53 - A Fact of Life

202K 10.4K 209
                                    

Keesokan harinya, Alea harus mengikuti belajar kelompok di rumah Aldi. Sepulang itu, Alea harus memesan ojek online karena ia tak membawa motor. Alea harus menunggu diluar rumah, karena Aldi sekeluarga memiliki acara diluar sehabis ini. Sialnya, belum sempat memesan handphone Alea mati.

Alea menghela napas, ia berjalan menyusuri jalanan ibu kota. Langit sudah memerah, sudah senja tandanya. Entah, hari ini ia tak terlalu menyukai langit senja. Terlalu oranye, membuat matanya sakit. Ia terus menyusuri jalan, ia baru ingat ia pernah kesini. Jalan ini tak jauh dari Rumah Sakit Jiwa dimana Tante Catherine dirawat disini.

Baru saja ia berpikir seperti itu, tiba-tiba matanya membulat kearah seorang perempuan paruh baya dari
Rumah Sakit itu yang tengah berlari hampir ke tengah jalan.

"Tante Catherine?" Alea menyipitkan matanya. Memperjelas siapa yang tengah berlari.

"Tolong! Tolong!" teriak Catherine. Ia berlari seakan tengah dikejar seseorang. Benar saja, pria yang waktu itu bertengkar dengan Revo tengah mengejarnya. Apakah dia bapaknya Revo?

Catherine berlari hampir ke tengah jalan, disana banyak motor dan mobil yang melaju.

"Pergi!"

"Pergi!" tante Catherine terus berteriak. Alea khawatir jika ia akan tertabrak kendaraan bermotor. Alea berjalan cepat menghampiri Catherine.

"Tante Catherine?" Alea menahan lengan Catherine agar wanita itu tidak berlari lagi. Catherine memeluk erat tubuh Alea. Ia menangis dipelukan Alea.

"Putri Cantik," lirih Catherine. Alea mengelus rambut Catherine yang sedikit kusut.

"Putri Cantik aku takut. Dia jahat Putri Cantik, aku takut." Catherine menatap takut Pria yang tengah berdiri didekat mereka.

"Tante nggak usah takut, aku disini." Alea menenangkan.

"Revo dimana?" tanya Catherine.

"Revo masih makan kodok, kodoknya susah dimakan katanya," jawab Alea ngelantur. Catherine tertawa, ia mencubit kecil lengan Alea. Alea ikut tertawa.

"Makan kodoknya sama pangeran ganteng?" tanya Catherine lagi. Alea terdiam, yang dimaksud Pangeran Ganteng adalah Revo. Dimana Revo sekarang? Alea juga tak tahu dimana lelaki itu.

"Putri Cantik?" panggil Catherine. Alea tersadar dari lamunannya.

"Iya, Revo sama dia." Alea terkekeh kecil.

"Makasih ya Putri Cantik udah selalu jagain Revo. Putri Cantik sayang kan sama Revo?" tanya Catherine. Alea terdiam, menyayangi Revo? Sendirian? Untuk apa?

"Iya, aku sayang Revo kok." Alea tersenyum kearah Catherine.

"Nyonya Catherine, minum obat dulu ya?" pinta Suster. Catherine menarik lengan Alea dan memeluknya. Alea tersenyum.

"Aku mau sama Putri Cantik, disini. Kalo ada Putri Cantik dia nggak jahat sama aku." Catherine menatap pria itu.

Sedari tadi Pria itu hanya terdiam menatap Catherine yang langsung bisa tenang karena bertemu Alea.

"Tante istirahat dulu ya? Biar tante cepet sembuh. Nanti aku kesini lagi, ya?" pinta Alea. Catherine menggeleng. Ia memeluk tubuh Alea lagi dan tak mau melepaskannya. Seakan hari ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu Alea.

"Aku nggak mau, Putri Cantik."

"Kalo Tante nggak istirahat, aku marah sama Tante."

"Nanti Putri Cantik ketemu aku tapi sama Pangeran Ganteng ya? Aku kangen dia juga," pinta Catherine. Alea tersenyum seraya mengangguk.

The Other Side [Telah Difilmkan & Diterbitkan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang