50 - Jealous?

227K 11.1K 3K
                                    

Alea memandang Revo bingung.

"Lo bilang Kak Reva bakal ada acara sama temen-temennya? Kenapa masih di deket sekolah?" tanya Alea.

"Emang salah? Santai aja," jawab Revo santai. Alea menghela nafas.

"Rev, tapi kan-" ujar Alea terpotong. Dengan cepat Revo memotong ucapan Alea.

"Reva ngerti, Le." Revo menegaskan.

"Ngerti apa?"

"Reva ngerti gue udah anggep lo kayak adik gue sendiri. Apa salahnya seorang kakak anterin adeknya pulang?" tanya Revo. Perkataannya seakan menohok hati Alea, entah jika memang Revo menganggapnya sebagai adiknya. Tetapi memang Alea seharusnya memang hanya menjadi adik Revo di OSIS. Kalian mengerti kan?

Seperti ada pisau yang menusuk palung hatinya. Apa ucapan Revo salah? Mengapa rasanya sakit?

"I-iya."

"Reva percaya sama gue, gue nggak akan ninggalin dia karena lo."

"Dia ngerti, Le. Gue sama lo cuma senior junior, nggak lebih dari itu." Revo makin mempertegas, rasanya Revo seperti sedang meng-klarifikasi.

"Lagi juga, buat apa gue ninggalin Reva? Gue sayang Reva, Le."

"Iya lah, kan lo pacarnya." Alea tertawa miris.

"Iya."

Namun rasanya pisau itu menancap semakin kuat sehingga dadanya terasa semakin sesak, matanya memanas. Entah, apa yang terjadi pada Alea? Alea juga tak mengerti.

"Lo tau nggak? Gue kenal Reva dari kecil, dia baik banget. Lo tau? Setelah Reva balik rasanya hidup gue balik. 2 tahun misah sama dia itu rasanya aneh."

Rasanya hatinya semakin tercabik-cabik.

Gue kenapa? Batin Alea. Matanya terasa sangat panas sekarang.

Alea mungkin tahu rasanya jadi Reva. Saat itu Reynand membuangnya karena Gladys, sahabat dekatnya. Itu sangat sakit rasanya. Bahkan ketika Reynand sudah menganggap bahwa mereka tak saling kenal. Itu lebih sakit. Alea tak mau seperti Gladys, namun mengapa ada yang aneh dengan dirinya? Ada apa dengan perasaannya?

Tak lama, hujan mulai membasahi Kota Jakarta secara mendadak. Hujan deras langsung membasahi begitu saja tanpa memberi aba-aba. Revo menghentikan motornya.

"Lo mau neduh dulu?" tanya Revo seraya melirik kearah Alea yang ada dibelakangnya.

"Nggak usah, udah terlanjur basah," jawab Alea. Revo mengangguk lalu kembali mengegas motornya. Alea terlihat sedikit terkaget sehingga ia spontan memeluk tubuh Revo.

"Maaf." Alea melepaskan pelukannya pada lingkaran pinggang Revo. Revo terkekeh kecil.

"Nggak papa, daripada lo jatoh."

"Kaya sama siapa aja." Revo menarik tangan Alea untuk kembali memeluknya. Ia mengusap tangan Alea lembut.

Rasanya perlakuan Revo kepadanya membuatnya semakin bingung. Apakah ia terlalu terbawa perasaan?

Hujan semakin membasahi, air mata Alea pun menetes begitu saja. Biarkan saja, Revo pun tak akan mendengar dan mengetahui jika ia menangis. Air matanya tersamarkan oleh air hujan. Thats why, Alea sangat menyukai hujan.

Alea memeluk Revo dari belakang, menyenderkan kepalanya di punggung Revo. Ia benar-benar menumpahkan air matanya.

Sebenernya gue kenapa? Kenapa gue harus nangis? Gue sama sekali nggak kehilangan Revo. Buat apa gue nangisin orang yang bahkan nggak pergi dari hidup gue? Buat apa gue nangisin orang yang bukan milik gue? Batin Alea. Ia membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Alea memeluk Revo sangat erat.

The Other Side [Telah Difilmkan & Diterbitkan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang