasa. 

Laki-laki yang menatap penuh cinta padanya, kembali bertanya. "Aku butuh jawabanmu sekarang."

"Kalian tidak mencintai, dan tidak akan bisa berpisah. Kamu tahu itu." 

Tangan Arya menahan gerakan Marwa yang hendak melepaskan gulungan rambutnya. Marwa cantik seperti itu, ah tidak. Wanita itu sangat indah dengan kecantikannya yang sempurna. Gulungan rambut menegaskan aira kuat seorang Marwa. 

"Aku akan berpisah."

"Aku sedang tidak menunggu lagi. Seperti yang kamu lihat, keadaanku tak sama seperti dulu." Marwa masih ingat, setiap hari ia menunggu Arya, laki-laki yang telah beristri namun menciptakan desiran terlarang di antara mereka. Setiap ia butuh Arya datang, memberi cinta namun tidak dengan kepastian, sehingga hari itu setelah bertahun-tahun bermain api Marwa memutuskan kembali ke tanah air menunaikan kewajiban sebagai anak juga prinsipnya.

 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang