Warning!
Lapak bxb, mpreg
Bagi yang tidak suka, bisa menyingkir ^^
➳ Ini kisah tentang Lee Sungchan dan Jung Beomgyu yang bertemu di suatu lomba olahraga mewakili sekolah mereka. Kemiripan wajah keduanya membuat geger satu tempat, benar-benar mirip...
К сожалению, это изображение не соответствует нашим правилам. Чтобы продолжить публикацию, пожалуйста, удалите изображение или загрузите другое.
Seoul, South Korea
Pada pukul 10 pagi, Arthur datang ke kantor, meletakkan beberapa dokumen dalam satu map biru yang ia bawa sedari tadi tepat ke atas meja kerja Mark. Kehadirannya tanpa diundang itu tentu saja membuat lelaki yang lebih tua menaikkan sebelah alis. "Ini data yang kukumpulkan selama ini. Isinya karyawan yang pernah bekerja satu tim dengan Jung Jaehyun 17 tahun lalu," ujar Arthur dengan sengaja mengabaikan tatapan Mark.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Kasus itu," gumam Arthur, raut wajahnya lebih serius dari biasasnya. "biar aku saja yang menyelidikinya. Kau tetaplah fokus dengan perusahaan dan kedua adikmu."
Mendengar itu, Mark memalingkan wajahnya untuk beberapa saat kemudian melipat kedua lengan di depan dada. "Biar kutebak, kau merasa bersalah padaku?" tanyanya penuh selidik. Dan, seperti biasa, Arthur langsung berterus terang.
"Iya."
Sudah ia duga akan begini jadinya. Mark menghela napas lalu mengusap air mukanya yang terlihat pucat dan kelelahan. "Itu bukan salahmu. Itu masalah di antara orangtua kita," katanya memberi pengertian. Namun, itu tidak mempan untuk Arthur pada pendirian yang sudah dibangunnya.
"Tetap saja, semakin diingat, semakin membuatku merasa terbebani. Itu sulit. Setidaknya, membantumu sedikit mengumpulkan bukti bisa membuatku merasa lebih baik." Lelaki Seo yang berdiri di sisi meja pun mendekap kedua lengan di depan dada, mengamati Mark, dengan iris mata yang terlukis rasa cemas. "Dan, kau tidak mungkin bisa membelah diri, kan? Kau harus menjaga Jeno, Beomgyu kemudian membantu Hendery di perusahaan. Bagaimana bisa kau fokus dengan mencari tahu kasus ini? Coba kau lihat wajahmu itu, hampir mirip dengan mayat," cercanya panjang lebar.
Arthur berdecak melihat lelaki di hadapannya hanya diam dengan wajah yang masih datar, kemudian meletakkan sebungkus roti dan sebotol susu stroberi ke atas meja Mark. "Istirahatlah. Temui Haechan dan minta obat padanya. Aku harus pergi sekarang." Merasa tidak ada lagi kepentingan, ia pun berbalik dan hendak pergi.
Sementara Mark memerhatikan botol susu di atas mejanya dan bergumam, "Kau tahu aku tidak minum susu."
"Itu untuk adikmu." Arthur berkata tapi tidak berbalik, hanya mengangkat satu tangannya ke udara sekilas sebagai pengganti ucapan pamit, dan terus berjalan keluar dari perusahaan dengan langkah yang lebar. Begitu menginjakkan kaki di luar, Arthur memasang handsfreebluetooth di telinga kanannya. Panggilan pun tersambung pada Lucas.
"Luke, kau dengar?"
"Apa?" balas Lucas dengan malas-malasan.
"Menurutmu, bagaimana cara balas dendam terbaik?" tanya Arthur.
Lucas menggaruk pelipisnya, memikirkan sebuah jawaban yang tepat begitu mengetahui kalau Arthur sedang tidak bisa diajak bercanda seperti biasanya. Anak itu terdengar sangat serius memikirkan sesuatu. Selang beberapa detik, ia pun menjawab dengan seadanya. "Hm, aku pikir dengan menyakiti perasaannya. Hancurkan dia dari dalam."