44 - New Plan

219K 11.2K 930
                                    

Alea hanya mengaduk-aduk mie ayam yang ada dihadapannya. Acha hanya melihat jam tangannya. Sepertinya ia buru-buru.

"Le, gue duluan boleh? Ada urusan, penting," pamit Acha. Alea mendengus kesal.

"Mau kemana sih?" tanya Alea merengek.

"Gue ada janji sama orang, Le. Lagian dari tadi lo diem aja sih. Gue duluan ya?" jawab Acha. Alea mengangguk.

"Lo nggak papa sendiri?" Alea mengangguk lagi. Acha tersenyum.

"Cantik deh, jangan lupa bayarin ya." Acha mencubit pipi Alea gemas, Alea mendengus kesal. Ia meletakkan kepalanya diatas tangannya. Ia tak mengerti kenapa semuanya terasa begitu rumit.

Hubungannya dengan Revo saja tidak jelas, bahkan bisa dikatakan sebenarnya mereka tidak mempunyai hubungan spesial. Hanya sebatas senior dan junior di suatu organisasi.

Apakah dia salah dengan Reynand? Apakah dia salah marah dengan Reynand? Mengapa Reynand seakan terlihat tersakiti padahal dengan jelas ia yang dulu mengkhianatinya. Apakah kau juga berfikir, jika Reynand playing victim disini?

Kalo bukan Reynand terus siapa? Batin Alea bingung. Ia bingung apa yang ia rasakan.

"Hei," sapa seseorang lalu duduk didepan meja kantin Alea. Alea mendongakkan kepalanya.

"Boleh duduk?" tanya Revo, iya dia Revo. Alea hanya mengangguk.

"Kenapa lo sekolah?" tanya Alea seraya mengerutkan dahinya.

"Biar pinter, nggak bego kayak lo!" jawab Revo meledek. Alea mendengus.

"Gue serius. Lo masih sakit gitu juga." Alea menatap wajah Revo yang masih lebam.

"Masih sakit?" tanya Alea seraya memegang pipi Revo. Revo menatap Alea gugup, entah mengapa ia menjadi gugup. Ia menatap lekat wajah Alea.

"Hei, masih sakit?" Alea malah menepuk pipi Revo sehingga lelaki itu meringis.

"Ya sakit lah, oon!" sahut Revo.

"Ya lo stress, ditanyain malah bengong." Alea melepaskan tangannya dari pipi Revo.

"Kenapa sih? Kok tumben sendirian? Acha mana?" tanya Revo. Alea mengerutkan dahinya.

"Kok lo kenal Acha?"

"Iya, yang sering bareng lo kan?"

"Iya."

"Ya taulah, gue harus tau siapa aja yang bareng sama lo setiap hari." Revo menatap Alea intens. Alea tertawa.

"Lebay! Emang lo bapak gue?"

"Bapak dari anak-anak lo aja deh," ledek Revo. Alea menimpuk wajah Revo dengan buku yang tadi ia bawa. Revo hanya tertawa.

"Gue serius deh, kenapa lo malah sekolah kalo lo masih sakit?"

"Ya obatnya ada disekolah." Revo menaikkan satu alisnya seraya tersenyum. Entah mengapa jantungnya menjadi berdegup kencang. Alea mengangguk pasrah.

"Gue nggak mau ada orang yang nekat ngapa-ngapain lo, Alea." Alea mengangguk.

"Tadi gue udah ngomong sama Reynand," ujar Alea. Ekspresi wajah Revo berubah, ia menatap Alea serius.

"Ngomong apa?" tanya Revo serius. Alea hanya terdiam.

"Terus dia bilang apa?" tanya Revo lagi. Alea menarik nafas panjang.

"Ya gitu deh." Alea meletakkan kepalanya diatas tangannya yang terlipat.

"Gitu gimana? Nggak jelas lo, bego!" Revo menarik tangan Alea. Alea menatap Revo malas.

The Other Side [Telah Difilmkan & Diterbitkan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang