Marwa

4.2K 594 42
                                    

Sore ini Garra harus menunggu Marwa di depan apartemen wanita itu. Terhitung dua hari Garra tidak bisa menemui pengacaranya. Ya, kali ini Garra datang karena ada alasan yang tidak jauh dengan kasusnya yang sedang ditangani oleh Marwa. Semenjak menjadi pengacaranya, baru kali ini ia tidak bisa dihubungi.

Di langit, ufuk pasti sudah memerah. Waktu yang banyak disukai orang, tak lain adalah senja. Tidak punya alasan, Garra hanya tidak menyukainya. Terlalu indah biasanya menyakitkan, Garra percaya itu. Hidupnya pernah dikelilingi keindahan, sayangnya semua itu semu.

"Anda menunggu saya?"

"Ke mana saja?" tanya Garra, rasanya lutut sudah kram karena ia berjongkok sejak dari tadi.

"Ada sedikit pekerjaan."

Garra memperhatikan wajah cantik Marwa. "Sampai tidak pulang?"

Marwa tidak menjawab. Pertanyaan itu bersifat pribadi. "Masuk," titah Marwa. Sedang Garra geram melihat tingkah wanita itu. Jadi benar dia tidak pulang?

"Lusa sidang lanjutan. Saya doakan lancar." Marwa tersenyum tipis. Ayuni tidak mempersulit, Marwa suka. "Mau minum apa?"

"Saya tidur dengannya."

Oke. Marwa akan mendengarkan. 

Garra menatap Marwa yang juga sedang menatap ke arahnya. "Malam yang sama setelah menciummu."

"Biar saya tebak, anda yang mulai?"

"Maaf." ada nada bersalah dalam kata maaf itu.

 Marwa tidak ingin menebak lagi. "Pertanyaan terakhir untukmu." karena setelah sidang lusa, terisa satu kali sidang lagi. Setelah itu keputusan final. "Lanjut atau sampai di sini saja. Wartawan selalu menunggu hasil kinerja saya."

"Aku sudah minta maaf."

"Untuk bercinta lagi atau menghentikan semua ini?" tanya Marwa lagi. Tenang sikapnya menggertak fokus Garra.

"Kami belum bicara," jawab Garra

"Sampai di sini saja. Selesaikan secara kekeluargaan."

Garra meneguk ludahnya. "Yang saya pikirkan kamu, malam itu. Tapi Ayuni datang."

"Silahkan diskusi dengan saya sebagai Klien. Kita tidak sedekat itu untuk membahas hal di luar nalar."

Garra mengerti. "Saya akan tetap bercerai."

Marwa menyerahkan berkas lengkap foto yang berhasil di ambil dari CCTV rekaman. "Jelas Ayuni bersalah. Hakim akan mengetuk palu terakhir."

Tugas Marwa akan selesai. "Hak asuh anak akan jatuh ke tangan anda." kini tanpa bertanya lagi, wanita itu mengambil dua kaleng minuman soda.

"Malam ini terakhir kita bertemu." secara pribadi maksud Marwa. "Temui saya di kantor jika ada keperluan." kemudian Marwa mempersilakan Garra minum. 

Profesionalitas Marwa tidak bisa diganggu gugat, Garra mengakuinya. "Dua malam tidak pulang, kamu tidur di mana?"

Marwa menghabiskan satu kaleng minumannya. "Kenapa bertanya hal pribadi?" tak perlu mencari tahu arti tanya lewat mata Garra, jadi Marwa tidak menatapnya. "Saya tidak akan pergi sebelum pekerjaan selesai."

Bersamanya, Marwa bicara dengan formal. Bukan tidak pernah mendengar bagaimana wanita itu bercanda hingga tertawa lepas dengan Amel. Mereka sudah bekerja sama, mustahil kah untuk mengobrol?

"Jika ini malam terakhir, saya minta waktumu."

"Saya banyak pekerjaan," tolak Marwa dengan tegas.

Garra tidak terima begitu saja. "Kamu bisa mengartikan?"

"Saya tidak mengerti maksud anda." karena Garra sudah mengatakan kepentingan juga keputusan untuk melanjutkan sidang, maka Marwa mengusirnya. "Kalau sudah selesai pergilah."

Membuka kancing, Garra menarik lengan bajunya. Marwa pernah tinggal di luar negeri mustahil tidak mengerti maksud kalimatnya. Lagi pula, wanita itu sudah dewasa.

"Kamu belum menjawab." mata Garra menentang manik indah milik sulung Dewangga Linggar. "Jawab mana yang kamu suka."

"Saya tidur di rumah orang tua saya."

Garra tersenyum masam. "Kamu tidak bertanya kenapa saya harus khawatir?"

Menggeleng, Marwa menegaskan sekali lagi. "Bagi saya anda orang lain, jadi saya tidak punya hak menilai sikap anda."

Tidak menuduhnya munafik, Garra hanya ingin memastikan. "Kamu tidak pernah melakukannya, setidaknya berciuman."

Ternyata Garra tidak menyerah. Marwa paham hanya saja ia tidak ingin membicarakan hal pribadi dengan orang lain. Malam di mana Garra mengirimkan pesan meminta maaf karena telah menciumnya, saat itu Marwa sudah membuat praduga. 

"Baiklah kalau anda ingin tahu." Marwa akan mengatakannya. "Saya pernah berciuman dengan seseorang yang saya sukai." sayangnya, itu hubungan terlarang dan kini laki-laki itu datang bertemu dengannya. Dia adalah Arya, sahabat juga seseorang yang berarti dalam hatinya namun Marwa sadar tidak akan pernah bisa bersama Arya.

"Jangan tanyakan arti keterpaksaanmu bercinta dengan Ayuni. Saya tidak berhak memberi argumen." Marwa tidak suka jika ada laki-laki yang meraba rasa melalui pendapatnya apalagi berkaitan langsung dengannya.

"Anda sudah meminta maaf." cara Marwa menyampaikan kata demi kata semakin membuat Garra gelisah.

"Bukan hanya parfummu yang berkelas." Garra ingin mengunci manik Marwa, namun ia gagal. Selain berkelas, pertahanan Marwa juga kokoh. Tak ada kata baper yang bisa meluluhkan pendiriannya. Arya sudah membuktikannya. "Kamu menghindar."

"Jika mau tau kriteria tambatan hati saya, anda bukan apa-apanya." terbukti, Marwa tidak malu saat Garra menciumnya, begitu juga ketika Arya membuatnya lena, gelora Marwa terlalu tinggi.

"Jangan menantang," tegur Garra.

"Jangan permalukan diri anda." cara ini berhasil membuat Garra mundur dan sesuatu yang mendesak berangsur padam. Perjumpamaan yang menjijikkan.

"Di mata laki-laki bernafsu, nenek-nenek juga cantik."

"Saya tidak bernafsu. Pecahkan logikamu, setelah itu lihat isi aslinya."

"Saya tidak se-liar itu."

Garra tersenyum sinis. "Kamu memahami saya."

Marwa sadar, baru saja Garra menjebaknya. Baiklah, mari dengarkan apa kata sulungnya Marsya Gallio Diraja tentang arti bercinta yang dilakukan Garra bersama Ayuni tepat di malam setelah Garra menciumnya.

"Tentang saya sesuatu yang amazing, anda mengakui itu." tanpa senyum saat Marwa mengatakannya. "Klimaks dengan gelora yang anda buat sendiri, memalukan tapi anda berhasil membodohi Ayuni." 

Garra takjub dengan cara Marwa memaparkan bayangan satu malamnya yang melibatkan Marwa dalam geloranya. 

"Anda berhasil terbang. Tapi bukan dengan saya."

Marwa telah selesai. Seperti keinginan Garra bahwa ini malam terakhir. Tapi tidak lama, cukup sampai di sini, karena Marwa ditunggu oleh seseorang.

"Saya ada urusan," kata Marwa dan bangun dari Sofa. "Lusa kita bertemu di pengadilan."

Sebelum benar-benar pergi, Garra menarik Marwa dalam pelukannya. Hanya dengan satu tangan Garra mendekap wanita hebat itu. "Cukup dengarkan, saya tidak akan bertanya artinya." tiga menit, Garra menahan wanita itu dalam dekapannya, setelah itu ia pergi meninggalkan Marwa yang menatap datar punggungnya.

******

Bukan menguntit, Garra hanya ingin tahu pekerjaan apa yang dilakukan malam-malam begini oleh Marwa. Garra sudah menunggu di mobilnya ketika Marwa keluar dari apartemen. 

Pintu mobil yang terparkir di depannya dibuka oleh seorang laki-laki dan Garra harus melihat kenyataan pahit malam ini. 

Genggaman mereka nyata apalagi ciuman di kening Marwa. Pria itu melakukan dengan khidmat. Tampak mereka berbicara sebelum masuk ke mobil.

Itu bukan Dewangga Linggar. Kilau cincin di jari manis pria itu membuat Garra emosi. Seperti apa kriteria tambatan hati Marwa? Apakah seperti laki-laki yang telah beristri itu?


 SAMA AKU AJA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang