🍂Part 7

26.2K 1.9K 106
                                    

°Selamat membaca📖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°Selamat membaca📖°


TERLIHAT seorang gadis keluar dari taman dengan tampilan berantakan. Wajah kusut, auranya tak mengenakkan. Caranya berjalan seperti raga tanpa jiwa, begitu suram.

Gadis itu, Adrea. Setelah mengalami hal-hal buruk ia jadi tak bersemangat. Padahal belum sampai 24 jam didunia novel bah!

Tepat saat ia telah mencapai bibir jalan raya, sebuah bus melintas dihadapannya. Eh! Apa bus? Kedua netra hazel miliknya melebar saat menyadari satu hal.

"Sialan!" Umpatan keluar begitu enteng dari mulut kecilnya. Adrea lantas segera berlari mengejar bus tersebut, berharap salah satu penumpang melihatnya dan memberitahu sang supir agar berhenti untuk menunggunya yang tertinggal.

"Paaaak! Tungguuu saya belum naikk! Paaaak... Woiiii!" Seru Adrea.

Ada salah satu pria yang menoleh kesamping, mungkin terganggu karna teriakan pelengking miliknya. Segera Adrea mengulas senyum lebar memberi kode pada pria itu agar memberitahu sang supir. Namun senyum Adrea langsung luntur ketika pria itu memalingkan wajah, seakan tidak peduli.

"DASAR KEPARAT LO!" Pekik Adrea mengumpati pria itu. Sok cuek banget cibir Adrea dalam hati.

Bus semakin menjauh, hal ini tak memungkinkan Adrea bisa menyusulnya. Nafas tersenggal-senggal, jantung berdetak lebih cepat, capek, panas. Adrea sudah tidak kuat untuk berlari lagi. Memutuskan untuk menyerah saja. Ia menumpukan kedua tangan pada lututnya dengan sorot mata terkunci pada bus yang tampak mengecil.

"Huehhh..."

Tubuh Adrea meluruh kebawah hingga terduduk diatas trotoar. Capek blok!

"Yatuhan, satu-satu kasih sialnya napa jangan banyak-banyak. Hambamu tak sekuat itu." Keluh Adrea mendongak menatap langit putus asa.

Tangannya aktif menyeka keringat yang mulai membanjiri pelipisnya.

"Huwaa..kesel banget jingan!" Umpat Adrea sambil memukul trotoar menyalurkan kekesalannya.
Pengen nangis tapi air matanya gak kunjung keluar. Anjid!

Apakah tidak ada yang bisa ia mintai tolong? Sebenarnya ada gak si yang mau ngejemput? Supir? Abang? Kakak? Ayah? Gak ada satupun yang nongol bangsat!

Gue anak kandungnya apa bukan? Maksudnya Adrea figuran. Parah banget gak dijemput. Mau sampai kapan ia berada disini dengan keputus asaannya? Sampai beomgyu jadi milikku hehe..

Ngomongin tentang keluarga, ia jadi kepikiran bagaimana kehidupan figuran yang tubuhnya ia tempati saat ini. Apa diperlakukan baik? Atau sebaliknya?

Oh gud!

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika keluarga Adrea isdet tau bahwa anaknya sudah me the tong. Atau kasarnya udah mati.

Bermodal informasi yang ia dapat dinovel tidak ada gunanya. Karna didalam novel lebih fokus menyorot kehidupan tokoh utama dan yang penting-penting saja. Karakter seperti Adrea hanya tokoh pendukung dengan tujuan membantu jalan cerita. Ini sangat membebaninya. Sungguh! Semakin dipikirkan semakin bikin pusing.

Male lead AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang